DeeLa Nadhilah:Hari ini terhitung cerah, melihat bagaimana sinar matahari meraja lela menyelimuti pelosok dunia dengan cahayanya yang mulai bandel: terik, panas, dan menyengat. Seperti di tusuk-tusuk dengan jarum sampai masuk kedalam pori-pori kulit dan seakan mampu menelanjangi sel-sel kulit yang semakin lama semakin mengelupas, memprotes untuk segera melindungi dirinya dari sinar sang raja cahaya. Tetsu menggerutu, dengan berat hati dia melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju pohon rindang di tengah-tengah taman kota. Tetapi belum sampai tepat di bawahnya, lelaki jangkung ini mendapati seorang perempuan dengan rambut pirang sedang duduk manis di bawah batang pohon yang kokoh itu, pandangannya menerawang jauh, melamun. Tetsu mendekat, kemudian menyapanya dengan pelan “Hei, boleh aku duduk di sini?”
Usaneko:Siang itu, Nagisa bersandar di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Berteduh dari teriknya sinar matahari bersama dengan poodle coklatnya, Toto-chan. Benaknya merindukan sosok seseorang yang masih ada di hatinya, Naoto. Atensinya teralih saat seorang pemuda jangkung datang menghampirinya. Nagisa terkesiap sesaat mengira Naoto yang menghampirinya. “Si.. silakan…” ujarnya dengan nada gemetar.
DeeLa Nadhilah: Perempuan itu menatapnya, tampak jelas terkesiap dengan kedatangannya. Tetsu mengangguk sopan, dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah perempuan itu meski jaraknya hanya beberapa sentimeter. Melirik sekilas, kemudian mulai basa basi. “Anjingmu lucu”
Usaneko: Dengan gugup Nagisa menatap ke arah pemuda yang kini duduk di sampingnya. Terlalu dekat bagi Nagisa sehingga gadis itu perlahan menggeser duduknya sedikit lebih jauh dari pemuda itu. Gadis itu menggendong Toto-chan dan meletakkannya pada tanah kosong yang menjadi jarak antara dirinya dan si pemuda. Matanya tak berani diarahkan pada si pemuda yang memuji Toto-chan. Sambil mengelus kepala Toto-chan yang lembut, Nagisa bergumam, “Arigatou. Ka.. kau suka anjing?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu tersenyum, mengangguk dan menatap anjing kecil itu dengan tatapan lembutnya. “Suka, habisnya lucu… Namanya siapa?
Usaneko: “Toto-chan…” jawab Nagisa lirih. Toto-chan, nama yang diambilnya dari nama yang selalu terukir di hatinya hingga saat ini. Nama dari seseorang yang dua tahun lalu pernah terpaksa dilukainya.
DeeLa Nadhilah: Tetsu menatap perempuan itu yang masih berbicara tanpa menatapnya. Dia tidak di ajarkan sopan santun atau apa sih? Tetapi Tetsu hanya bisa mengangguk, mencoba ikut mengelus Toto-chan sembari berbicara konyol. “Hai Toto-chan, majikanmu ini kenapa? Cemberut terus dari tadi, kan jelek keliatannya…”
Usaneko: Terkejut mendengar sindiran terus terang dari pemuda di sampingnya itu, Nagisa mengangkat kepalanya dan menatap lurus pada sosok di hadapannya itu. “A… aku tidak cemberut, kok,” ujarnya cepat.
DeeLa Nadhilah:Tetsu tersenyum akan reaksi perempuan di depannya itu, sekarnag dia menatap lurus kearahnya, meski masih terlihat gugup dan takut-takut entah karena apa. Kemudian, berlagak tidak mendengar, Tetsu kembali mengelus-elus Toto-chan dan berbicara padanya lagi “Nah Toto-chan, kau dengar itu? Majikan mu bilang dia tidak cemberut, lalu kenapa bibirnya masih di tengkuk ke bawah begitu sih? Masa dia kalah sama matahari sih?”
