Welcome Guest [Log In] [Register]

Forum Affiliates

VongolaIndo Gotei13 The Scribble Writer Indonaruto Volens Astrum Indo Salem Logo Aria Academy Andorria Kingdom
Welcome to Coffeehouse. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
Dialog Antarchara; via RoleChat
Topic Started: Apr 15 2009, 10:10 AM (1,267 Views)
Toki
Member Avatar
—Time: The Pride Victor
OoC: Kalau salah tempat, dipindah aja


Dialog antara Laverne-Chevalier


Chevalier D. Janette: "Hei, Laverne. Nampak dingin seperti biasa, eh?"

Laverne Zeev: "Haha, tak penting membicarakan itu." *wajah tetap datar* "Bagaimana kabarmu?"

Chevalier D. Janette: "Hmh. Cool, mate."
Chevalier D. Janette: *membenahi jas yang sedikit lecek di bagian depan*
Chevalier D. Janette: "Jadi, Elle bilang kau ingin bertemu denganku. Ada apa?"

Laverne Zeev: "Duduk dulu, Chevalier. Ini akan memakan waktu lama." *tersenyum tipis, menunjuk kursi di depannya dengan pandangan datar*

Chevalier D. Janette: *duduk seperti apa yang diminta Laverne dengan segera, memandang Laverne dengan tatapan menunggu*

Laverne Zeev: "Kau tahu, aku tidak punya siapa-siapa lagi bahkan koneksi untuk mencari beberapa data yang kubutuhkan."
Laverne Zeev: "Aku ingin meminta tolong kepadamu." *diam sebentar, wajahnya aneh saat mengucapkan kata tolong*
Laverne Zeev: "Joana Leandro. Carikan informasi tentangnya."
Laverne Zeev: *mendorong cangkir teh ke arah Chevalier*
Laverne Zeev: "Minumlah selagi kau berpikir."

Chevalier D. Janette: *alis terangkat, sementara wajahnya serius ketika mendengarkan Laverne*
Chevalier D. Janette: "So..." *mengambil dan meminum seteguk teh yang telah dipersilakan oleh Laverne padanya*
Chevalier D. Janette: "Seorang Laverne Zeev meminta tolong kepadaku... ya?"
Chevalier D. Janette: *memandang Laverne dengan tatapan datar, mulut cangkir masih dekat pada bibirnya, kembali meminum teh barang seteguk*
Chevalier D. Janette: "Joana Leandro kau bilang, eh? Kau sebenarnya memiliki koneksi yang lebih dariku, Laverne. Auror, hm?"

Laverne Zeev: "Calon, Chev. Perjalanan masih panjang dan jujur saja, aku.. pesimis." *menarik nafas berat*
Laverne Zeev: "Kalau kau tidak ingin membantu, bukan masalah bagiku."
Laverne Zeev: *nadanya terdengar dingin*

Chevalier D. Janette: "Wah, sori. Aku lupa bahwa kau hanya setahun lebih tua dariku."
Chevalier D. Janette: *tersenyum timpang agak mengejek sambil meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja*
Chevalier D. Janette: "Memutuskan seenaknya kau, Laverne. Kau dengar aku memberikan kalimat bernada menolak?"
Chevalier D. Janette: *sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan*
Chevalier D. Janette: "Selalu ada pertukaran."
Chevalier D. Janette: *memberikan tatapan kau tahu apa maksudku kepada pemuda dihadapannya*

Laverne Zeev: *tertawa dingin* "Selalu ada pertukaran. Yeah, siapapun tahu itu." *senyum*
Laverne Zeev: "Kau mau aku menukarnya dengan apa?"

Chevalier D. Janette: "Bersandar dengan santai kembali pada kursinya, memberikan tawa kecil yang ringan namun juga tak kalah dingin*
Chevalier D. Janette: "Tak ada untuk saat ini."
Chevalier D. Janette: "Jadi langsung saja, ada petunjuk mengenai dia? Atau tidak sama sekali? Terakhir kali kau melihatnya, ada yang mengganjal?"
Chevalier D. Janette: "Damn, yeah, aku seperti detektif, Lave."

Laverne Zeev: "You did." *menyeringai tipis*
Laverne Zeev: "Seperti yang kau baca di Daily Prophet.."
Laverne Zeev: "...dia dikabarkan menghilang."
Laverne Zeev: "Aku hanya ingin kau mencari tahu mengenai latar belakang keluarga Leandro."
Laverne Zeev: "Ah ya.. dan Keluarga Oakenshield."

Chevalier D. Janette: *tersenyum timpang lagi*
Chevalier D. Janette: "Menghilang, rite. Semoga saja bukan sengaja hilang."
Chevalier D. Janette: "Keluarganya, huh? Tentunya kau tak tahu darimana mereka berasal jika kau memintaku untuk menyelidiki... ya? Cukup sulit."
Chevalier D. Janette: *menatap ke arah pajangan di dinding, berpikir, lalu agak cepat melanjutkan kalimatnya* "Kuusahakan."

Laverne Zeev: "Aku tahu, Chevalier. Keduanya dari Italia." *memotong dengan tampang bete minta ditimpuk setrika*

Chevalier D. Janette: "Dan soal Oakenshield... keluarga yang mengurusmu setelah Joana menghilang?
Chevalier D. Janette: "Tapi bukankah seharusnya kau dulu bertanya kepada si siapa itu--Fenrir?--berhubung dia juga di Hogwarts.
Chevalier D. Janette: "Oh, aku tahu, sori. Kau terlalu berharga diri tinggi untuk bertanya-tanya, rite?"

Laverne Zeev: "Tutup mulut besarmu, bisa? Keduanya dari Italia dan jujur saja, susah bagiku untuk mencari waktu demi menggali informasi tentang mereka."
Laverne Zeev: "Jangan tanya untuk apa."
Laverne Zeev: "Bukan urusanmu." *senyum tipis*

Chevalier D. Janette: "Bukan urusanku, betul sekali. Sayangnya kau telah mengucapkan kata tolong kepadaku, Laverne."
Chevalier D. Janette: *mendengus mengejek*
Chevalier D. Janette: "By the way, mulutku tidak besar, pal. Katakan saja ini seksi, barangkali?"
Chevalier D. Janette: *wajah datar, minum tehnya lagi sampai habis*
Chevalier D. Janette: "Italia... kupastikan aku akan kesana dua-tiga hari lagi. Kebetulan aku juga ada urusan."
Chevalier D. Janette: *sebetulnya agak bertanya-tanya mengapa Oakenshield berasal dari Italia karena namanya tak mencerminkan nama penduduk Italia*
Chevalier D. Janette: "Berarti, selama sisa musim panas ini setidaknya kau harus menjaga Elle. Jangan berharem ria terus dengan wanita-wanitamu."

Laverne Zeev: *rolleyes, mendengus malas mendengar sepupunya bergumam soal 'bibir-seksi'*
Laverne Zeev: "Aku tidak mengerti maksudmu soal.. wanita?" *menyeringai tipis*
Laverne Zeev: "Lakukan saja apa yang kuminta. Elle aman bersamaku."
Laverne Zeev: *berasa jadi penculik*

Chevalier D. Janette: "Meh... Ayolah Laverne, masa harus kujabarkan panjang lebar apa itu wanita? Bodoh kalau kau tak melihat sekitarmu."
Chevalier D. Janette: "Well, tentu saja. Aku akan melakukan seperti apa yang telah kau minta."
Chevalier D. Janette: *membersihkan jasnya di bagian bahu sekilas*
Chevalier D. Janette: "Lalu berhubung kita sudah bertemu, bagaimana soal pelatihanmu itu? Di Kementrian, maksudku."

Laverne Zeev: "Ditunda setahun." *wajahnya agak merah*

Chevalier D. Janette: "Heh?" *mengangkat alis, memberikan raut wajah seakan dia takut salah mendengar*

Laverne Zeev: "..biaya." *memandang ke arah lain, bersikap seakan-akan sedang bicara soal cuaca*

Chevalier D. Janette: "...Oh."
Chevalier D. Janette: *jeda lima detik*
Chevalier D. Janette: "Kalau begitu apa yang kau lakukan selama ini, hm?
Chevalier D. Janette: "Kalau kau mengatakan kau tengah berkerja di suatu tempat, aku tak akan menawarkan soal biaya untuk pelatihan kepadamu." *berucap lugas, tak memberikan pandangan kasihan atau apapun lainnya, hanya duduk sambil menyilangkan kaki*
Chevalier D. Janette: "Kecuali jika kau tak kerja dan terlalu berharga diri untuk meraih kesempatanmu--menerima tawaranku--untuk menjadi anak buah Kementrian."

