|
- Posts:
- 2
- Group:
- Unregist
- Member
- #3,647
- Joined:
- Feb 18, 2016
- Gender
- Male
- Umur
- 28
- Status/orientasi
- Single
- Bahasa (max.3)
- Jepang, Inggris (so on)
- Nama wali/orang tua
- Taichi Wataya & Angela Wataya
- Kewarganegaraan
- Jepang
- Pekerjaan
- Representative Director Wataya Traditional Resort & Hotel
- Alamat
- Wataya Resort
- Kimu
- 150
|
CITIZEN
Nama: Eisen Wataya
Nama keluarga: Wataya
Tempat & Tanggal lahir: Kyoto, Jepang, 29 April 1988
Umur: 28 (Tahun ini)
Gender: M
Kewarganegaraan: Jepang
Pekerjaan: Representative Director Wataya Traditional Resort & Hotel untuk cabang Toshi Haku, Mantan Meijin (Gelar yang diberikan kepada pemain karuta terbaik di divisi pria), Atlet Karuta (Tingkat A, Dan 8), Seniman, Fotografer, Reciter (Pembaca kartu dalam pemainan Karuta)
Deskripsi karakter:
- Fisik: Garis rahangnya terlihat lebar namun kuat, kulit kecoklatan, rambut hitam bergelombang, warna mata senada, jika sedang terlalu sibuk bekerja atau lupa diri saat sedang mengurung diri di ruang tatami untuk bermain karuta atau di studio untuk melukis tahu-tahu saja rambutnya sudah memanjang dan wajahnya telah dipenuhi kumis dan jenggot (penampilan, pembawaan diri dan kesan yang diberikan saat dia sedang berkumis dan berjenggot dengan saat dia sedang tanpa kumis dan jenggot sungguh sangat berbeda), bentuk hidung termasuk besar, bibir tebal.
- Style: Dalam berpakaian sebenarnya Eisen lebih senang menggunakan kaos dengan motif yang aneh atau cetakan kanji yang besar dengan celana jeans yang abal (sense fashionnya sangat jelek), sehingga dia jarang memilih pakaiannya sendiri // Cara berpakaiannya dipenuhi oleh rasa percaya diri dan mantab pada setiap langkahnya serta tidak terlalu mempedulikan sekitarnya.
- Hobi: Mendengarkan puisi / tanka, bermain karuta, melukis, bersepeda, mengumpulkan miniature kereta atau shinkansen, memotret, menemani saudari-saudarinya pergi, berenang, naik gunung, jogging
- Likes: Karuta, fotografi, kue-kue Jepang, anpanman, warna merah, hari hujan, hakama, kereta, saudari-saudarinya.
- Dislikes: orang-orang yang mengatur segala sesuatu yang harus dan tidak harus dia lakukan sehingga membuatnya seperti seorang robot atau boneka yang digerakkan; dijauhkan dari karuta atau saudari-saudarinya; kakeknya; kalah atau dipermalukan; orang-orang munafik; orang-orang yang bebas menentukan masa depannya.
- Hal khusus:
- Memiliki ketertarikan terhadap karuta dan kesenian (terutama kesenian Jepang) dari sang nenek yang adalah seorang reciter (card reader).
- Mempelajari fotografi hanyalah untuk sekedar hobi dan menghibur diri.
- Lulus tingkat A dalam competitive karuta saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SD dan meraih gelar Meijin saat dirinya masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Berhenti dari gelar Meijinnya setelah menyelesaikan kuliahnya di Waseda University (7 Tahun memegang gelar Meijin tanpa pernah dilengserkan dan memperoleh gelar Eternal Karuta Meijin / Master termuda untuk saat ini).
- Begitu lulus dari Waseda University di jurusan bisnis (S1), langsung melanjutkan kuliah S2 untuk bidang bisnis perhotelan dan pariwisata.
- Merupakan orang yang pernah mendorong Momiji Sasaki ke kolam berenang walau tahu Momiji takut akan air dan membuat Momiji masuk ke ICU karena paru-parunya yang lemah.
Tinggi/Berat: 176 cm / 66 kg
Sifat: Sudah terbiasa untuk menjadi yang segala-galanya dan belajar untuk menyimpan kesulitan sendiri, pada dasarnya bukan orang yang jahat tapi pilih-pilih untuk bersikap baik kepada orang lain, sangat menyayangi anggota keluarga perempuannya terutama sang nenek dan kakak perempuannya, memiliki tekad baja, melankolis, pokerface, masih memiliki sisa-sisa sifatnya yang dulu; ceria, humoris, senang menggoda dan merayu yang sayangnya sulit muncul selain di depan orang-orang terdekatnya.
- Kelebihan: Sangat pandai menutupi perasaan dan isi pikirannya, fisik dan daya ingat kuat, humoris
- Kekurangan: Keras kepala, sudah dibiasakan untuk bisa hampir di segala hal dan bidang hingga membuatnya sulit menerima kegagalan atau penolakan, jarang bahkan hampir tidak pernah mengucapkan terima kasih atau maaf, memiliki sisi kejam dan kecenderungan bersikap sadis dengan orang lain, perfectionist, memiliki kecenderungan style yang aneh, susah ditenangkan bila sedang emosional.
