|
Shuugo Takashita
|
Apr 21 2015, 07:45 AM
Post #1
|
|
- Posts:
- 5
- Group:
- Unregist
- Member
- #3,222
- Joined:
- Apr 19, 2015
- Gender
- Male
- Umur
- 25 [17-7-90]
- Bahasa (max.3)
- Inggris, Jepang
- Nama wali/orang tua
- Hiruto Takashita
- Kewarganegaraan
- Toshi Haku
- Kimu
- 50
|
CITIZEN
Nama: Shuugo Nama keluarga: Takashita Tempat & Tanggal lahir: Toshi Haku, 17 - 6 - 90 Umur: 25 Gender: M Kewarganegaraan: Toshi Haku Pekerjaan: Perawat Deskripsi karakter:
- Kulit putih, tubuh gempal dengan bentuk wajah bundar, mata berwarna hitam sipit khas Asiatis, rambut pendek hitam seleher tapi kadang dicat berwarna coklat gelap sesuai suasana hati, alis tipis, hidung besar, bibir tipis, kadang memakai kacamata terutama saat bekerja.
- Biasa memakai pakaian kasual saat sedang tidak bekerja, kaos, jeans, sneakers walau termasuk tipe pemilih soal merk pakaian karena dia hanya mau memakai baju yang menurutnya bagus (dan biasanya harganya memang mahal)
- Hobinya adalah mendengarkan musik dan bermain biola, saat senggang biasanya lebih memilih untuk berolahraga rutin
- Yang disukai adalah keramaian, tidak terlalu suka dengan tempat yang sepi, sangat suka masakan yang enak (termasuk pemilih kalau soal masakan, tidak suka masakan yang terlalu pedas dan panas), pecinta anjing terutama jenis besar seperti German Shepherd, Golden Retriever atau Siberian Husky.
Tinggi/Berat: 180 cm / 69 kg Sifat:
- Tipikal pemuda yang santai, memiliki pemikiran sendiri, akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan, walau bukan berarti lantas dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, pantang menyerah dan keras kepala, bisa jadi sinis saat dia sudah tidak menyukai seseorang, termasuk sosok yang touchy feely bahkan bisa dengan sengaja menggoda ayahnya walau dia bersikap seolah-olah itu hanya candaan karena tidak ingin ayahnya sadar apa yang ia rasakan, tidak suka bergantung pada orang lain.
- Kelebihan : Menguasai aikido, bermain biola
- Kekurangan : tidak bisa makan masakan panas, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah
Status/orientasi: Interested in someone / gay Visualisasi: Baba Toru Link menuju galeri/website visualisasi: here Latar belakang singkat: Putra tunggal dari Hiruto Sakashita. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan sejak saat itu ia hanya tinggal dengan ayahnya. Sangat menghormati dan menyanyangi ayahnya, menjadikannya sosok panutan, sangat bergantung dengan ayahnya. Walau sejak sekitar setahun terakhir mulai mengakui dan menerima kalau dia sudah merasakan ada perasaan yang berbeda kepada ayahnya, bahkan lebih dari perasaan sayang seorang anak kepada ayahnya. Sebelumnya dia menyangkal mati-matian memiliki perasaan itu.
Sadar kalau dirinya gay sejak duduk di bangku awal SMA tapi menutupinya, bahkan dari ayahnya sendiri, sempat berpacaran dengan beberapa gadis walau dia kemudian sadar bahwa dia hanya bisa melakukannya dengan lelaki. Tidak pernah benar-benar berpacaran dengan lelaki, biasanya dia hanya melakukan hubungan singkat.
Sejak lulus SMA memutuskan untuk mengambil kuliah sebagai perawat. Tidak ingin menjadi dokter sebagai ayahnya karena ia tidak ingin dibandingkan dengan sang ayah. Walau nyatanya usai lulus pun dia malah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit yang sama dengan tempat ayahnya pernah bekerja.
Sekarang sedang berpikir untuk pindah rumah dan mulai tinggal sendiri. RP Regis: You can't choose with whom you had fallen in love.
Shuugo sadar bahwa ia sudah merasakan sebuah kesalahan besar.