Laverne Zeev: *tertawa dingin* "..tentu saja aku kerja, Sepupu. Bengkel Bobby Carlton, St. Ely, kalau kau ingin sekedar memberi rezeki lebih kepadaku."
Laverne Zeev: "Dan.. anak buah kementrian?"
Laverne Zeev: "Sori, aku lebih senang berusaha dengan keringatku sendiri." *senyum lagi*

Chevalier D. Janette: "Okelah kalau begitu, Lave." *mendengus agak panjang, santai*
Chevalier D. Janette: "Wait. Kau akan membawa Elle ke bengkel itu, kan? Lingkungannya bagaimana? Aman? Oh ya, kau harus membawa Elle. Lupa bilang kalau orang tua kami pergi ke Bangladesh."

Laverne Zeev: *rolleyes* "Oke. Tak masalah."
Laverne Zeev: "Jadi.. kesepakatan beres, Sepupu?" *mengulurkan tangan, mengajak berjabat*

Chevalier D. Janette: *menjabat tangan Lave*
Chevalier D. Janette: "Deal. Ok."
Chevalier D. Janette: "Selanjutnya aku akan memberimu kabar jika sudah menemukan petunjuk lain. Dan besok aku akan membawa Elle kepadamu. Jangan bilang aku akan kemana, though."

Laverne Zeev: "Keep my words." *senyum dingin*

Chevalier D. Janette: *mengangguk kecil, berdiri* "Taking my leave, then. See you tomorrow?" *melangkah pergi begitu saja*

Laverne Zeev: *tidak membalas, hanya anggukan kecil, kembali bersandar ke kursi, menikmati pemandangan orang2 yg berlalu lalang di depannya*



End of day one



Dialog antara Laverne-Chevalier-Marion

Marion E. Janette: "Laverne!"
Marion E. Janette: *berlari kecil saat memasuki kafe, menuju Lave. Ingin memeluk, namun teringat omongan Lave musim panas lalu*
Marion E. Janette: "Laverne... apa kabar?"

Chevalier D. Janette: "Hei, hei. Elle, jangan berlari begitu."
Chevalier D. Janette: *mengikuti Elle dari belakang*
Chevalier D. Janette: "Siang, Laverne."

Laverne Zeev: "Siang, Elle. Siang, Chev." *senyum lagi, berdiri tegak, mendorong kursi buat Elle duduk*
Laverne Zeev: "Apa kau ingin kugeserkan kursi juga, Chevy?"

Chevalier D. Janette: "You're so mean." *menggeser kursi sendiri dengan tampang agak protes*
Chevalier D. Janette: "Jangan panggil aku begitu, Lavy."

Marion E. Janette: *tertawa kecil, duduk di kursi yang telah digeserkan oleh Laverne*
Marion E. Janette: "Boleh aku memanggil kalian dengan nama-nama itu?"

Laverne Zeev: *memandang Chevalier dengan tatapan datar* "Panggil dia Chevy, tapi jangan panggil aku Lavy, Elle."

Chevalier D. Janette: *mendengus tajam*
Chevalier D. Janette: "Oke deh, Zeevy... terserah apapun yang kau katakan. Pesan minum, Elle?"

Marion E. Janette: *tertawa kecil lagi, kemudian mengangguk pada Chev*
Marion E. Janette: "Oh, Laverne, kau sudah pesan sesuatu?"

Laverne Zeev: "Tidak perlu." *senyum, menutupi kenyataan bahwa duit bulan ini menipis*
Laverne Zeev: "Langsung saja, Elle. Mau pergi denganku? Chevalier akan pergi hari ini, bukan?"

Marion E. Janette: "Oh--oh, ya. Chevalier bilang dia mau pergi. Ke rumah teman, Chev?"
Marion E. Janette: *memandang Chev agak curiga*
Marion E. Janette: "Aku ikut. Chev bilang kalau aku akan bersamamu sepanjang musim panas ini, betul Laverne?"
Marion E. Janette: *senyum senang*

Chevalier D. Janette: *memanggil pelayan, memesan tiga cangkir teh dingin. Kembali menatap mereka berdua*
Chevalier D. Janette: "Seperti itulah, Elle. Apa-apaan tatapanmu itu, hm?" *balas menatap Elle*
Chevalier D. Janette: "Setidaknya kau akan nyaman dengan Laverne. Dibanding Sidney jelek itu."

Laverne Zeev: "Yap, Elle. Bersamaku dan Jesse."
Laverne Zeev: *mengangkat alis*
Laverne Zeev: "Sidney who?"

Chevalier D. Janette: Lagi-lagi wanita. Dan kau bilang kau tak mengerti apa maksudku kemarin, Laverne? Pembual.
Chevalier D. Janette: "Sepupu kami. Wah, aku akan memasukkannya lagi ke St. Mungo kalau dia berani menyentuh Elle. Dulu Elle pernah jatuh ke daerah karang laut yang dekat dengan rumah, itu gara-gara dia."
Chevalier D. Janette: *pelayan datang dan meletakkan tiga cangkir teh dingin di depan masing-masing tamunya*
Chevalier D. Janette: "Kau juga, Elle. Terlalu penurut. Sudah tahu dia hanya iseng padamu ketika menyuruh mengabilkan mainan di sekitar sana tapi kau malah bersedia begitu saja."

Marion E. Janette: *Elle hanya menampakkan raut wajah memerah*

Laverne Zeev: *tertawa* "Tidak akan ada yang menyuruhmu disana, Elle."
Laverne Zeev: *melirik cangkir teh* "Memang aku pesan? Dan kau berangkat kapan, Chev?"

Chevalier D. Janette: "Hari ini, sore nanti. Dan kalau kau tak mau minum itu, mubazir nanti."

Marion E. Janette: "Laverne, siapa itu Jesse?"
Marion E. Janette: *bertanya seraya menarik cangkirnya*

Laverne Zeev: "Aku sudah bilang, aku tidak haus." *menggeser cangkir teh dari hadapannya*
Laverne Zeev: "Jesse... temanku, Elle. Kau akan menyukainya, aku yakin."
Laverne Zeev: "..dan ada paman-paman lucu di sana. Bobby Carlton, mungkin dia bisa mengajarimu mengetuk mobil dengan palu."
Laverne Zeev: *melirik Chev*
Laverne Zeev: "Bercanda." *masih dengan suara datar*

Marion E. Janette: "Aku ingin bertemu dengan Jesse, kalau begitu. Paman lucu yang akan mengajariku memalu...? Seperti apa dia?"
Marion E. Janette: *tertawa kecil setelah selesai menyesap tehnya*

Chevalier D. Janette: *mengangkat alis ketika cangkir Lave digeser oleh Laverne sendiri*
Chevalier D. Janette: "Mubazir---hoi, jika nanti Elle jadi memiliki hobi memalu mobil, kau yang harus disalahkan."
Chevalier D. Janette: "Hmm, soal si Jesse itu, kukira dia pacarmu."

Laverne Zeev: "Pacar, haha." *bukannya menyangkal atau membenarkan, dia justru tertawa samar*
Laverne Zeev: "Yes, Elle? Bobby? Yeah, dia tak lebih tampan dariku. Haha."

Chevalier D. Janette: *mendengus keras ketika mendengar kata tak lebih tampan*
Chevalier D. Janette: "Yeah, pria tua jika disandingkan denganmu tentu kau yang menang, Laverne. Kau lebih muda, lebih bertenaga, lebih dilirik wanita."
Chevalier D. Janette: "Tapi aku masih lebih keren, kok. Ya kan, Elle?"
Chevalier D. Janette: *memberikan tatapan tajam pada Elle*

Marion E. Janette: *hanya tersenyum agak meringis, tak tahu mau merespon mereka berdua bagaimana*
Marion E. Janette: "Erm... Laverne, apa nanti kita bisa jalan-jalan? Di daerah sekitar tempatmu tinggal saja."
Marion E. Janette: *berusaha mengubah topik*

Laverne Zeev: "Jangan, Elle. Bahaya. Itu kawasan Muggle." *memberikan senyum kau-tahu-apa-maksudku, merendahkan suaranya*
Laverne Zeev: "Lagipula Jesse pasti akan menjamumu dengan baik di rumahnya."
Laverne Zeev: "..atau kau bisa melihatku bekerja, membanting tulang, memeras keringat." *merasa bego dengar kata-katanya sendiri*

Marion E. Janette: "Oh? Baiklah kalau begitu."
Marion E. Janette: "Umm, aku akan melihatmu berkerja saja kalau begitu, selama kehadiranku saat kau berkerja tak malah menjadi masalah."
Marion E. Janette: *tersenyum manis*

Chevalier D. Janette: "Oh, Laverne," *menatap keluar jendela, matahari sudah mulai bergeser turun*
Chevalier D. Janette: "Kau urus Elle sekarang, oke? Sedah waktunya untukku kembali dan membereskan semuanya. Elle, jangan ceroboh."
Chevalier D. Janette: *langsung berdiri, membungkuk untuk mencium adiknya di pipi, mengangguk pada Laverne*
Chevalier D. Janette: "Pertemuan singkat, tapi cukup. Kalau kau rindu padaku, jangan lupa untuk mengirimiku surat, Lave." *tertawa kecil*

Laverne Zeev: "Kau yang akan mengirimiku surat terlebih dahulu, Chevy. Kau tahu itu." *tersenyum tapi matanya mengisyaratkan soal 'data-data'*
Laverne Zeev: "Well, ayo pergi, Elle. Kita ke St. Ely. Pernah ber-Apparate, kan?"

