| Daily News | ||
|---|---|---|
Toshi Haku Opreg 07 April - 14 April |
(c) to the rightful owner
| |
| Toshi Haku Board | ||
|---|---|---|
| Selamat datang di Toshi Haku. Toshi Haku adalah forum roleplay berbasis kehidupan sehari-hari di sebuah negara kota fiksi di kawasan Asia Timur. Buat dan daftarkan karakter kalian di sini dan jadilah bagian dari warga Toshi Haku. Jangan lupa baca peraturan dan cara bermain di sini terlebih dahulu. Salam, Crux corvus |
| Hideo Nakamura | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Nov 29 2015, 08:13 PM (47 Views) | |
| Hideo Nakamura | Nov 29 2015, 08:13 PM Post #1 |
|
PELAJAR SMA Nama: Hideo Nakamura Nama keluarga: Nakamura Tempat & Tanggal lahir: Toshi Haku, 7 Februari 1999 Umur: 16 y.o Gender: Male Kewarganegaraan: Toshi Haku Jurusan/Kelas: Kelas 2 SHS Deskripsi karakter:
Tinggi/Berat: 165 cm / 78 kg Sifat:
Status/orientasi: Single Visualisasi: Kim Jin Hwan / Jinhwan (IKON) Link menuju galeri/website visualisasi: Jinhwan IKON Profile Latar belakang singkat: Selama ini Hideo tinggal bertiga bersama ibu dan kakak laki-lakinya. Ayah mereka sudah tidak jelas keberadaannya sejak Hideo berusia lima tahun. Saat usianya sembilan tahun, kakaknya ditangkap dan masuk penjara selama lima tahun. Saat itu Hideo hidup berdua saja dengan ibunya. Hidup dengan segala keterbatasan di sebuah rumah kecil di wilayah Red Zone yang kumuh dan mencekam. Beruntung Hideo dan ibunya bisa terus bertahan menjalani keras dan beratnya kehidupan mereka. Hideo sangat menyayangi ibunya, namun hubungannya dengan kakaknya tidak terlalu baik. Hal ini dikarenakan selisih usia mereka yang cukup jauh dan sejak kecil mereka juga tidak terlalu dekat. Apalagi ditambah kakaknya itu pergi meninggalkannya selama lima tahun, dan status mantan napi kasus pembunuhan yang melekat dalam diri kakaknya, membuat Hideo makin menjaga jarak. RP Regis: Next Post |
![]() |
|
| Hideo Nakamura | Dec 5 2015, 04:45 AM Post #2 |
|
Musim panas 2013... Saat itu Hideo masih berusia empat belas.... ----- Hideo berjalan beriringan bersama seorang teman. Mereka baru saja selesai latihan futsal sepulang sekolah tadi. Langkahnya lantas terhenti saat di depan gerbang dirinya disambut oleh satu sosok pria yang dia kenal. Terkejut melihat kehadiran seseorang yang dia pikir seharusnya tidak perlu ada di sini. Tapi orang itu sudah datang dan saat ini sedang berdiri di hadapannya sembari tersenyum. Hideo hanya diam, tidak berkomentar. Bahkan untuk balas tersenyum pun dia merasa enggan. Matanya menyipit heran mempertanyakan, untuk apa kakaknya ada di sini? "Kalau begitu kita berpisah sekarang. Kakakmu datang menjemput, kau pulanglah. Sampai jumpa besok." Tepukan temannya di bahu, menyadarkannya dan membuatnya menoleh. Sebenarnya dia ingin bilang 'jangan pergi', tapi tertahan karena tanpa kehadiran kakaknya pun, mereka tetap harus berpisah di sini karena mereka memang menempuh arah pulang yang berbeda. Hideo lantas memberikan anggukan mempersilahkan dan dilihatnya temannya itu juga sempat membungkuk pamit ke kakaknya, sebelum akhirnya berlalu pergi. Itu artinya, sekarang tinggal dirinya berdua saja dengan kakaknya. "Kenapa datang kemari?" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak terkesan ramah. Tatapan tidak sukanya mengarah lurus pada kakak kandungnya itu. "Aku datang menjemputmu. Apa tidak boleh?" "Aku tidak suka kau datang kemari." jawabnya ketus sambil kemudian melangkahkan kaki, mencoba mengabaikan dan meninggalkan kakaknya yang tanpa diminta sudah datang menjemputnya di tempat latihan futsal ini. Hideo bisa melihat jika kakaknya itu lantas mengikuti langkahnya. "Hideo, Mom sangat khawatir. Dia yang memintaku untuk menjemputmu. Setidaknya kau pulanglah bersamaku sampai Mom tidak merasa khawatir lagi." Hidoe tahu, ibunya jelas merasa khawatir setelah apa yang terjadi pada dirinya kemarin. Sepulang dari latihan futsal, dia dihadang oleh tiga orang