(officially tell you that the last question from Tetsu is the one that make us OOC)Usaneko: Nagisa mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mulut ternganga menatap pemuda di hadapannya yang berlagak tak mendengar dan malah mengajak Toto-chan bicara lagi. Ketakutannya menguap seketika saat menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini tak mungkin seorang yang jahat yang akan berbuat tak senonoh padanya. Nagisa menggembungkan pipinya dan mendengus, lalu gadis itu mengangkat Toto-chan ke pangkuannya—menepis jemari si pemuda yang masih asyik mengelus Toto-chan. “Memangnya, kau pikir matahari punya bibir?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu mendapati reaksi yang berbeda dari perempuan ini begitu Toto-chan di angkat dan di simpan di pangkuannya, seolah takut anjingnya akan di makan olehnya. Tetsu tersenyum melihat perempuan itu yang sekarnag memang terlihat cemberut dengan pipi menggelembung dan merah merona. “Ada kok, nih lihat” Tetsu mengambil ranting yang tak jauh darinya, dan kemudian mulai menggambar matahari di tanah yang tepat ada di depannya.
Mataharinya Tetsu“Mataharinya tersenyum kan?”
Usaneko: Dengan penasaran, gadis itu memperhatikan si pemuda yang kini menggambar di atas sebidang kecil tanah berpasir di depannya. Spontan gadis itu tertawa sambil menutupi bibirnya dengan sebelah tangan saat melihat apa yang digambar oleh pemuda itu. “Itu sih, matahari dalam khayalanmu.”
DeeLa Nadhilah: Dan gadis itu tertawa anggun begitu melihat gambar yang Tetsu buat dan hal itu membuat lelaki jangkung ini nyengir puas. Tetapi kemudian dia menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan di depan mata gadis itu lalu berujar seolah-olah seperti seorang guru kepada muridnya. “Eit, khayalan apanya? liat dong ini kan matahari juga, ada sinarnya, terus kalau bsa di warna juga warna kuning. Memangnya menurutmu matahari itu seperti apa, hayo?” Tetsu menyerahkan rantingnya, tersenyum jail sekaligus penasaran.
Usaneko: Terkejut karena tiba-tiba disodori ranting yang tadi dipakai pemuda itu untuk menggambar, Nagisa berhenti tertawa. Pemuda itu sepertinya menyuruhnya menggambarkan matahari yang ada dalam bayangannya. Hmm, Nagisa bergumam pelan. Gadis itu tak pandai menggambar apalagi berkhayal. Akhirnya demi memuaskan keinginan sang adam di sampingnya, Nagisa membuat torehan melingkar di atas tanah berpasir membentuk matahari.
Mataharinya Nagisa“Matahari itu seperti itu, tak ada mata apalagi bibir.”
DeeLa Nadhilah:Tetsu memperhatikan gerak tangan sekaligus ranting yang sekarang di pegang gadis itu, kemudian dia melongok melihat gambar perempuan itu dan tersenyum lebar bahkan hampir tertawa. “
Itu sih kue bolu.”
Usaneko: “Nyaahh… benar juga!” pekik Nagisa saat menyadari kebenaran perkataan si pemuda. Gadis itu kembali tertawa, kali ini kedua telapak tangannya menempel di wajahnya menutupi hidung dan mulutnya.
DeeLa Nadhilah: Kenapa perempuan kalau tertawa harus tutup muka seperti itu sih? Tetsu tersenyum mendapati perempuan ini sekarang tidak lagi menekukkan bibirnya ke bawah, dan meski wajahnya tertutup, dia merasa pasti sekarnag wajahnya terlihat manis. “matahari tuh bulat, tuh kayak matanya toto-chan atau tuh kayak bola sepak, bukan muringkel-muringkel (indonesianya apa ya?) begitu…”
Usaneko:“I… itu kan bulat mataharinya,” ujar Nagisa masih tertawa, “aku memang tak pandai menggambar sepertimu.” Cepat-cepat dihapusnya gambar matahari bolu yang digambarnya tadi dengan sapuan telapak tangannya.