Chevalier D. Janette: *mendengus*
Chevalier D. Janette: "Bye, kalau begitu." *keluar dari kafe untuk pergi ke Gringotts lebih dulu*

Marion E. Janette: "Baiklah, Chev. Sampai jumpa."
Marion E. Janette: *menoleh pada Laverne, memberi anggukan kecil padanya*
Marion E. Janette: "Pernah, tentu saja. Tapi sedikit tak menyenangkan ya, rasanya."

Laverne Zeev: *tersenyum, menggandeng tangan Elle, keluar menuju tempat sepi.* "Jangan pejamkan matamu kalau begitu."
Laverne Zeev: TAR!



End of day two
Edited by Toki, Apr 15 2009, 06:17 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Reptilia Ngeongria
Member Avatar
saya bukan kambing
Dialog Terakhir Amable - Raine


Timeline: Kamis Kelabu, Summer tahun 1981, Rumah Sakit St. Mungo

(Ketukan kecil di pintu, suara pintu terbuka. Raine masuk)
Amable Leah Delloray: (Amy mencoba bangkit dari posisinya, Aleron buru-buru membantu kakaknya, namun ditepis)
Amable Leah Delloray: “Ah, Beau?” (suara parau)
Raine Beau: “Biarkan dia kalau dia mau memperpendek hidupnya sendiri, Aleron.”
Raine Beau: (membuka tirai) “Siang, kau sudah baikan?”
Amable Leah Delloray: (mendengus.) “Kau bicara seperti aku orang cacat saja.”
Raine Beau: “Dengan keadaanmu sekarang, kau bukan? Jangan berlagak sehat kalau kau masuk sekolah saja tidak, Amy.” (menyentil dahi Amy)
Amable Leah Delloray:: (menepis sentilan Raine) “Mereka yang memaksaku kesini. aku sudah muak dengan segala ramuan-ramuan ini. tapi apa hasilnya? Tak ada perubahan. Aku masih seperti ini,"
Raine Beau: (mengganti bunga yang sudah layu dengan bunga yang baru dia bawa) (diam)
Amable Leah Delloray: (menatap Raine) (merendahkan suaranya) "Kau tahu kematian akan menjemputku lebih cepat daripada yang mereka bilang."
Aleron Delloray: "Jangan berkata sepetri itu, Amable."
Raine Beau: (menatap Aleron) Bisa kau tinggalkan kami, Aleron?
Amable Leah Delloray: (Aleron menatap Amy ragu, namun akhirnya keluar juga)
Amable Leah Delloray: "Heran bagaimana ia bisa begitu perhatian padaku."
Raine Beau: (memastikan pintu tertutup dan aleron tidak mendengarkan) “Dia kembaranmu. Aku malah akan heran kalau dia tidak perhatian.”
Amable Leah Delloray: (menghela nafas--terbatuk pelan) "Aku telah menyakitinya selama ini." (menunduk diam.)
Amable Leah Delloray: (tersenyum pahit) “Dan aku baru menyadari di penghujung hidupku."
Raine: (terdiam menatap Amy lama)
Amable Leah Delloray:: (meraih segelas air mineral) "Tapi ada yang datang dan pergi, bukan?" (membuat ucapannya seringan mungkin) (menegak minumannya)
Raine Beau: (meraih tangan Amy) “Kau takut bukan? Amy--tatap mataku, kita sudah bersama sekian tahun, jangan kau berani membohongiku. Amy Leah, kau takut?”
Amable Leah Delloray: (menatap raine sekilas) (menatap pintu kayu disudut ruangan) amy: "Selama ini aku begitu takut akan datangnya saat ini." (diam.)
Amable Leah Delloray: (menatap Raine) "Tapi kini rasanya tidak sesulit itu."
Raine Beau: “Bagimu, ini saatnya?” (berbisik)
Raine Beau: “Menurutmu, ini terakhir kalinya?”
Amable Leah Delloray:: (diam sesaat) (tertawa miris.) "Kau terlalu mendramatisir keadaan, Raine."
Amable Leah Delloray: “Jika memang waktunya, tibalah." (diam.) (seakan-akan tertohok dgn kalimatnya sendiri)
Raine Beau: “Tidak ada salahnya kan? Toh hari ini aku sudah memakai baju hitam, terimakasih untuk pembantaian keluarga Le Mods” (berusaha tertawa)
Raine Beau: “...Jangan bercanda.”
Raine Beau: (memetik salah satu bunga petunia di jambangan, memberikannya ke pangkuan Amy) “Kaupikir untuk apa berapa kali seminggu kucarikan kau bunga yang tak mekar pada musim begini untukmu, hah?” (tampak marah)
Raine Beau: (mencabuti bunga-bunga itu, menaruhnya ke pangkuan Amy)
Amable Leah Delloray: (menaikkan alisnya) "Untuk menyaksikan kematianku?" (meraih bunga itu dan memandangnya kosong)
Raine Beau: “You'll be my Maid of Honor someday, you've promised.” (menatap amy getir) “Dan kau akan membawakanku bunga itu. Dan aku tak mau punya MoH berbentuk hantu, terima kasih.”
Amable Leah Delloray: (tertawa lagi) "Tenang saja. Aku akan menyaksikan hari paling bahagia dalam hidupmu."
Amable Leah Delloray: *tunggu*
Amable Leah Delloray: (mendesah) "Dari atas sana."
Amable Leah Delloray: (mendengus pelan) "Aku bicara selayaknya Allegra."
Raine Beau: “Bahagia? Kau bercanda? (mendengus) Kau tahu betul saat itu, aku pasti akan dinikahkan dengan kakek-kakek bau tanah sebagai istri keempat, demi uang dan—“
Raine Beau: (terdiam)
Raine Beau: Kau adiknya. “Tuhan sedang menghukummu, mungkin.” (tersenyum miris)
Raine Beau: *fyi: Raine tidak percaya adanya Tuhan*
Amable Leah Delloray: (mendengus *lagi*) "Apa melankolia menyerang tiap umat manusia di penghujung hidupnya, eh?"
Raine Beau: “Kalau ini ujung hidupmu, dan ini terakhir kalinya kita bertemu, apa yang akan kau katakan padaku, Amy? Katakan pada Caleb kau mencintainya, mungkin?” (tertawa, dengan maksud berusaha membuat amy ikut tertawa)
Amable Leah Delloray: (tersenyum samar) "Ah, Caleb Newbie.." (diam.)
Amable Leah Delloray: (menatap pintu dgn pandangan nanar)
Raine Beau: What of him?
Amable Leah Delloray: "Kau masih menyebut namanya setelah sekian lama, eh? Kau tahu aku tak mencinta." (menatap lurus tanpa ekspresi)
Amable Leah Delloray: “Atau itu yang mereka katakan padaku."
Raine Beau: “Kau manusia, sayang. Mereka bilang orang-orang sepertiku setan, tapi toh aku juga manusia. Kau dengar gosip-gosip mengerikan siswi angkatan atas tentang kita kan? Toh kita tahu hal-hal tersebut tidak benar.”
Raine Beau: (berjalan ke arah kelambu) “Kau tahu, Amy? Ada saat-saatnya orang seperti kita—“
Amable Leah Delloray: (diam.) (Amy mematung)
Amable Leah Delloray:: (memegangi dadanya) (ekspresi menahan sakit namun berusaha tak mengeluarkan suara)
Raine Beau: “Amy?” (syok sebentar)
Raine Beau: (menjerit) “MON DIEU, AMY!” (memencet bel pemanggil healer, berbalik badan hendak memanggil Aleron)
Amable Leah Delloray: (detak jantung tak terkontrol, airmata keluar sendirinya dari balik pelupuk matanya.) (bersuara menahan sakit tanpa sepatah katapun)
Raine Beau: (membanting pintu setelah tidak melihat aleron di mana-mana) (memengang tangan Amy, mengelus rambutnya panik) “Semuanya baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja. Kau sudah janji padaku akan baik-baik saja. Kau mengerti?”
Raine Beau: “For God's sake, Dell, anggukkan kepalamu!” (air mata menetes)
Amable Leah Delloray:: (nafas pendek tersengal-sengal) (masih bisa menggenggam tangan Raine erat) (menangis menahan sakit) "Ra-raine." (mengerang pelan dgn airmata membasahi)
Amable Leah Delloray:: (muntah dengan bercak darah)
Raine Beau: “Amy, kau kuat. Kau orang terkuat yang pernah kutemui, jangan kecewakan aku--DEMI SETAN!” (menangis) (menekan bel berkali-kali)
Amable Leah Delloray:"Terima kasih."

