Welcome Guest [Log In] [Register]
Daily News
Welcome

Selamat datang di Toshi Haku, sebuah negara kota fiksi yang terletak di sebuah pulau kecil di Asia timur, diantara Korea dan Jepang. Bahasa utama adalah bahasa Inggris dan mata uangnya adalah Kimu. Roleplay dilakukan dengan berbasis pada kehidupan sehari-hari. Selamat bermain.

- Panduan Pemula

- Peraturan Umum

- Toshi Haku's Law

- Pendaftaran

- Daftar Visualisasi

- Lowongan

- Kalender Akademik JHS, SHS & Universitas

- Toshi News Headline

Update News :

Mengenai Upgrade (Penggabungan) Zetaboards ke Tapatalk

Sekalipun kejelasan mengenai pelaksaan penggabungan ZB dan Tapatalk masih belum jelas, Staff TH ingin mengingatkan member.memberyang masih menggunakan image host external (imgur,postimages,dsb) untuk secara perlahan mengupload ulang link Avatar dan Signature mereka ke dalam server Zetaboards untuk menghindari hilangnya gambar/attachment.

  • Kelulusan tahun ajaran 2016-2017

    Daftar Almost Unreg list APRIL 2018

    Diingatkan untuk semua member, untuk keseragaman, warna quote dialog adalah abu-abu. Gunakan bbcode [color=grey][/color] atau [color=#999][/color]

    Bagi owner fiksi, diharap mendaftarkan profil usahanya di sini atau tempat usaha anda tidak akan dimasukan dalam daftar perusahaan di lokasi umum.

    Bagi member yang namanya belum masuk dalam daftar tapi sudah merasa disetujui permohonannya, atau belum dirubah grupnya harap hubungi admin.


  • Jadwal Pelayanan

      Toshi Haku Opreg 07 April - 14 April

    • Jadwal Approval
    • Gelombang 1 :16 April
    • 16 April : posting daftar almost unreg
    • 22 April : eksekusi daftar almost unreg

    Time Line

    (c) to the rightful owner

    Musim Semi, April 2018

    Member Service :


    Toshi Haku's Event

    [ANNUAL EVENT] Folk Carnival

    [MONTHLY EVENT] BOMB!

    Toshi Haku Board
    Selamat datang di Toshi Haku.

    Toshi Haku adalah forum roleplay berbasis kehidupan sehari-hari di sebuah negara kota fiksi di kawasan Asia Timur. Buat dan daftarkan karakter kalian di sini dan jadilah bagian dari warga Toshi Haku. Jangan lupa baca peraturan dan cara bermain di sini terlebih dahulu.

    Salam,

    Crux corvus



    Username:   Password:
    Add Reply
    Across the Universe; Kumpulan fic AU yang (kadang) memiliki MODUS
    Topic Started: Apr 9 2014, 06:04 PM (1,619 Views)
    Junichiro Akimoto
    Member Avatar

    Title: Hurt
    Genre: drabble gaje dengan balutan semi song fic *nods*
    Warning: AU yang (possibly) full of OOC dan galauan fail, lol
    Chara: Seseorang dan seseorang *yang toh akan ketahuan juga nanti siapa mereka*

    The one who loves more hurts more

    "Eih, kau ini! Kau menyukaiku dan aku menyukaimu. Karena itu kita berteman kan?"

    (Are we really dating?) I don’t know
    (Are we really in love?) I don’t know
    The question keeps coming into my heart, who the hell are you?


    "Aku tidak pernah menganggapmu teman. Kau itu sainganku."

    .

    .

    .


    “ Kau mencintainya?”

    Pertanyaan itu terdengar menggema di lorong sekolah yang sepi. Mungkin karena sekarang sedang jam istirahat makan siang. Seluruh murid pasti sedang berjejal di kantin untuk memperjuangkan nasib perut mereka. Tapi tidak dengan para Fei bersaudara. Keduanya sedang menyusur santai di antara ruang kelas kosong dengan pertukaran percakapan tidak penting. Setidaknya, sampai pertanyaan itu meluncur dari mulut si sulung.

    " .........Ha?"

    Pertanyaan itu membuat Liu sedikit bingung. Memang, terkadang si sulung Fei ini suka mengajukan pertanyaan yang di luar konteks pembicaraan. Barusan mereka sedang membicarakan soal ayam tetangga yang mati di belakang rumah mereka. Dan sekarang tiba-tiba saja kakaknya itu menanyakan soal ‘cinta-cintaan’?

    “ Memangnya aku terlihat seperti sedang jatuh cinta?” menuntut penjelasan dari si sulung.

    Tapi alih-alih mendapat pencerahan, ia malah dibuat heran lagi oleh sang kakak yang tiba-tiba berhenti di depan pintu sebuah kelas--kelasnya. Tatapan di sana tampak tengah menerawang, melihat masuk ke dalam ruangan. Kenapa lagi sekarang? Memutuskan untuk menyusul langsung ke posisi sulung Fei.