DeeLa Nadhilah:“Yah kok di hapus!!” Tetsu mengerjap begitu melihat matahari bolu itu berbaur menjadi satu lagi dengan butiran pasir. “Lagian kok pake tangan kan jadi kotor. Bersihin deh pake ini nih” dengan sigap, lelaki ini mengeluarkan sapu tangannya dan menyerahkan ke gadis itu.
Usaneko: “Habisnya bikin lapar, sih,” ujar gadis itu cepat, “gara-gara kau bilang matahariku seperti kue bolu.” Entah kenapa, aura yang dikeluarkan pemuda di hadapannya ini membuatnya merasa nyaman dan terasa akrab. Membuat gadis itu merasa lebih rileks. Alih-alih menerima sodoran sapu tangan dari pemuda itu, Nagisa mengusapkan telapak tangannya yang berpasir ke pipi sang pemuda. “Gotcha.”
DeeLa Nadhilah:Dan reaksi dari perempuan ini ternyata memang tidak bisa di prediksi, lihat saja sekarang bukannya membersihkan telapak tangannya ke saputangan yang Tetsu berikan malah membersihkan ke pipi nya yang dengan suksesnya menjadi kotor dan sukses pula membuat Tetsu ternganga. “Eh??!! Awas kau..” Tetsu menyeringai jahat, di tempelkannya telapak tangannya ke pasir dan berniat mengusapkannya ke tangan gadis di depannya itu.
Usaneko: “Nyaah… perang pasir dechu~”
DeeLa Nadhilah:“Hahaha, ya udah gak jadi deh, nanti kotor” Tetsu mengelap pipinya dengan kain dari lengan bajunya dan tetap menyodorkan saputangannya. “Bersihkan dulu gih”
Usaneko: Nagisa menatap pemuda di hadapannya dengan heran, kalau Naoto, dia pasti akan langsung membalas Nagisa begitu saja. Pemuda di hadapannya ini malah membatalkan niatnya dan menyodorkan lagi saputangannya. Sambil menggembungkan pipinya dengan mimik sedikit kecewa, diraihnya sapu tangan tersebut dari tangan si pemuda. “A.. arigatou.”
DeeLa Nadhilah: Tetsu tersenyum mendapati sapu tangannya sekarang diambil oleh gadis itu dan belum lama setelahnya—PLOK—dengan tangan kirinya yang bebas dia menempelkan telapak tangannya yang berpasir ke pipi kanan gadis itu, sukses!!
Usaneko:“Nyaaahh…,” pekik Nagisa ketika tiba-tiba pipi kanannya dengan sukses dipeperi pasir oleh si pemuda. Main licik rupanya, eh? Dengan gemas Nagisa menatap ke arah si pemuda, mengerutkan wajah dan menggembungkan pipinya. Awas ya, batin gadis itu. Dengan cepat dimasukkannya kedua telapak tangan ke dalam pasir sehingga seluruh permukaannya diselimuti oleh butiran kecil berwarna krem itu. Lalu sebelum pemuda itu sempat menghindar, Nagisa menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi kanan dan kiri si pemuda. “Double shot!!”
DeeLa Nadhilah: Tetsu tertawa terpingkal-pingkal mendapati sekarang perempuan itu juga sama kotornya dengannya. Tetapi lelaki ini sekarang mendadak bungkam begitu kedua pipinya sekarang menjadi sasaran telak butiran pasir dari tangan perempuan itu. “Ehh??!!” Tetsu terperangah, dan kemudian membalasnya dengan aksi yang sama seperti perempuan itu lakukan–plok. “Yaah!! Double shot!!”