16:21. Tangan Amable yang lemas terselip jatuh dari genggaman Raine, menjuntai dari kasur. Satu menit berikutnya, para healer St. Mungo datang, memberitahukan gadis itu jatuh ke dalam koma. Percakapan terakhir mereka, Amable dan Raine.
Edited by Reptilia Ngeongria, Apr 27 2009, 05:56 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
morcerf
Member Avatar
Purr-Fect
Dialog MUSTAHIL Antara Reno Bloomberg dan Simona Peacocks
Timeline: Musim Panas, Setting: Toko Tongkat Ollivander's tempat RB dan SP kerja magang



Simona Peacoks: *berbicara pada Ollivander* "Serahkan padaku, Sir!" *membereskan tongkat2, mendengar bel berbunyi, senyum cerah* "Welcome to Ollivanders--"
Reno Bloomberg: "Pagi, Mr Ollivande—Simona?"
Simona Peacoks : "...Reno."
Reno Bloomberg : "Kau... Jangan katakan magang juga di sini"
Simona Peacoks : "...Well.. Tampaknya sih begitu."
Simona Peacoks : *meremas celemek* "Tapi aku tidak akan mengganguu so... Yah, sana-sana."
Reno Bloomberg : *menatap heran* "Siapa yang bilang kau mengganggu?"
Simona Peacoks : *berusaha tidak menatap reno* "Yah, itu tebakan saja." *berlalu lama*
Simona Peacoks : "Kenapa... Untuk apa sih kau kerja magang?"
Reno Bloomberg : *mengelus dagu* "Hmm...."
Reno Bloomberg : "Untuk apa ya.."
Simona Peacoks : *ke konter, menunggu konsumen "Kau kaya."
Reno Bloomberg : "Memang"
Simona Peacoks : *mendengus* "Baiknya jatahmu untuk yang lebih perlu." *...macam aku dan asha misalnya*
Reno Bloomberg : "Ambil saja kalau begitu." *mengalihkan pandangan ke rak-rak*
Simona Peacoks : *melirik sekilas* "Bukan itu maksudku.."
sapusapulucu: "Hmm?
Simona Peacoks : *akhirnya berbalik* "Oke, kita tidak mulai dengan baik. Sory, aku hanya heran saja kenapa tuan muda kaya sepertimu kerja magang... seperti tahun lalu."
Reno Bloomberg : "Iseng, anggap saja begitu." *tanpa melihat Simona, sibuk membereskan rak nomor tiga*
Simona Peacoks : *menelan ludah, menggigit bibir.* "Kau... tidak jalan-jalan begitu di musim panas? Misalnya.. Dengan RB satunya?"
Reno Bloomberg : "Bercanda juga ada batasnya, Simona dear." *menyeringai*
Simona Peacoks : *swt serem*
Reno Bloomberg : "Musim panas sudah cukup panas untuk tidak dilewatkan bersama RB dua itu"
Simona Peacoks : "Owh.. Yeah.." *manggut2 ngerti*
Simona Peacoks : "Errr... Yeah, aku lupa kalian jauh lebih tua dariku." *pastinya apa sih yg dilakukan anak umur 16 tahun berdua saja?*
Reno Bloomberg : "Aku tidak membantah, lalu?"
Reno Bloomberg : *merapikan tumpukan terakhir, berjalan menuju meja konter*
Reno Bloomberg : "Memangnya kenapa kalau aku jauh lebih tua darimu?"
Simona Peacoks : *mengerling pada reno* "Aku jadi perlu waktu lebih lama untuk memahami pikiranmu."
Reno Bloomberg : "Hmm...." *menggumam sendiri*
Simona Peacoks : "Yah. Aku tidak mengerti kalian. Orang dewasa. Saling melumat bibir dan mabuk..."
Simona Peacoks : "Apa itu benar-benar enak?" *menerawang, Ollie, ayahnya, malah tambah isap ganja*
Reno Bloomberg : *menatap mata simona*
Simona Peacoks : "Apa?"
Reno Bloomberg : "Aku tidak suka mabuk.”
Reno Bloomberg : "Dan... err... melumat bibir? Kau sudah pernah merasakannya sendiri kan?"
Simona Peacoks : *merah padam, membuang muka* "Hm.."
Reno Bloomberg : "enak, begitu?"
Simona Peacoks : *memutar bola mata* "Yah.... Setidaknya pengalaman pertamaku bukan dengan anak Ravenclaw berkawat gigi."
Simona Peacoks : "Dan kau juga tidak pakai minyak rambut...."
Reno Bloomberg : *mendekati Simona*
Simona Peacoks : *menoleh ke reno* "Tapi mulutmu bau alcohol."
Reno Bloomberg : "Sekarang tidak tuh" *merengkuh bahu Simona*
Reno Bloomberg : *mendekatkan wajah*
Simona Peacoks : *mundur, berusaha menjauhkan Reno*
Simona Peacoks : "Om, om! Siapa namaku?"
Reno Bloomberg : "Simona Peacocks" *meraih leher*
Simona Peacoks : "STOP!"
Reno Bloomberg : "Gryffindor... tahun... kedua"
Simona Peacoks : "Tunggu sebentaaaar!!"
Simona Peacoks : "Oke. Lihat mataku. Dan diam dulu."
Reno Bloomberg : "Hmm?"
Simona Peacoks : "Lakukan saja."
Reno Bloomberg : *menyeringai*
Simona Peacoks : "Oke?"
Simona Peacoks : "Sekarang, tutup mata."
Reno Bloomberg : "Kenapa tutup mata?"
Simona Peacoks : "Lakukan saja."
Reno Bloomberg : "Bukankah begini aku bisa memandangmu lebih dekat?" *tangan kanan di pundak kiri dan tangan kiri di pundak kanan, lewat punggung*
Simona Peacoks : "I-iya, tapi tolong tutup matamu dan jangan monyong-monyong begitu."
Simona Peacoks : "Aku janji tidak akan kabur, oke?"

sapusapulucu: *oot: ini beneran gw cium nih? =)) *
altersign1310: *udah lakuin aja dolo oi =))*


Reno Bloomberg : "Tepatnya, kau tidak bisa," *senyum setan*
Reno Bloomberg : "Kabur..."
Simona Peacoks : "Aku bisa.Tapi aku tidak akan kabur."
Simona Peacoks : "Jadi tutup matamu dan percayalah sekali ini saja."
Reno Bloomberg : "I'm totally sober, right?"
Simona Peacoks : *mengendus* "Yep. Bau odol."
Reno Bloomberg : *tertawa*
Simona Peacoks : "Tutup matamu."
Reno Bloomberg : "Tidak mau." *mengecup bibir Simona pelan*
Simona Peacoks : *mendorong Reno menjauh*
Simona Peacoks : "Itu tidak sopan!"
Reno Bloomberg : "Hmm?"
Simona Peacoks : "Bukan begitu caranya!"
Reno Bloomberg : "Oke, aku tutup mata"
Simona Peacoks : "Dan jangan raba2"
Reno Bloomberg : *tertawa*
Simona Peacoks : "Oke?"
Reno Bloomberg : "Yeah..."
Simona Peacoks : "Oke. Sabar sedikit."
Simona Peacoks : *menarik kursi kecil untuk mendaki rak tinggi ke depan Reno*
Simona Peacoks : *naik kursi itu sampai dirinya lebih tinggi dari Reno, menarik nafas, lalu mengecup dahi Reno."
Simona Peacoks : "Itu baru bagaimana kau mencium gadis dua belas tahun. Om Reno." *nyengir*
Simona Peacoks : "Sekarang kau boleh buka mata" *melompat turun*
Reno Bloomberg : *membuka mata*
Reno Bloomberg : "My, my,"
Simona Peacoks : "Saling lumat bibir sama Tante Hujan saja..."
Simona Peacoks : "Aku sudah lihat istilahnya di kamus..." *nyengir lebar*
Simona Peacoks : "Namanya... Pe...do..."
Reno Bloomberg : "Cium dahi bukan caraku, dear" *menarik Simona
Simona Peacoks : "Heh?"
Reno Bloomberg : *lumat bibir*
Simona Peacoks : "MMMPPH!??"

altersign1310: oot: buset deh lo sap =))
sapusapulucu: oot: bodo!
sapusapulucu: pokoknya kek di GG deh, ed kalo nyium kek gimana =))