    “ Hei, ada apa sih?” tanyanya langsung. Tapi tanpa merasa perlu menunggu jawaban, kepalanya sudah lebih dulu menoleh mengikuti arah pandangan sang kakak. Ikut mengintip. Hingga akhirnya mengerti apa yang telah menyita perhatian sang kakak--dan juga dirinya.

    Di dalam ruang kelas yang kosong Liu melihatnya; sepasang siswa-siswi yang tengah berciuman. Bukan perihal mereka yang tengah bermesraan itu yang membuat kakinya membeku sekarang. Itu hal yang lumrah bukan bagi mereka yang masih SMU ini. Sebut cinta monyet, gelora asmara muda, atau apalah. Tapi perihal siapa yang tengah menautkan bibirnya pada milik si gadis yang membuatnya terdiam. Oh, dia sangat kenal yang satu itu.

    Ia tidak sadar, kapan sang kakak telah menariknya menjauh dari sana sebelum dua sejoli itu menyadari keberadaan mereka. Pemandangan itu telah berlalu dari tatapannya, tapi pikirannya seolah tidak mau beranjak dari sana. Aneh. Dia tidak mengerti kenapa ia bisa merasa begitu...

    “ Awww, ternyata kau memang mencintainya,”

    Ucapan itu membuatnya tersadar dari lamunan. Matanya membulat besar, menatap ke arah sang kakak yang tengah menyeringai bak siluman rubah. Kalimat protes belum sempat termuntahkan dari mulutnya karena yang di sana sudah lebih dulu memotongnya.

    “ Oh ayolah. Tampangmu barusan seperti habis patah hati,”

    ......Apa katanya?

    “ ...........Kau.....jangan mengada-ngada,”

    " Khekhekhe, justru jawabanmu yang tampak setengah hati itu yang terdengar mengada-ngada di telingaku,"

    Oh tidak.

    Liu tahu kapan saat kakaknya ini tengah bermain-main dengan ucapannya. Dan tahu persis juga kapan ucapan yang di sana patut diperhitungkannya. Satu kalimat barusan, tampaknya jelas bukan untuk mempermainkan pikirannya. Karena ia memang menyadari...jawaban miliknya yang ragu-ragu.

    " Aih, ternyata kau memang lamban,"

    Dan siulan riang sang kakak menutup pembicaraan mereka siang itu. Ia sendiri juga tidak tahu...harus berkata apa lagi?


    (I hate)

    (I ignored it)



    “ Jadi, bagaimana menurutmu?”

    Mereka sedang berada di tempat biasanya. Masih di atap sekolah, tetap pada jam yang biasanya. Hanya saja, pembicaraan mereka kali ini...tidak biasanya.

    “ Tunggu, tunggu....kenapa kau menanyakan pendapatku?”

    Dia menceritakannya. Perihal seorang siswi yang menembaknya di saat jam istirahat siang dua hari yang lalu. Ya, dia menceritakannya. Kecuali satu hal--tentang ciuman itu.

    “ Karena kau temanku! Makanya aku tanya kamu,”

    Liu agak tertegun mendengarnya.

    Kalau dulu, ia bisa membayangkan dirinya yang tersenyum lebar. Memberi satu sodokan pada bahu yang di sana sembari menggoda bahwa si muka suram ini akhirnya mau mengakui bahwa mereka memang berteman. Bukan saingan, tapi teman.

    Hanya teman.

    Dan sekarang--


    I tell myself this isn’t right, that I should end this now


    --kenapa ia merasa tidak puas?


    “ Tolol. Kalau kau memang menyukainya, terima perasaannya!” memberi satu tepukan pada pundak si cunguk yang tampak begitu buta arah dengan pertanyaannya, “ Butuh keberanian besar bagi seorang cewek untuk menembak seorang cowok. Jadi jangan kau buat dia lama menunggu, kecuali kau ingin minta ditampar sama mereka,"

    Kalimat setengah tertawanya ini terdengar seperti biasanya. Tetap seperti biasanya.


    I hate myself for not being able to let you go


    .

    .

    .


    “ Aku...menerimanya,”


    (I hate) the selfish you


    “.........Oh,”

    Seharusnya dia tidak perlu merasa terkejut. Tidak perlu. Karena sejak awal harusnya dia sudah bisa melihat semua ini.


    (I hate) you, who has changed


    “ Kau...tidak senang?”


    (I hate) you, —, yes you
    I hate, hate, hate—



    Ia melihat kerut menghiasi wajah yang di sana. Oh, tidak tidak. Harusnya dia tidak menanggapinya sedatar itu. Seperti bukan dirinya saja kan rasanya. Kemana rasa antusiasmu, hei Zhang Liu Fei!

    “ HAH! Kenapa aku tidak senang? Temanku dapat pacar akhirnya. Seharusnya aku bangga kan?” senyumnya tersungging lebar.