Usaneko:Mata gadis itu membelalak, kini posisi mereka sama-sama saling menempelkan kedua tangan di pipi lawan. Terkejut dengan kejadian yang tak terduga itu, Nagisa beringsut melepaskan tangannya dari pipi sang pemuda–dengan wajah memerah. Gadis itu menunduk, kaget dengan kelakuannya sendiri sambil sesekali melirik ke arah si pemuda. Dan tiba-tiba saja gadis itu tertawa terpingkal-pingkal tanpa sempat menutupi bibirnya.
DeeLa Nadhilah: Canggung? Jelas. Keduanya sekarang menempelkan tangannya di pipi satu sama lain dan sekarang perempuan itu malah menunduk meski terkadang terlihat seperti meliriknya. Tetsu terdiam, suasananya canggung sampai pada akhirnya gadis itu tertawa terbahak-bahak, lepas dan keras. Tetsu menarik bibirnya dan membuat simpul senyuman, entah apa yang harus di tertawakan, yang pasti dia sedikit terkejut dengan reaksi gadis itu. “Hei nanti kotor” ujarnya lembut.
Usaneko:Nagisa tertawa terpingkal-pingkal karena menyadari dirinya terlampau santai pada pemuda asing yang baru dikenalnya. Hal ini tak pernah terjadi bahkan saat perkenalan pertamanya dengan Naoto. Entah kenapa, Nagisa merasa telah lama mengenal pemuda di hadapannya ini. Padahal tahu namanya saja tidak. Butiran-butiran pasir yang menempel di pipi gadis itu perlahan berjatuhan seiring dengan guncangan lembut tubuhnya yang turut tertawa. “Sudah terlanjur kotor.”
DeeLa Nadhilah: Dan yap!! Giliran Tetsu yang tertawa terpingkal-pingkal sekarang, “Dasar bodoh”
Usaneko:“Kau sendiri sudah kotor. Lihat pasir di wajahmu sudah mengotori pakaianmu, tuh,” ujar Nagisa sambil menunjuk ke arah pakaian pemuda di hadapannya. Lelah juga menyebut sosok di hadapannya ini sebagai ‘pemuda’. “Namamu siapa, ngomong-ngomong?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu refleks melihat ke bajunya. Astaga, iya sudah kotor. Gadis itu sekarang bertanya padanya perihal nama, dan Tetsu langsung tersenyum jail menanggapinya. “Tebak dong, aku ini artis J-rock terkenal loh”
Usaneko: “Oh ya? Aku baru saja pulang dari luar negri. Jadi, aku tak mengikuti perkembangan musik Jepang. Berarti kau itu… musisi?” tanya Nagisa penasaran dan mulai tertarik untuk tahu lebih banyak.
DeeLa Nadhilah:“Yah enak ya pulang dari luar negri, mana oleh-olehnya?” Tetsu berkata seenaknya, kemudian cepat-cepat menutup mulutnya, mengganti topik “Bisa di bilang musisi juga sih, kau tau Laruku? Ya namaku ada di situ”
Usaneko:Nagisa terdiam. Memang sih bagi orang yang tak tahu alasan dia dan keluarganya kabur ke luar negri selama dua tahun, hal itu terlihat enak seperti berlibur. Kalau saja pemuda di hadapannya ini tahu apa yang telah terjadi pada dirinya selama di sana.. mungkin dia akan langsung mencabut kata-katanya barusan. “Aku tak bawa oleh-oleh,” ujar Nagisa tersenyum, berusaha mengalihkan pikirannya. Lupakan yang telah berlalu, aku sudah ada di Jepang sekarang, pikir Nagisa. “Hm, Laruku? Tidak, aku tak tahu.” Gadis itu terdiam sesaat, “Jadi, namamu Laruku?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan polos dari perempuan itu, dan tak sadar dia menjabat tangan dia sembari memperkenalkan diri sebagai ‘laruku’ “ahahaha, iya nama saya Laruku, hai kenalkan”
Usaneko:Gadis itu terpana menatap pemuda yang mengaku bernama Laruku itu. Terpesona mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikan apa yang dirasakan Nagisa saat ini. Dia memperkirakan usia Laruku kira-kira sebaya dengannya. Dalam usia belia seperti ini, pemuda di hadapannya sudah berhasil menjadi seorang musisi bahkan mempunyai band rock dengan menggunakan namanya sendiri. Sugee–
“Ah, namaku Nagisa. Tsukihara Nagisa,” ujarnya kemudian.