Simona Peacoks : *badan kaku*
Reno Bloomberg : *melepaskan dekapan*
Simona Peacoks : "....Puas?"
Reno Bloomberg : "Seperti katamu, aku jauh lebih tua darimu"
Simona Peacoks : "....."
Reno Bloomberg : "Harusnya kau tahu resikonya, kan?" *menyeringai lagi*

altersign1310: *oot: anjrot gue webe =))*
sapusapulucu: *oot: jiakakakak


Simona Peacoks : "Lalu aku harus bilang terima kasih padamu?"
Simona Peacoks : *menatap sebal*
Reno Bloomberg : "Tidak ada yang minta"
Simona Peacoks : "Tidak ada yang kasih."
Simona Peacoks : "Kau menyebalkan."
Simona Peacoks : *mencibir*
Reno Bloomberg : "Santapan sehari-hari"
Simona Peacoks : "Sama Tante Raine?"
Reno Bloomberg : "Kata 'menyebalkan' itu"
Simona Peacoks : "Oh..."
Reno Bloomberg : "Heh, Raine..."
Simona Peacoks : "Tebakanku benar ya?"
Reno Bloomberg : "Apa maksudmu?"
Simona Peacoks : "Itu. Lumat bibir."
Reno Bloomberg : *diam, tersenyum samar*
Simona Peacoks : "Tuh kan..."
Reno Bloomberg : "terserah kau mau berpendapat apa"
Simona Peacoks : "Oh well. Lou bilang aku tidak akan hamil hanya dengan ciuman."
Simona Peacoks : "Dan kata Lou itu normal. Dia malah sudah sering."
Reno Bloomberg : "Memang tidak, idiot!" *tertawa keras*
Simona Peacoks : *menjulurkan lidah*
Reno Bloomberg : "Memangnya kau tahu hamil itu seperti apa? Jangan bergurau" *masih tertawa*
Simona Peacoks : "....."
Simona Peacoks : "...Err... Jadi membesar seperti Profesor Sprout?"
Reno Bloomberg : "Dalamnya?"
Simona Peacoks : "Bayi?"
Reno Bloomberg : "Lalu?"
Simona Peacoks : "Err... Ya lalu lahir."
Reno Bloomberg : "Lewat apa?"
Simona Peacoks : "........JOROK!"
Reno Bloomberg : *terbahak-bahak*
Simona Peacoks : *memukul2 Reno*
Reno Bloomberg : "Kau tidak mengatakan itu di depan wanita!"
Simona Peacoks : "Hush hush!"
Reno Bloomberg : "Well, yeah, kalau keluarnya lewat situ, berarti di situ itu diapa-apakan"
Simona Peacoks : "...........Apa aku akan ingin tahu lanjutannya?"
Reno Bloomberg : *meletakkan jari telunjuk di bibir Simona*
Simona Peacoks : "Om. Kau mengerikan."

altersign1310: oot: kenapa menjurus ke sini? =)) =)) =))
sapusapulucu: kaga tauuu lo yang mulai =)) =))
altersign1310: gue kan cm mo cium dahiiiiii


Reno Bloomberg : *memiringkan kepala*
Reno Bloomberg : "Pelajaran hidup, Simona dear"
Simona Peacoks : "Hidupku masih panjang, tidak sepertimu."
Simona Peacoks : "Aku tidak buru2 untuk segera tahu hal2 begitu."
Reno Bloomberg : "Tidak tanya."
Simona Peacoks : "......" *terdiam*
Reno Bloomberg : *berbalik*
Simona Peacoks : *rapih2 konter*
Simona Peacoks : "Oi, Reno."
Reno Bloomberg : "Hm?"
Simona Peacoks : "Bukankah kau harus saling suka sebelum saling mencium?"
Reno Bloomberg : "Kata siapa?"
Simona Peacoks : *tidak memedulikan jawaban reno* "Jadi kau cinta sekali dengan Tante Hujan ya?"
Simona Peacoks : "Kau sebut namanya waktu menciumku dulu."
Reno Bloomberg : *terdiam, mencibir*
Simona Peacoks : *nyengir*
Simona Peacoks : "Tepat sasaran eh?"
Reno Bloomberg : "Sayang sekali, bukan cinta."
Simona Peacoks : *jadi sotoy* "Lalu apa?"
Reno Bloomberg : "Katanya kau masih kecil, tak perlu tahu lah masalah orang yang kau sebut om-tante seenak jidatmu"
Simona Peacoks : "Aku akan jadi besar kok. Lagipula kau sudah terlanjur mengajariku berciuman..."
Simona Peacoks : "Jadi sekalian."
Reno Bloomberg : "Memangnya ciuman tanda kau sudah dewasa? Jangan buat aku tertawa"
Simona Peacoks : "Aku sudah mencecap rasa dewasa yang pertama~"
Reno Bloomberg : "Intinya: bukan urusanmu"
Simona Peacoks : "Aku benar." *bersenandung, beres2 rak*
Reno Bloomberg : *menatap Simona dingin*
Reno Bloomberg : "Ckk..."
Simona Peacoks : *cuek bebek* "Hm.. Enak kali ya dicintai orang sepertimu."
Reno Bloomberg : *sambil membereskan rak, masih menatap simona*
Simona Peacoks : "Kau tidak mau tanya kenapa?" *menengok ke arah reno*
Reno Bloomberg : "Kau tidak akan pernah merasakannya, bagaimanapun juga"
Reno Bloomberg : *mengalihkan pandangan menuju rak*
Simona Peacoks : "Aku juga tidak mau. Banyak bebannya."
Reno Bloomberg : "Beban, heh..."
Simona Peacoks : "Tapi kau bahkan masih menyebut nama Tante Hujan waktu mabuk."
Simona Peacoks : "Ayahku juga selalu begitu, walau mabuk, ia suka meracau bahwa ia mencintai ibuku."
Simona Peacoks : *beberes lagi*
Reno Bloomberg : "Jangan samakan aku dengan... Ayahmu"
Reno Bloomberg : *mengerling jijik*
Simona Peacoks : "Beda kok. Kulit ayahku hitam."
Simona Peacoks : "Kulitmu seperti tauge etiolasi."
Reno Bloomberg : *mengibas-ngibas t-shirt seakan bilang 'terserah, terserah'*
Reno Bloomberg : "Ada masalah dengan itu?"
Simona Peacoks : "Apa?"
Reno Bloomberg : "Lupakan."
Simona Peacoks : "Oke."
Reno Bloomberg : *bunyi kotak2 tongkat*

sapusapulucu: oot: panjang juga untuk obrolan geje =))
altersign1310: oot: lo udah cape lom? =))
sapusapulucu: gw sih belom =))
altersign1310: ok lanjooot
sapusapulucu: sipp =))


Simona Peacoks : *berhenti dan menghela nafas*
Simona Peacoks : "Kau sudah bilang pada Tante Hujan kau suka dia?"
Reno Bloomberg : "Kenapa kau begitu ingin tahu? Sudah kubilang bukan urusanmu, oke?"
Simona Peacoks : "Urusanku lah. Ciuman pertamaku kau ambil sambil menyebut namanya."
Reno Bloomberg : "Heh..." *mendengus*
Simona Peacoks : "Untung kau cium aku. Kudengar, ada yang cium cowok lain sambil menyebut nama Raine.."
Reno Bloomberg : "Kalau sudah memangnya kenapa?"
Simona Peacoks : "Kenapa?"
Reno Bloomberg : *mengernyitkan kening*
Simona Peacoks : *menatap reno* "Ya karena aku tidak mau itu jadi percuma. Setidaknya kalai kau jadian dengan si Tante, aku akan merasa lebih baik."
Reno Bloomberg : "Bukannya kau akan merasa jauh lebih baik kalau saat itu kusebut namamu, bukan Raine?
Simona Peacoks : "Yah. Tapi itu tidak bisa diulang kan. Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Lagipula kau memang hobi mencium sih... Jadi aku tidak kaget lagi."
Reno Bloomberg : "Yep, maka hentikan pembicaraan tak berguna ini"
Simona Peacoks : "Hoo tidak guna ya?"
Reno Bloomberg : *mengibaskan tangan*
Reno Bloomberg : "Bagimu berguna, gitu?"
Reno Bloomberg : "Heh..."
Simona Peacoks : "Iya."
Reno Bloomberg : "Apa?
Simona Peacoks : "Well. Setidaknya berarti ciuman itu menjadi batu loncatan... Bagimu untuk mengakui bahwa kau memang suka pada Raine."
Reno Bloomberg : *terdiam sebentar*
Reno Bloomberg : *mengacak rambut*
Simona Peacoks : "Stress ya? Awas rambutmu jadi kribo sepertiku."
Reno Bloomberg : "Well, yeah, katakan saja dengan bahasamu, suka atau apalah"
Simona Peacoks : *mendengarkan*
Reno Bloomberg : "Sudah kubilang.."
Reno Bloomberg : "Dan— ITU BUKAN URUSANMU." *beralih ke rak nomor enam*
Simona Peacoks : "Oooh... Mengerti..." *beralih ke rak nomor lima*
Simona Peacoks : "Dia sudah punya yang lain. Ck. Ck. Turut berduka, Reno."
Reno Bloomberg : *menatap simona, menyeringai*
Simona Peacoks : *menatap reno. muka penuh tanda tanya*
Reno Bloomberg : "Aku tidak suka kalah, kau tahu."
Reno Bloomberg : "Dan memang tidak."
Reno Bloomberg : "Tapi ular memang sulit dikekang, eh?" *menyeringai lagi*
Simona Peacoks : "Singa juga sama saja... Musang juga, gagak juga."
Simona Peacoks : "Kau kalah tahu, tebakanku benar." *nyengir*
Reno Bloomberg : "Oh, begitu?"
Simona Peacoks : "Iya begitu."
Reno Bloomberg : "Hmm..." *menggumam sendiri*
Simona Peacoks : *menerawang.* "Oi Reno."
Reno Bloomberg : "Apa sih?"
Simona Peacoks : "Aku membayangkan jika kau punya anak dengan Tante Hujan...."
Reno Bloomberg : "Jangan dibayangkan."
Simona Peacoks : "I-iya...."
Reno Bloomberg : "Itu mengerikan" *tertawa terbahak-bahak*
Simona Peacoks : *memandang reno, ikut terkikik*
Simona Peacoks : "Kau sering tertawa ya."
Reno Bloomberg : "Mau protes?"
Simona Peacoks : "Tidaaaak tidaaak..."
Simona Peacoks : "Aku lebih suka ini daripada senyum mesummu itu."
Reno Bloomberg : "Tidak tanya tuh"
Simona Peacoks : "Dan kau senyum mesum terus setiap saat di sekitar tante hujan."
Reno Bloomberg : "My, my, Simona dear…"
Reno Bloomberg : "Satu, itu bukan senyum mesum, oke?"
Reno Bloomberg : "Dua, hentikan Raine ini, Tante Hujan itu, capek mendengarnya"
Simona Peacoks : "Oke, Reno dear." *niru senyum mesumnya*
Reno Bloomberg : "Nah itu baru senyum mesum"
Simona Peacoks : "Terima kasih. Aku belajar dari yang paling jago."
Reno Bloomberg : "Heh..." *memiringkan bibir*