Apa yang seharusnya tidak ia rasakan kepada seorang ayah. Sebuah perasaan tabu yang terlarang. Perasaan yang bahkan membuatnya nyaris menjadi gila. Bagaimana perasaan itu berubah, bagaimana ia bisa berubah, sejak kapan ia berubah, bagaimana semua itu terjadi ia tidak bisa mengingatnya. Satu yang diingatnya adalah perasaan benci ketika Hiruto membawa wanita itu untuk tinggal bersama mereka. Ia ingat dengan jelas bagaimana ia menunjukkan rasa tidak sukanya. Ayahnya mungkin saja mengira itu hanyalah perasaan benci seorang anak yang merasa tidak ingin memiliki ibu tiri. Shuugo bahkan tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya adalah sebuah perasaan cemburu. Bukan sebagai seorang anak yang takut perhatian ayahnya terbagi, tapi sebuah perasaan cemburu saat orang yang dicintai tidak lagi menjadi milikmu seorang.
Dan sekarang pun perasaan itu tidak hilang pernah hilang.
Sepasang biner hitamnya memandang layar televisi yang ada di depannya. Tubuh bersandar malas di sofa. Dia bertugas pagi hari ini. Jemari memencet-mencet tombol di remote yang dipegangnya di tangan. Menghela nafas malas berulangkali. Tidak ada yang berubah.
"Shuu,"
Panggilan itu membuatnya menoleh. "Ya, Oyaji?" Menatap seraut wajah familiar yang ada di depannya. Dan lihat apa yang sudah dilakukan oleh jantungnya ketika ia melakukannya. Benar-benar menyedihkan, membuatnya ingin tertawa geli sekarang. Menertawakan kebodohannya sendiri. "Tidak ada. Acaranya membosankan. Lagipula susah untuk mencari video mesum di televisi nasional." Menutupnya dengan tawa sambil melirik sosok yang kini berada di sampingnya. Biner Shuugo bergerak turun, melihat apa yang dipegang oleh sosok yang bertanggung jawab menghadirkannya ke dunia. Sikap yang ditunjukkan dan map yang dipegang Hiruto lebih daripada cukup bagi Shuugo untuk tahu apa yang akan terjadi usai ini.
Tapi ia memilih menunggu. Membiarkan saja apa yang dilakukan oleh ayahnya dengan menjejerkan foto-foto yang kini berada di atas meja. Kali ini lima orang. Lebih banyak lebih baik, ia bisa menolak mereka semua sekaligus. Dan itu akan mengurangi empat kesempatan dia dikenalkan dengan salah satu dari mereka. Tindakan yang sia-sia, tapi ia tahu sifat keras kepala yang ia miliki diturunkan dari siapa. Ayahnya tidak akan menyerah melakukan hal ini. Sepasang binernya kali ini memandang foto-foto yang sudah rapi berjejer di atas meja. Gadis yang cantik dan masih muda. Walau sayang secantik apapun mereka tidak akan ada yang bisa membuatnya merasakan desiran yang sama dengan apa yang dirasakannya sekarang pada sosok di sampingnya.
"Mereka cantik-cantik bukan, Shuu?"
Mengangkat alisnya mendengar komentar itu. Diliriknya sosok di sampingnya, lihat bagaimana sekarang ayahnya terlihat salah tingkah dan apa-apaan itu kalimat yang dipilih. Membuatnya jadi tersenyum kecil. "Mereka cantik." Menanggapi dengan santai. Memutar badannya, membuatnya kini berhadapan dengan ayahnya. Diulurkannya tangan, menyentuh sisi wajah ayahnya, "Tapi apa kau tahu, Oyaji? Dibanding mereka__", tangan Shuugo bergerak perlahan, menyusuri sisi wajah Hiruto. Ah, lagi-lagi perasaan itu datang. Senyuman kecil terlihat di wajahnya, "__kau justru jauh lebih manis.", mendekatkan wajahnya usai mengatakan hal itu, sedikit demi sedikit menghilangkan jarak di antara mereka.
Jadi, bagaimana kalau ijinkan ia menciummu dahulu?
***
|
|
|
Crux Corvus
|
May 1 2015, 03:10 PM
Post #2
|