DeeLa Nadhilah:gadis yang polos. Tetsu masih tertawa meski tak lagi lepas seperti tadi, rasanya jahat sekali ya? “Bohong kok, namaku Tetsu–dan hubungannya dengan laruku, ada personil yang namanya Tetsu juga, begitu…”
“Nagisa? Seperti nama sebuah apa ya itu namanya? peneliti luar angkasa?”
Usaneko:Ha? Jadi namanya bukan Laruku? Nagisa mendengus lalu menatap pemuda di hadapannya yang akhirnya mengaku bernama Tetsu dengan tatapan seperti o_O. Awas kau, ya. Daritadi mengerjai Nagisa terus.
“NASA maksudmu? Ya, ayahku salah satu pendiri organisasi itu.”
DeeLa Nadhilah: Tetsu terpana. Gadis ini anak pendiri NASA? “Waw, pantas namamu terkesan mirip–atau aku yang mendengarnya kurang jelas? “Lalu, kau sedang apa di sini?”
Usaneko:Gadis itu mengernyit. Darimana miripnya Nagisa dengan NASA? Memang sepertinya pemuda bernama Tetsu itu agak-agak aneh. Tapi, tak apa deh. Kerjain aja sekalian, pikir Nagisa. “Aku disini sedang membuat penelitian untuk membantu ayahku.”
DeeLa Nadhilah:Tetsu mengangguk-ngangguk seakan-akan mengerti. kemudian dia bertanya lagi dengan polosnya “membantu apa? Apakah ada hubungannya dengan Toto-chan?” lelaki itu bertanya sembari mengelus-elus toto-chan dengan gemas.
Usaneko:“Toto-chan?” ujar Nagisa bingung lalu tersenyum senang, “Benar. Toto-chan ini sebenarnya makhluk dari Planet Tobi-Tobi-Tobira! Rahasia, ya. Jangan bilang siapa-siapa. Toto-chan ingin mengetahui kehidupan di bumi untuk karya tulisnya di sekolah Tobi-Tobi-Tobira.”
DeeLa Nadhilah: “Wah Toto-chan!! Kau hebat!! Alien!!” Tetsu menatap anjing coklat itu dengan mata berbinar, dan kemudian menatap Nagisa lagi.” Kau pernah ke tobi—tobi apa? tobira? Ya, kau pernah ke situ? Kau kan ada hubungannya dengan Nasa?”
Usaneko: GUK! Toto-chan menyalak pada Tetsu seolah menjawab pujiannya. Nagisa melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum bangga. “Sudah. Bersama dengan ayahku. Dalam ekspedisi ke planet tersebutlah aku bertemu dengan Toto-chan yang manis ini.”
DeeLa Nadhilah: “Memang tobi–ya itu lah, berada di mananya bumi?” Tetsu tersenyum, matanya menyiratkan tanda tanya besar sekaligus pandangan licik.
Usaneko: “Planet Tobi-Tobi-Tobira berada sekitar 100 juta kilometer jauhnya dari bumi. Planet kecil yang berisi banyak sekali miniatur poodle!! ” ujar Nagisa bersemangat.
DeeLa Nadhilah: “Memangnya kapan kau kesana? Berarti umurmu sekarang berapa? kan keluar angkasa saja perbandingan tahunnya bisa 1 :10…” Tetsu terdiam, menatap Nagisa lekat-lekat. “N-Nagisa, k-kau…??”