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sapu
Member Avatar
Sapu-sapu yang Lucu
Intrik Internal Kerajaan Slytherin

Hierarki:
Der Fuhrer: Kane Dietrich Pavarell
Ratu Neraka: Raine Beau
Raja Setan: Reno Pedrovski Bloomberg
Jenderal Nicolatos: Nicolas Morcerf
Putri Raja: Alexandria D. Lamperouge



Alkisah....

Raja Setan: ”Putriku yang cantik. Dia mau kau, Nicolas.”
Raja Setan: ”Sebagai ayah yg baik, memenuhi keinginan putrinya adalah sebuah kewajiban.”
Raja Setan: ”Jadi, bisakah kau segera putus dengan Vandrea? Dia buatku saja.”

Jenderal Nicolatos: “HEH BRENGSEK.
Jenderal Nicolatos: "Olive dan Wina.... aku sih tidak apa2 melayani mereka sekaligus.”

Raja Setan: *tertawa* ”Anakku mau jadi satu-satu-nya Tidak mau diduakan, dia anak yang manis.”

Jenderal Nicolatos: *bersimpuh* “Tapi baginda... ”
Jenderal Nicolatos: “Saya akan sibuk berperang di garis depan.”
Jenderal Nicolatos: “Tuan Puteri--jika saya meninggal dalam tugas... Tolong pikirkan hal itu juga, Baginda.”

Raja Setan: ”Tidak masalah. Kalau kau mati tinggal cari yang lain”.
Raja Setan: ”Tetapi selama kau masih hidup, dampingi putriku.”

Jenderal Nicolatos: “Tapi....”
Jenderal Nicolatos: ”Wina sudah mengandung anak hamba!”

Raja Setan : ”ABORSI!”

Jenderal Nicolatos: ”WHAT?!”
Jenderal Nicolatos: “BAGINDA! ANDA KEJAM”

Raja Setan: ”Aku Raja Setan, jenderal-ku sayang.”
Raja Setan: ”Bagaimana aku bisa mendapat titel itu jika tidak kejam, hm?”

Jenderal Nicolatos: “SAYA KUDETA NANTI!”

Raja Setan: ”Ratu neraka lebih mengerikan dari aku, asal kau tahu.”
Raja Setan: ”Dia tidak akan tinggal diam, dan jaminan, kau tidak akan tahan!”

Jenderal Nicolatos: “Memang sih”
Jenderal Nicolatos: “Tapi baginda ratu menyayangi saya, ah. Saya tahan kok. Habisnya baginda ratu cantik, saya tidak doyan yang onderdilnya sama, Baginda Raja.”

Raja Setan: ”Nah, maka dari itu, jenderalku yang tampan.”

Jenderal Nicolatos: “Baginda.... anda menyebut saya tampan?”

Raja Setan: ”Tidak lebih tampan dariku, maaf saja.”
Raja Setan: ”Bukankah meminang putriku secara tidak langsung menaikkan tahtamu?”

Jenderal Nicolatos: “Err....”

Raja Setan: “Aku mati muda, Nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “Tapi setidaknya saya punya wanita yg tulus sama saya tidak seperti Anda.”

Raja Setan: “KAU MAU BILANG PUTRIKU TIDAK TULUS?”

Jenderal Nicolatos: “BUKAN BEGITU BAGINDA”
Jenderal Nicolatos: “Tuan putri dan saya sudah bersahabat dari kecil.”

Raja Setan: ”Membuat semua jadi lebih mudah.”

Jenderal Nicolatos: “TAPI SAYA SEREM BESANAN SAMA ANDA”

Raja Setan: “...takut, begitu?”
Raja Setan: ”Ternyata aku salah memilih tangan kanan.”

Jenderal Nicolatos: “Wooooooooooooogh”
Jenderal Nicolatos: “ANDA BILANG SAYA TIDAK KOMPETEN?”

Raja Setan: “YA.”
Raja Setan: ”Alasanmu irasional!"
Raja Setan: “Apa kata 'seram' patut keluar dari jenderal yang seharusnya tidak pengecut. Ckckck.”

Jenderal Nicolatos :”Iyalah... anda suka cuek sama ratu, tapi tiba2 perhatian sama adik hamba.”
Jenderal Nicolatos: “Bagaimana saya tidak seram?”

saat bersama Baginda Ratu
 

Jenderal Nicolatos: “BAGINDA RAJA, ASTAGA.”
Jenderal Nicolatos: “Dia menyuruh saya kawin dengan Olive dan putusin Wina.”
Jenderal Nicolatos: ”Hierarki ini mengerikan.”

Ratu Neraka: ”Aku juga maunya begitu.”
Ratu Neraka: ”Anak kami lebih cantik daripada putri negara tetangga!”

Jenderal Nicolatos: ”Kenapa...”
Jenderal Nicolatos: “BAGINDA RATU!”


Raja Setan: ”Nah!”
Raja Setan: ”RATU JUGA SUDAH BERTITAH.”
Raja Setan: ”Jangan mengalihkan pembicaraan, Nicolas dear.”

Jenderal Nicolatos: “Idih... saya serius.... Baginda suka sama adik saya?”
Jenderal Nicolatos: “Hayoo hayooo…”

Raja Setan: ”Saya bukan biseksual, nikki my dear.”
Raja Setan: “Saya hanya tertarik pada wanita, please?”

Jenderal Nicolatos: “Yadda yadda yadda. Iya deh.”

Raja Setan: “Nah, nah, jenderal, jangan membuatku kecewa.”

Jenderal Nicolatos: “Errr.....”
Jenderal Nicolatos: “Bukankah saya sudah amat berjasa bagi kerajaan?”
Jenderal Nicolatos: “Saya didaulat sendiri oleh Der Fuhrer...”
Jenderal Nicolatos: “Saya memimpin penyerangan sukses ke hufflepuff!”
Jenderal Nicolatos: “Saya memenangkan 8 O buat kerajaan!”
Jenderal Nicolatos: “Boleh dong saya kawin sama siapa aja?”

Raja Setan: “Dan kau memacari seorang hufflepuff, begitu?”

Jenderal Nicolatos: “Weeeell..... “

Raja Setan: “Aku jadi heran…”

Jenderal Nicolatos: “Waktu perang kan saya kesepian.... dan dia selalu ada.....”

Raja Setan: ”Dia bukan tipe orang yang peduli pada kerajaannya, eh?”

Jenderal Nicolatos: “Well habisnya saya menawan sih.”

Raja Setan: ”Apa yang kurang dari anakku, Nicolas? Kesetiaannya kujamin tak terperi.”

Jenderal Nicolatos: “Tuan puteri memang amat setia dan amat menyayangi hamba juga.”
Jenderal Nicolatos: “Tapi kami tumbuh besar seperti kakak adik.”

Raja Setan: “Nah. No longer…” *smirks*

Jenderal Nicolatos: “Yang Mulia... ini pilihan yg amat berat.”