Status/orientasi: unofficional single
Visualisasi: Byun Yo Han
Link menuju galeri/website visualisasi: https://en.wikipedia.org/wiki/Byun_Yo-han
Latar belakang singkat: Putra satu-satunya keluarga Wataya, merupakan adik dari Chihaya Wataya dan kakak dari Shiragiku Wataya dan Sumire Wataya. Sejak kecil, Eisen sudah dipersiapkan untuk menjadi pewaris dari usaha keluarga Wataya di bidang penginapan traditional Jepang (Ryokan), resort dan hotel sehingga membuat Eisen memperoleh pendidikan yang paling keras baik formal maupun informal. Tidak seperti ketiga saudarinya yang tinggal bersama orang tuanya. Eisen sejak duduk di bangku SD sudah ditarik untuk tinggal dan dididik langsung oleh sang kakek, Souji Wataya.
RP Regis:
Sudah berapa lama Eisen tidak lagi menyentuh karuta? Rasanya sudah lama sekali. Jika diingat-ingat awal Eisen tak lagi menyentuh karuta adalah saat dia melakukan pertandingan karuta untuk gelar Meijinnya yang terakhir kemudian memutuskan untuk berhenti dari gelarnya sebagai Meijin setelah memperoleh gelarnya untuk ke-7 kalinya. Itu semua karena Eisen yang harus memenuhi janjinya kepada sang kakek untuk fokus terhadap kewajibannya sebagai pewaris dan penanggungjawab keluarga Wataya.
Eisen terdiam memandang kartu yang tiba-tiba saja terasa berat di tangannya. Mendekatkan kotak berisikan kartu-kartu tersebut hingga dekat ke arah wajahnya, Eisen pun memejamkan matanya, sebelum akhirnya dia menyadari adanya sebuah langkah mendekat ke arahnya, dengan pintu tatami yang terbuka mengalirkan angin musim gugur masuk ke ruangan tatami keluarga Wataya.
”Mau bermain?”
Eisen menatap lurus ke arah taman bergaya Zen tersebut sebelum tatapan berubah kabur karena airmata yang tertahan di pelopak matanya. Suara yang dia dengar itu adalah suara sang nenek. Neneknyalah yang memperkenalkan Karuta kepada Eisen dan membuat Zen menyukai—bahkan mencintai permainan tradisional itu. Neneknya pula yang telah melembutkan hati sang kakek untuk tetap membiarkan Eisen memainkan Karuta di sela-sela kewajibannya untuk memenuhi harapan sang kakek sebagai pewaris Wataya.
Karena kakek menganggap sang ayah belum kompenten, tidak sesuai dengan harapannya. Bahkan kenyataan sang ayah telah menodai darah keluarga dengan menikahi wanita China telah menyakitkan hati sang kakek yang kelewat kolot dengan budaya Jepangnya yang kaku. Sungguh berbeda dengan sang nenek yang menerima Angela Lin dengan tangan terbuka sebagai menantu dan ibu dari cucu-cucunya.
Tapi sejak kematian sang nenek karena penyakit yang di deritanya, terlalu sulit bagi Eisen memegang dan memainkan karuta lagi.
Menghela nafas sedih, ekspresi wajah Eisen tiba-tiba saja berubah keras saat dia merasakan kehadiran seseorang—dan kali ini nyata. ”O-oniisama, apa sumire mengganggu?” tanya putri bungsu keluarga Wataya, adik Eisen.
“Sumire-chan.” Eisen langsung melembutkan ekspresinya seraya mengulurkan tangannya kepada sang adik. “Tidak, kau tidak mengganggu. Ada apa?” Tanya Eisen seraya menggenggam tangan adiknya yang akhirnya terulur kepadanya. Kotak berisikan kartu karuta yang tadi dipegangnya pun telah dia letakkan di meja kayu tak jauh dari posisinya duduk.
”Sebentar lagi, Shiragiku-oneesama akan berulang tahun. Aku sedang memikirkan hadiah untuknya. Apa oniisama sudah menemukan hadiah ulang tahun untuk Shiragiku-oneesama?” Tanya Sumire lembut.
“Saa—aku tidak yakin. Aku tidak terlalu yakin apa yang Shiragiku inginkan untuk ulang tahunnya tahun ini.” Eisen nampak berpikir sejenak.
”Ahh.... ano, ngomong-ngomong Oniisama sudah tahu kabar—“
“Kabar apa?” Tanya Eisen. Lalu Sumire yang tidak ingin membiarkan siapapun tahu apa yang ingin dia sampaikan pun segera membisikkan kabar yang dia ketahui kepada kakak laki-lakinya itu. Eisen mendengarkan dengan tenang, sebelum akhirnya ekspresi wajahnya berubah dan dia berteriak. “APA?! APA DIA SUDAH GILA!”
Sumire yang terkejut hanya menatap kakak laki-lakinya itu dengan ekspresi ‘apa-aku-salah-dengan-memberitahukannya?’ ”K-kakek belum tahu… tapi saat seluruh anggota keluarga Wataya ke Toshi Haku untuk merayakan pesta o-oneesama… mereka pasti akan tahu.”
Satu helaan nafas lolos dari kerongkongan Eisen. |
|