Usaneko:“Ah, kau ini. Teknologi tahun 2000 itu canggih lho. Aku kesana menggunakan pakaian yang mampu mengontrol waktu. Makanya usiaku tak berubah sekalipun aku dan ayah melakukan perjalanan sejauh itu.”
DeeLa Nadhilah:“Hebat!! Bisa mengendalikan waktu, berarti nenek-nenek saja bisa jadi muda lagi dong?”
Usaneko: “oh kalau itu sih tak bisa. Jika awalnya sudah keriput, selamanya keriput. Kecuali operasi plastik.”
DeeLa Nadhilah: “Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja membuat yang seperti itu? Terus di tobi– er tori? ya itu lah namanya, ada apa saja? Toto-chan memang bisa tinggal di bumi?”
Usaneko: “Memangnya yang kau lihat sekarang apa? Toto-chan bisa hidup di bumi tentu saja. Teknologi di Tobi-Tobi-Tobira itu jauh lebih hebat dari Bumi. Mereka tidak terpengaruh dengan dimensi waktu.”
DeeLa Nadhilah: “Toto-chan hebat ya” Tetsu mengelus-elus anjing itu dengan gemas. “Lalu kalau kau asyik di Nasa, kenapa kau kemari lagi Nagisa? Memang kau mau bertemu siapa?”
Usaneko: Nagisa terdiam. Ya, dia memang kembali ke Jepang untuk menemui seseorang yang tak pernah bisa dihapus dari hatinya. Meski mungkin dirinya sudah tak ada lagi dalam benak seseorang itu. “Aku… mengemban tugas penting menemani Toto-chan menyelidiki kehidupan di sekolah sihir ini. Dan… tidak berniat menemui siapapun.”
DeeLa Nadhilah: “Toto-chan belajar sihir?”
Usaneko: “Bukan. Yang belajar sihir itu aku. Toto-chan hanya mengamati saja.”
DeeLa Nadhilah: “Ryokubita dong? Di situ juga aku belajar, bersama naoto, hiro, aoi dan naga. Kalau kau masuk situ, ku kenal kan deh “
Usaneko: “Iya di Ryokubita,” ujar gadis itu lalu terdiam saat Tetsu menyebutkan nama teman-temannya. Naoto? Mungkinkah? “Naoto Matsushima?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu menatap Nagisa dengan tatapan yang heran. “Kau kenal?”
Usaneko: Wajah gadis itu memucat dan tiba-tiba saja air mata sudah menggenang di sudut matanya. Gadis itu mengangguk. Jadi, Naoto ada di sekolah sihir yang sama?
DeeLa Nadhilah: Heran bercampur penasaran, Tetsu melongok ke bawah, mencoba mendapati muka perempuan yang sekarang tampak sedih. “Kau kenapa sih? Kenal kenapa? Apa dia pernah ke Tobi-tobi juga?”
Usaneko: Airmatanya mengalir tanpa bisa ditahan. Rindu. Nagisa rindu pada anak laki-laki itu. Dia sangat ingin bertemu dengan Naoto dan menjelaskan semuanya. Naoto pasti bisa mengerti alasannya pergi, kan? “Aku… aku kenal Naoto. Dia… mantanku.”
DeeLa Nadhilah:Tetsu terdiam. Jelas tidak tahu harus menjawab apa, dan bahkan bereaksi seperti apa. Dia hanya bisa menatap Nagisa yang sekarang menangis, menangis meluapkan segala perasaannya. Mulutnya terbuka untuk mengucapkan sepatah kata, tetapi kemudian diurungkannya dan yang terdengar hanya lah ucapan singkat. “Oh…”
Usaneko: “A… apa dia sehat? Dia baik-baik saja?”
DeeLa Nadhilah: Tetsu mengangguk. “Autis malah”
Usaneko: “A… autis? Dia jadi autis?” ujar Nagisa. Pasti gara-gara aku. Dalam bayangan Nagisa, Naoto yang autis menjadi anak super pendiam yang tak mampu bersosialisasi. Tangisnya makin menjadi.