Raja Setan: “C'mon nicolas, aku memberikan apa yang terbaik, putriku sendiri, sebagai tanda kepercayaanku padamu!”

Jenderal Nicolatos: ”Baginda...... ” oTL

Raja Setan: ”Tidak usah tersungkur begitu.”

Jenderal Nicolatos: “BAGINDA!”
Jenderal Nicolatos: “Saya baru dihubungi Tuan Puteri.”
Jenderal Nicolatos: “Ada pengkhianatan.”
Jenderal Nicolatos: “Jenderal Steinegger, pacar lama Tuan Puteri…”

Raja Setan: *mengernyitkan kening*

Jenderal Nicolatos: “DIA BERKHIANAT DENGAN RAKYAT JELATA!”

Raja Setan: “Ravenclaw, maksudmu?”

Jenderal Nicolatos: “Iya.”

Raja Setan: “Yang berisik itu?”

Jenderal Nicolatos: “Benar. yang itu.”

Raja Setan: “Lalu?”

Jenderal Nicolatos: “Kita harus hukum dia dulu dong.”

Raja Setan: ”Dia sudah kuturunkan pangkatnya. Dimutasi.”

Jenderal Nicolatos: ”Lagipula tuan puteri sedang dalam masa berkabung gara2 ini...”
Jenderal Nicolatos: “Jadi apa?”
Jenderal Nicolatos: “Woooooo….”

Raja Setan: “NAH!”
Raja Setan: “Kau hiburlah putriku yg sedang berkabung.”

Jenderal Nicolatos: “Titah anda saya laksanakan.” oTL

Raja Setan: “Aku tahu kau lebih baik dari Steinegger.“
Raja Setan: ”Kau belum jawab pertanyaanku yang paling krusial, nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “I-iya....”
Jenderal Nicolatos: “Yang mana Baginda?”

Raja Setan: ”Aku tidak suka pembicaraan yang bertele-tele.”

Jenderal Nicolatos: ”Oke....”

Raja Setan: ”Pinang putriku, campakkan Vandrea!”

Jenderal Nicolatos: “Saya akan bicarakan ini dulu dengan istri hamba.....” oTL

Raja Setan: “Aku menunggu kabar baik darimu, Nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “Baik, Baginda... Saya pamit mundur.” oTL

Raja Setan: “Tepatnya, aku tidak terima kabar buruk ”

Jenderal Nicolatos: oTL
Jenderal Nicolatos: “B-baik....”

Raja Setan: ”Jangan berkhianat pada negara, Nicolas.”




altersign1310: ANJRIT SEREM
sapusapulucu: =))

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
morcerf
Member Avatar
Purr-Fect
Intrik Kerajaan Slytherin Part II

Ratu Neraka: “Nicolas, sayang, panggilan dia memang sang kaisar kan?” (membicarakan Pavarell)

Jenderal Nicolatos: “Tahta agung..”
Jenderal Nicolatos: “IYA.”
Jenderal Nicolatos: “Aku? Aku putra mahkota?”

Ratu Neraka: “Cuma karena dia terlalu malas menggerakan bokongnya ke negara-negara bawahannya, kita beramal.”
Ratu Neraka: “Raja dan ratu mu ini orang baik, Nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “Duli, Paduka.” oTL

Ratu Neraka: “Kita membantu si kakek fuhrer yang kepayahan.”

Jenderal Nicolatos: “Benar sekali.” *pasang kacamata keren*

Ratu Neraka: “Kau mau jadi putra mahkota, Nicolas?”

Jenderal Nicolatos: “Err… Aku sudah puas jadi jenderal sih, bisa main sepuasnya.”
Jenderal Nicolatos: “Lagipula kalau mau jadi putra mahkota, hamba harus menikahi tuan putri kan?”

Ratu Neraka: “Tergantung.”
Ratu Neraka: “Apapun yang kau pilih, kau tetap harus mengambil putri kami sebagai istri.”
Ratu Neraka: “Oohohohoo

Jenderal Nicolatos: *muka ternganga*
Jenderal Nicolatos: “Tapi hamba mempunyai seorang istri dari Hufflepuff, Baginda!”

Ratu Neraka: “Istri? kapan kalian menikah?”

Jenderal Nicolatos: “Segera.” *muka malu2 merah padam*

Ratu Neraka: “Kau BERANI menikah tanpa restu kami, Nicolas?”

Jenderal Nicolatos: “Baginda!” oTL
Jenderal Nicolatos: “Kami saling mencinta!”

Ratu Neraka: “Cinta, huh!”
Ratu Neraka: “Kalian mau makan pakai cinta?” <<ingat kalimat siggy Raine Beau?

Jenderal Nicolatos: “Well, saya kan bukan politikus... Saya tentara.”

Ratu Neraka: “Apa kurangnya putri kami? Kami bisa memberimu harta tujuh turunan!”
Ratu Neraka: “Memangnya tentara tidak butuh makan? Bego kau, Nicolas.” *geleng2*

Jenderal Nicolatos: “Bukannya tuan puteri kekurangan apa-apa.” oTL
Jenderal Nicolatos: “Tapi saya sudah bersumpah setia pada kekasih saya..”

Ratu Neraka: “Sumpah setia mana, pada kami atau pada putri negara tetangga?”

Jenderal Nicolatos: “Baginda!” oTL
Jenderal Nicolatos: “Bagi saya... Negara nomor satu... “

Ratu Neraka: “Jadi apalagi yang kautunggu?”

Jenderal Nicolatos: “Tetapi saya amat mencintai Wina...”

Ratu Neraka: “Nikahi putri kami!” *muka semena2*

altersign1310: D:
altersign1310: brb =))
altersign1310: btw
altersign1310: *hapel tuh kek suku kecil yah*
altersign1310: pake tetua segala =))
altersign1310: diinvasi slytherin =))
kucingmelata: INI KENAPA JADI PADA RC =))



Nicolatos dan Winarnia
 
Winarnia: “Per-perlukah aku bekerja sama dengan Tetua Balin agar menculik Baginda Ratu Beau?”
Jenderal Nicolatos: “Wina! Aku membenci Tetua Balin, kau tahu kami tidak akur!”
Winarnia: “Ta-tapi dia orang baik, Nicolas!”


Ratu Neraka: “Nicolas.”
Ratu Neraka: “Kalau Tetua Hufflepuff Kazaf itu datang menculikku, apa kau akan melindungiku?”

Jenderal Nicolatos: “DENGAN NYAWA SAYA BAGINDA!”

Ratu Neraka: “Aku sedih, Nicolas…”

Jenderal Nicolatos: “Ba-baginda..”

Ratu Neraka: “KATA-KATAMU DUSTA!”

Jenderal Nicolatos: “SAYA BERSUMPAH MELINDUNGI ANDA, BAGINDA!”
Jenderal Nicolatos: “Kalau tidak saya bisa dibantai kakak saya.” *terpuruk*

Ratu Neraka: “Kau melindungiku, tapi di saat bersamaan menghancurkanku.”
Ratu Neraka: “Menghancurkan kerajaanku.”
Ratu Neraka: “Nicolas, Nicolas. Kau menikahi putri suku Huffle!”

Jenderal Nicolatos: “Baginda saya pusing mikirinnya.”
Jenderal Nicolatos: “Ini kan bisa jadi kunci perdamaian!”

Ratu Neraka: “Mau ditaruh ke mana wajah kerjaaanku?”
Ratu Neraka: “Nicolaaaaaaas!”
Ratu Neraka: “Kamu penakut!”
Ratu Neraka: “SUMPAHMU PALSU!”

Jenderal Nicolatos: “WOOOOOGH! ANDA BILANG SAYA PENGECUT?”

Ratu Neraka: “IYA, KAMU PENGECUT!”
Ratu Neraka: “DAN KAU BERANI BERTERIAK PADAKU, EH, NICOLAS?”

*hening lama*

Ratu Neraka: “Ni-nicolas?”

altersign1310: bek dr brb ga bilang2

Jenderal Nicolatos: “Baginda.....” *muka berkaca2*
Jenderal Nicolatos: “Saya sudah berjanji pada kakak saya untuk melindungi anda.”

Ratu Neraka: “Kau.”
Ratu Neraka: “Pergi meninggalkanku begitu saja tanpa pamit!!”
Ratu Neraka: “Kau, Nicolas!!”
Ratu Neraka: “AKU SEDIH!”

Jenderal Nicolatos: “Saya dipanggil ayahanda saya.”
Jenderal Nicolatos: “Maafkan saya, Baginda!” oTL

Ratu Neraka: “Ayahandamu lebih penting daripadaku?! AKU SEDIH!”

Jenderal Nicolatos: “Ayahanda saya yang pasang koneksi internet soalnya.”

Ratu Neraka: “Tebus dosa-dosamu sekarang, Nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “Ba-baiiiik…” oTL

Ratu Neraka: “Nikahi anakku.”