jambret bersenjata tajam di jalanan menuju rumahnya. Handphone dan uangnya dirampas. Hideo juga sempat dihajar karena mencoba melawan. Dia mengalami beberapa luka memar di wajah dan perut, serta luka terkena sayatan pisau di punggung tangan. Meskipun luka tersebut tidak terlalu parah dan tidak mengganggu aktivitas, tapi bekasnya masih ada. Mungkin kemarin dia memang sedang sedikit sial. Sudah bertahun-tahun dia tinggal di wilayah Red Zone dan sudah berkali-kali pula dia menghadapi hal semacam itu, namun sepertinya kejadian kemarin dianggap yang paling parah sehingga membuat ibunya khawatir. Tapi seharusnya tidak perlu sampai mengutus kakaknya ini untuk datang menjemput kan? Jika begini, Hideo benar-benar merasa diperlakukan seperti anak kecil. Yah, walaupun dia masih berusia empat belas tahun, tapi dia merasa sudah bisa melindungi dirinya sendiri. "Aku bisa pulang sendiri." Hideo memutuskan untuk bersikap keras kepala daripada dia harus jalan pulang bersama kakak laki-lakinya itu. Dia memang masih belum bisa menganggap kakaknya itu sebagai keluarga. Baginya, pemuda yang tahun lalu keluar dari penjara itu hanyalah seorang asing yang mendadak tinggal bersama keluarganya, dan dia masih belum bisa menerima kehadiran pemuda itu di dalam kehidupannya. "Bodoh sekali Mom malah membiarkanku pulang dengan seorang pembunuh." sahutnya lagi, yang kemudian membuat langkahnya terhenti karena pergelangan tangannya dipegang. Hideo tersentak dan mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi cengkeraman kakaknya jauh lebih kuat. "Aku tidak bisa mengabaikan perintah Mom dan membiarkannya terus-terus khawatir. Suka atau tidak suka, kau ikut pulang denganku sekarang."[//color] Merasakan adanya ketegasan dari kalimat tersebut. Tapi Hideo tidak bergeming. "Lepaskan tanganku atau aku akan teriak. Kau tidak mau berurusan dengan polisi untuk kedua kalinya kan?" Malah balas menantang. Dia melakukan ini karena memang ada keinginan kuat dalam dirinya untuk menghindari kakaknya tersebut. Dia benar-benar tidak mau berdekatan, apalagi sampai berurusan dengan pria yang dianggapnya sebagai seorang pembunuh itu. Kakaknya menatapnya tajam, dan dia pun balas menatap dengan sama tajamnya. Mereka merasa tidak perlu berkata apa-apa untuk menyampaikan isi pikiran masing-masing. Sementara Hideo saat ini hanya berpikir untuk melawan dan melepaskan diri dari kakaknya. Sampai akhirnya pergelangan tangannya dilepaskan begitu saja. Rupanya kakaknya itu memutuskan untuk mengalah. Hideo pun segera menarik tangannya menjauh. Tatapannya masih bertautan dengan tatapan lurus kakaknya sebelum akhirnya dia balik badan dan berlalu pergi. Langkahnya pun mengayun cepat meninggalkan kakaknya. Entah sampai kapan dia akan terus menghindar seperti ini. ----- |
![]() |
|
| Hideo Nakamura | Dec 5 2015, 04:48 AM Post #3 |
|
Musim panas 2013... Saat itu Hideo masih berusia empat belas tahun.... ----- Hideo berjalan beriringan bersama seorang teman. Mereka baru saja selesai latihan futsal sepulang sekolah tadi. Langkahnya lantas terhenti saat di depan gerbang dirinya disambut oleh satu sosok pria yang dia kenal. Terkejut melihat kehadiran seseorang yang dia pikir seharusnya tidak perlu ada di sini. Tapi orang itu sudah datang dan saat ini sedang berdiri di hadapannya sembari tersenyum. Hideo hanya diam, tidak berkomentar. Bahkan untuk balas tersenyum pun dia merasa enggan. Matanya menyipit heran mempertanyakan, untuk apa kakaknya ada di sini? "Kalau begitu kita berpisah sekarang. Kakakmu datang menjemput, kau pulanglah. Sampai jumpa besok." Tepukan temannya di bahu, menyadarkannya dan membuatnya menoleh. Sebenarnya dia ingin bilang 'jangan pergi', tapi tertahan karena tanpa kehadiran kakaknya pun, mereka tetap harus berpisah di sini karena mereka memang menempuh arah pulang yang berbeda. Hideo lantas memberikan anggukan mempersilahkan dan dilihatnya temannya itu juga sempat membungkuk pamit ke kakaknya, sebelum akhirnya berlalu pergi. Itu artinya, sekarang tinggal dirinya berdua saja dengan kakaknya. "Kenapa datang kemari?" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak terkesan ramah. Tatapan tidak sukanya mengarah lurus pada kakak kandungnya itu. "Aku datang menjemputmu. Apa tidak boleh?" "Aku tidak suka kau datang kemari." jawabnya ketus sambil kemudian melangkahkan kaki, mencoba mengabaikan dan meninggalkan kakaknya yang tanpa diminta sudah datang menjemputnya di tempat latihan futsal ini. Hideo bisa melihat jika kakaknya itu lantas mengikuti langkahnya. "Hideo, Mom sangat khawatir. Dia yang memintaku untuk menjemputmu. Setidaknya kau pulanglah bersamaku sampai Mom tidak merasa khawatir lagi." Hidoe tahu, ibunya jelas merasa khawatir setelah apa yang terjadi pada dirinya kemarin. Sepulang dari latihan futsal, dia dihadang oleh tiga orang jambret bersenjata tajam di jalanan menuju rumahnya. Handphone dan uangnya dirampas. Hideo juga sempat dihajar karena mencoba melawan. Dia mengalami beberapa luka memar di wajah dan perut, serta luka terkena sayatan pisau di punggung tangan. Meskipun luka tersebut tidak terlalu parah dan tidak mengganggu aktivitas, tapi bekasnya masih ada. Mungkin kemarin dia memang sedang sedikit sial. Sudah bertahun-tahun dia tinggal di wilayah Red Zone dan sudah berkali-kali pula dia menghadapi hal semacam itu, namun sepertinya kejadian kemarin dianggap yang paling parah sehingga membuat ibunya khawatir. Tapi seharusnya tidak perlu sampai mengutus kakaknya ini untuk datang menjemput kan? Jika begini, Hideo benar-benar merasa diperlakukan seperti anak kecil. Yah, walaupun dia masih berusia empat belas tahun, tapi dia merasa sudah bisa melindungi dirinya sendiri. "Aku bisa pulang sendiri." Hideo memutuskan untuk bersikap keras kepala daripada dia harus jalan pulang bersama kakak laki-lakinya itu. Dia memang masih belum bisa menganggap kakaknya itu sebagai keluarga. Baginya, pemuda yang tahun lalu keluar dari penjara itu hanyalah seorang asing yang mendadak tinggal bersama keluarganya, dan dia masih belum bisa menerima kehadiran pemuda itu di dalam kehidupannya. "Bodoh sekali Mom malah membiarkanku pulang dengan seorang pembunuh." sahutnya lagi, yang kemudian membuat langkahnya terhenti karena pergelangan tangannya dipegang. Hideo tersentak dan mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi cengkeraman kakaknya jauh lebih kuat. "Aku tidak bisa mengabaikan perintah Mom dan membiarkannya terus-terus khawatir. Suka atau tidak suka, kau ikut pulang denganku sekarang." Merasakan adanya ketegasan dari kalimat tersebut. Tapi Hideo tidak bergeming. "Lepaskan tanganku atau aku akan teriak. Kau tidak mau berurusan dengan polisi untuk kedua kalinya kan?" Malah balas menantang. Dia melakukan ini karena memang ada keinginan kuat dalam dirinya untuk menghindari kakaknya tersebut. Dia benar-benar tidak mau berdekatan, apalagi sampai berurusan dengan pria yang dianggapnya sebagai seorang pembunuh itu. Kakaknya menatapnya tajam, dan dia pun balas menatap dengan sama tajamnya. Mereka merasa tidak perlu berkata apa-apa untuk menyampaikan isi pikiran masing-masing. Sementara Hideo saat ini hanya berpikir untuk melawan dan melepaskan diri dari kakaknya. Sampai akhirnya pergelangan tangannya dilepaskan begitu saja. Rupanya kakaknya itu memutuskan untuk mengalah. Hideo pun segera menarik tangannya menjauh. Tatapannya masih bertautan dengan tatapan lurus kakaknya sebelum akhirnya dia balik badan dan berlalu pergi. Langkahnya pun mengayun cepat meninggalkan kakaknya. Entah sampai kapan dia akan terus menghindar seperti ini. ----- edited karena ada kesalahan warna pada tulisan |
![]() |
|
| Ziven Egan | Dec 6 2015, 05:32 PM Post #4 |
![]()
Wakil Kepala Negara
|
Approved |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Approved registration · Next Topic » |


(c) to the rightful owner




7:35 AM Jul 11