DeeLa Nadhilah: Tetsu tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan gadis itu. “Aduh bukan… dia sehat kok, segar bugar, dan enerjik seperti monyet gunung. Ya makanya ku bilang autis itu maksudnya dia tidak mau diam”
Usaneko: Nagisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis karena kelegaan yang tiba-tiba membuncah dalam hatinya. Naoto baik-baik saja. Karena terakhir dia dengar, Naoto menjalani operasi jantung lagi gara-gara dirinya.
Usaneko: “Kau tidak bohong kan, Tetsu?
DeeLa Nadhilah: Tetsu menggeleng cepat. “Ngapain boong? Makanya ku tanya, memangnya kau pernah jalan-jalan ke tobi-tobi itu bersama naoto? kencan gitu?”
Usaneko:“Ya, kami bertemu di planet Tobi-Tobi-Tobira. Naoto itu adalah Kaisar Planet tersebut, Tetsu!”
DeeLa Nadhilah:
“Jadi naoto itu satu spesies dengan Toto?”
Usaneko:“Iya,” Nagisa mengangguk, “Dia spesies unggulan.”
DeeLa Nadhilah: “Memang di tobi-tobi itu tidak hanya anjing-anjing ya? Monyet juga?” Tetsu berujar.
Usaneko: “e? MOnyet?”
DeeLa Nadhilah: “Kan tadi ku bilang, dia sudah seperti monyet gunung, banyak yang menjuluki dia seperti itu sekarang”
Usaneko: “He…? Dia jadi gila?”
DeeLa Nadhilah: “Tidak, hanya tidak bisa diam”—”autis” Tetsu berbisik pada dirinya sendiri
Usaneko: “Pasti itu gara-gara aku…”
DeeLa Nadhilah: Tetsu mengerinyit. “Gara-gara kau bawa dia ke tobi-tobi?”
Murasaki Hiro-chan: yang kemaren ntu?
DeeLa: iyah akhirnya di post di tch
DeeLa:
DeeLa: panjang amat
DeeLa: baru sadar
Murasaki Hiro-chan: gila dah itu post
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Mananya yang Tetsu kalau bicara sering tergagap-gagap karena ia sangat pemalu?
Murasaki Hiro-chan: *dibantai*
DeeLa: MANANYA YANG NAGISA YANG KATANYA TRAUMA SAMA LAKI-LAKI
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Awalnya bagus
Murasaki Hiro-chan: Lama-lama..
Murasaki Hiro-chan: APA ITU PLANET TOBI-TOBIII?
Murasaki Hiro-chan: GAJEBOOO
DeeLa: GAK TAUUU
Murasaki Hiro-chan: Buset dah
Murasaki Hiro-chan: Penuh anjing pudel
Murasaki Hiro-chan: Nagisa alien
Murasaki Hiro-chan: WOTDE
DeeLa: dan naoto adalah spesiel unggulan katanya
Murasaki Hiro-chan: KAISAR-NYA GITU
DeeLa:

kaisar
Murasaki Hiro-chan: Keren dah keren
Murasaki Hiro-chan: Kalian bertiga bikin pairing dah sana
Murasaki Hiro-chan: Yang OOC tapian
DeeLa: kesian si yuki jadi naoto sekaligus nagisa mah
Murasaki Hiro-chan: Oh iya deng ya
Murasaki Hiro-chan: Ribet mainin plot chara sendiri
DeeLa: betul
DeeLa: si tetsu bisa keren kek gitu ya
DeeLa: matahari aja di bilang bolu
Murasaki Hiro-chan: =_________________=a
Murasaki Hiro-chan: Bolu
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Itu PM-nya pasti sedang laper
Murasaki Hiro-chan: *sodorin kue*
DeeLa: IYA BENER
DeeLa: LAPER PENGEN MAKAN MIE AYAM
DeeLa: WAKTU KEMAREN
DeeLa: SERIUS
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: TERUS KENAPA BOLU?