Jenderal Nicolatos: “WAKS!”

Ratu Neraka: “Good.”

Jenderal Nicolatos: *menggelepar*
Jenderal Nicolatos: “Baginda.... Ini pilihan sulit....”

Ratu Neraka: “Kau. Baru. Saja. Melawanku.”
Ratu Neraka: “Hatiku sakit, haruskah kesayanganku kuberi hukuman pancung?”

Jenderal Nicolatos: “Baginda.... Kalau saya mati…”
Jenderal Nicolatos: “NANTI KALAU PENDUKUNG SAYA MENGKUDETA ANDA BAGAIMANA??”

Ratu Neraka: “Kau…”
Ratu Neraka: “Mau mengkudeta kerajaanku, Nicolas?” *aura setan*

Jenderal Nicolatos: “Bagaimana pun militer berada di bawah saya.”
Jenderal Nicolatos: “Baginda raja tuh...”
Jenderal Nicolatos: “Well....”
Jenderal Nicolatos: “Pokoknya prajurit2 patuhnya sama saya!”

Ratu Neraka: “Oh.”
Ratu Neraka: “Apa ini tanda-tanda perlawanan?”
Ratu Neraka: “Baginda raja boleh lemah…”
Ratu Neraka: “Tapi kau lupa ya kau sedang bicara dengan siapa, hmm?”

Jenderal Nicolatos: “.....................”
Jenderal Nicolatos: “Baginda...... “
Jenderal Nicolatos: “Baginda masih ingat kakak saya?”
Jenderal Nicolatos: “Dari Francesca, bukankah keluarga kita sudah terikat?”

Ratu Neraka: “Ratu Neraka tidak mengenal nepotisme, Nicolas”
Ratu Neraka: “Francesca bukan lagi urusanku.”
Ratu Neraka: “Sekarang putriku cuma Olive tercinta.”

Jenderal Nicolatos: *menggolek lemah*
Jenderal Nicolatos: “Atas nama cinta kasih anda pada mendiang kakak saya.”
Jenderal Nicolatos: “Kasihanilah saya, Baginda.”

Ratu Neraka: “Aku lebih kasihan sama nasib putriku tercinta daripada kamu ya, sori!”
Ratu Neraka: *tiup-tiup kuku*

Jenderal Nicolatos: “Baginda...”
Jenderal Nicolatos: “Bolehkah saya berkonsultasi dulu dengan jenderal besar Pavarell?”

Ratu Neraka: “KAISAR!”

Jenderal Nicolatos: “OIYA!”

Ratu Neraka: “Husss, Nicolas, kamu bisa mati dihukum pancung!”
Ratu Neraka: *bekep*

Jenderal Nicolatos: “Bolehkah saya berunding dengan kaisar dulu?”

Ratu Neraka: “Silakan.”

Jenderal Nicolatos: “AH BAGINDA!! PUTRI PAKAI CADAR!!”

Nicolatos dan Putri Raja
 
Putri Raja: “Kenapa mukamu jadi merah seperti udang busuk begitu, Jendral Nicolatos?”
Jenderal Nicolatos: “Aduh puteri, mulut anda itu manis sekali sih…”
Putri Raja: “Terima kasih, turunan dari papa mama…”
Jenderal Nicolatos: *tergolek lemah*
Putri Raja: “Wina vandrea, putri kerajaan sebelah?”
Jenderal Nicolatos: “I-iya…”
Putri Raja: “Se--sejak kapan?” *gigit cadar*


Ratu Neraka: “HEH!!”
Ratu Neraka: “ANAKKU TERNYATA JEMAAH ISLAMIYAH!” *pingsan*

Jenderal Nicolatos: “BAGINDA!” *kipas2*
Jenderal Nicolatos: “Pasti karena dia tinggal dekat salman!”

Ratu Neraka: “Ni-Nicolaas.” *menangis merana*
Ratu Neraka: “Selamatkan tuan putri!”

Jenderal Nicolatos: “Tentu, Paduka, Agustus nanti saya akan tinggal dekat tuan puteri.”

Ratu Neraka: “Se-sekarang?”

Jenderal Nicolatos: “Sekarang saya tengah menghibur tuan puteri.”
Jenderal Nicolatos: “Yang masih sedih karena Steinegger berselingkuh.”

Ratu Neraka: “Ya Merlin, anakku~~~”
Ratu Neraka: “Sampai agustus.”
Ratu Neraka: “Kalau anakku masih meminta nicolatos, aku takmau tahu lagi, Nicolas!”

Jenderal Nicolatos: “Nicolatos itu kan nama panjang saya baginda.”

Ratu Neraka: “BUNUH vandrea, atau aku yang akan membunuhnya!”
altersign1310: “Aa-aa…”

Ratu Neraka: “Sampai Agustus, Nicolas.”

Jenderal Nicolatos: “Duli, Paduka….” oTL

Ratu Neraka: THE END

Kisah lain…

Nicolatos dan Putri Raja
 
Putri Raja: “Jendral Steinegger itu ternyata anak pa haji kampung sebelah.”
Jenderal Nicolatos: “WAT?”
Jenderal Nicolatos: “Karena itukah kau tertarik dengannya dulu? Karena dia anak ustad?”
Jenderal Nicolatos: “Makanya putri pake cadar sekarang?”
Putri Raja: “B—bukan…”
Putri Raja: “Cadar ini ada bukan karena aku pernah tertarik pada Jendral Steinegger…”


Ratu Neraka dan Putri Raja
 
Putri Raja: “Mamaaaaaa !!!”
Putri Raja: “Anakmu ini pake cadar bukan karena masuk Jemaah Islamiyahh!!”
Ratu Neraka: “Sayaang!!”
Ratu Neraka: “Te-terus kamu kenapa?”
Ratu Neraka: “Kamu kencan sama anaknya Pak Haji kampung sebelah ya? NICOLATOS BAGAIMANAAAA???!!”
Putri Raja: “Kk--karena ada bisul di wajahku….”
Ratu Neraka: “....oh.”


altersign1310: aduhlemes
kucingmelata: samaaa =))

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hiphop.baseballers
Member Avatar
「なんだ これ?!」
Balada Karen Tateyama dan Seishirou Izumi
Scene : Setelah Sei pulang dari Saudi Arabia :|
Semuanya karena foto INI! Dan terjadilah RC Spontanity via PLURK


Karen : o_O "It's that REALLY YOU?!"
Sei : *sambil ngangkat alis* "menurutmu, ha-ha?"
Karen : *ikutan ngangkat alis* "So not like you."
Sei : *lirik ke arah lain* "Marhaban ya Ramadhan... Memangnya kau tahu apa tentangku?" << antar kalimat kagak nyambung =))
Karen : *diem* "Periksakan otakmu, Sei-chan." :|
Sei : "kalau kubilang otakku berjamur, kau percaya?" *pm siul-siul*
Karen : "Percaya saja, sebenarnya." *ngangkat alis* "Karena hanya kau yang kutahu sangat alergi coklat." :|
Sei : "apa hubungannya alergi cokelat dengan otak berjamur? daripada kau yang umur segini masih percaya takhayul"
Karen : "Ah, ya, aku memang masih percaya takhyul." *memutar bola mata malas* "Tapi setidaknya jauh lebih normal dari alergi coklat."
Sei : 'kau bisa berkata begitu karena kau tidak merasakannya" *nyengir* "btw jangan bilang kau masih percaya santa claus?"
Karen : *diem* *nunduk* "Masih. Mau tertawa? Silakan saja." *buang muka*
Sei : "HAHAHAHAHA," *nyoleknyolekkaren* "Masih. Mau. Dong. Ah."
Karen : *cubit tangannya Sei yang nyubit2* *mingkem* "Wajar kan jika aku masih percaya Santa?" :|
Sei : "enggak" *ngibasin tangan yang baru dicubit* "Sakit tau! Aku kan cuma nyolek."
Karen : *mingkem lagi* *cemberut* *ngeloyor pergi*
Sei :"Yah ngambek.." *kibas-kibasin photobook KinKi* "Gak mau liat?? Bener ya? Aku mau liat sendiri kalau begitu."


CLEARance : ITU APA PAKE POTOBOOK KINKI (lmao)


Karen : *gigit bibir* "Err--" *lirik cuyo yg ada di kover depan* "Beliin aku es krim." :| *LAH*
Sei : "gak mau, enak aja, ngapain aku beliin kamu es krim, heh?" *kibas-kibas potobuk*
Karen : *mingkem lagi* "....sebodo ah..." *cemberut lagi* *tanda2 PMS* *pegang perut yang kram* *mringis*
Sei : "Cewek dasar.. ck!" *ngeloyor ke kursi sambil buka-buka potobuk*



...dan Endingnya menggantung karena gw langsung WB =))
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Plot Discussion · Next Topic »
Add Reply

Theme created by Lokyr of the ZetaBoard Theme Zone.