Murasaki Hiro-chan: KENAPA NGGAK MI AYAM>
Murasaki Hiro-chan: ?
DeeLa: ABISNYA MURINGKEL SPIRAL-SPIRAL GIT
DeeLa: GITU
DeeLa: MASA MIE KEK GITU?
DeeLa: MIE APAAN
Murasaki Hiro-chan: PASTAAAA
Murasaki Hiro-chan: MI AYAM PAKE PASTAAA
DeeLa: ITU NAMANYA SPAGETI BUKAN MIE AYAM
Murasaki Hiro-chan: KASIH KUAH DONG YAAA
Murasaki Hiro-chan: MI AYAM
Murasaki Hiro-chan: SPAGHETTI BERKUAH
DeeLa: GAK ENAK
DeeLa: SAUSNYA NTAR NAEK NAEK GAK JELAS
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: EMANG
Murasaki Hiro-chan: EWWW
Murasaki Hiro-chan: Tapi kan daripada nggak ada
DeeLa: ADA !!
DeeLa: RAMEN
DeeLa: KAN KUAH NOH
Murasaki Hiro-chan: OH IYA RAMEN
DeeLa: tapi belum pernah nyoba
Murasaki Hiro-chan: ENAK LHOOO
Murasaki Hiro-chan: ANGGAP AJA MIE AYAM
DeeLa: GAK BISA DONG, MIE AYAM GAK ADA TANDINGANNYA
Murasaki Hiro-chan: Iya deh iya deh
Murasaki Hiro-chan: ALL HAIL MIE AYAM
Murasaki Hiro-chan: ALL HAIL MIE AYAM-SAMA
DeeLa: EMANG RAMEN ADA AYAMNYA?
Murasaki Hiro-chan: Nggak
Murasaki Hiro-chan: Daging sapi yang saya makan mah
Murasaki Hiro-chan: Tapi kan biasanya pake babi
DeeLa: kalau gitu namanya ramen sekarang ganti
DeeLa: jadi mie sapi
DeeLa: atau mie babi untuk di jpang
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: APA ITU?
Murasaki Hiro-chan: Namanya keren gitu ya, ramen
Murasaki Hiro-chan: Apa itu?
Murasaki Hiro-chan: Mie sapi
Murasaki Hiro-chan: Harga dirinya jatoh
DeeLa: KATANYA PAKE DAGING SAPI
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: JAHHH
Murasaki Hiro-chan: Kasian ramen-nya
Murasaki Hiro-chan: Tapi Cup Ramen kan juga ada
DeeLa: cup ramen enak ga? di sini ada
DeeLa: tapi takutnya itu babi
Murasaki Hiro-chan: Nggak tau
Murasaki Hiro-chan: Saya juga takutnya itu babi
Murasaki Hiro-chan: Paling kayak popmie
DeeLa: MAKANYA RAMEN SEHARUSNYA GANTI NAMA BIAR PADA TAU
DeeLa: MIE SAPI
DeeLa: MIE BABI GITU
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Jaahhh
Murasaki Hiro-chan: Mie Sapi
Murasaki Hiro-chan: Percetakannya kasian
Murasaki Hiro-chan: Ramen cuma 5 huruf
Murasaki Hiro-chan: Mie Sapi ama Mie Babi kan 7
Murasaki Hiro-chan: MAHAL DONG YA
Murasaki Hiro-chan: *apapula*
DeeLa: MAHAL DI NAMA
DeeLa: APA PULA
DeeLa: eh kita ngomongin apaan sih
DeeLa: perasaan tadi ngomongin tch
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Mie gajebo
DeeLa:
Murasaki Hiro-chan: Ramen VS Mie Sapi
Murasaki Hiro-chan: WOD