    " Hei, ayo lah. Kenapa mukamu sesuram itu? Yang akhirnya punya pacar mana boleh bermuka begini,"

    Seolah itu tidak cukup meyakinkan, tangannya bergerak untuk mengacak surai yang di sana. Helai yang kenapa baru kali ini disadarinya, apa memang selama ini rasanya seperti ini? Terasa geli dan menggelitik kulitnya. Tolol! Ia terlalu banyak berpikir sekarang. Tapi satu hal yang diketahuinya pasti, bahwa ke depannya nanti akan ada tangan yang lebih pantas menyentuh kepala itu. Bukan dalam sentuhan kasar yang mengacak-acak rambut seperti sekarang. Lebih pantas jika jemari lentik berada di sana, yang akan menyisir lembut tiap helainya.

    ...

    Kau mikir apa sih?

    Menyadari tangannya yang sudah terlalu lama hinggap di kepala lawan. Rasanya jadi aneh kan sekarang? Berdehem sebentar sebelum menarik tangannya. Berharap rasa canggung itu hanya dia saja yang merasakan. Yang di sana jangan sampai!

    " Jadi.....kapan kencan pertama kalian?"

    Ya. Buka kembali percakapan.

    " Ciuman pertama....oh tunggu, harusnya itu sudah ya--," oh ya, dia terdengar cukup meyakinkan bukan bahwa ia memang tidak pernah melihat si cunguk ini sudah berciuman,"--kalau begitu malam pertama kalian, kapan? Kasih tahu aku nanti kalau kau sudah melakukannya ya,"

    Berlakulah seperti biasa.

    Karena kau adalah temannya. Yang seharusnya berbahagia untuknya.

    Satu perasaan yang menggantung di sudut hatinya seharusnya tidak perlu dipikirkannya. Tidak perlu dipertanyakannya.


    It hurts so much because--


    Tidak perlu dirasakannya.

    Ya, ya... Mana boleh perasaannya yang tidak jelas ini mempengaruhi kebahagiaan temannya. Toh harusnya dia bahagia yang di sana (akhirnya) pasti akan lebih banyak tersenyum. Minimal wajah itu tidak harus menua lebih cepat dari seharusnya. Seorang Rexton Igneel akhirnya bisa mengulaskan senyum.

    Walau mungkin senyum itu bukan miliknya.




    --I guess I really love you




    ~ Fin ~

    lyric (c) Love Hurts - Pro C (feat. Ailee)
    Edited by Junichiro Akimoto, Apr 9 2014, 07:40 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Rexton Igneel
    Member Avatar

    Title: Here is Hurt (Too)
    Genre: Mini Drabble - (maybe) AU *mulai labil*
    Song Inspiration: l Want It That Way
    Chara: Duo preman SMA mencari cinta (?)
    A/N: Mereka ngapain sih? Ini AU kan? KAN? D<



    .
    .

    “ Jadi, bagaimana menurutmu?” Rex menggeser posisinya kepalanya agar bisa menoleh pada Liu. Mengalihkan pandangan dari tangannya yang terentang ke atas, kelima jarinya terentang melindungi tatapan dari terik matahari tanpa ampun siang itu. Mereka berbaring di beton atap. Iya, Rexton Igneel sudah sampai pada tahap mampu merelakan punggungnya berbaring di permukaan keras dan berdebu itu.

    Kalau Liu bisa, kenapa dia tidak bisa?


    You are my fire
    The one desire


    “ Tunggu, tunggu....kenapa kau menanyakan pendapatku?”

    Termasuk soal wanita pendamping. Well mungkin istilahnya lain bagi orang-orang sini. Mereka menyebut 'kencan' atau 'pacar'. Dari cara Liu yang begitu biasa menonton video-video tak senonoh, sudah pasti saingannya ini sudah pernah punya pacar kan?

    “ Karena kau temanku! Makanya aku tanya kamu,” Ia bisa mendengar suaranya sendiri menyalak tak sabar. Sial. Ia sampai harus mengatakan istilah yang tak dia sukai itu. 'Teman'? Ia lebih suka kalau mereka ini saingan. Musuh. Dua orang yang tidak akur.


    You are, you are
    You are, you are


    Karena dengan begitu, tak akan ada bias dalam saling memandang kemampuan masing-masing. Soal wanita, ia dengan besar hati mengakui kalau si lamban lebih unggul. Makanya dia minta nasehat di sini. Sayang sekali, sepatunya terlalu jauh untuk dia raih. Siapa tahu satu atau dua geplakan sepatu bisa membantu kepala yang di sana mengingat, bagaimana pengalaman pertama dinyatakan cinta oleh seorang wanita.

    “ Tolol. Kalau kau memang menyukainya, terima perasaannya!”

    Semudah itukah?


    Don't wanna hear you say

    Ia mulai tidak suka lagi pada tatapan sepasang bola mata cerah itu. Kenapa tidak secerah biasanya? Apakah...masalah yang dihadapinya ini dianggap terlalu remeh?

    “ Butuh keberanian besar bagi seorang cewek untuk menembak seorang cowok. Jadi jangan kau buat dia lama menunggu, kecuali kau ingin minta ditampar sama mereka,"


    I never wanna hear you say

    Atau, dialah yang masih dianggap remeh di sini. Benarkah hanya dia sendiri yang menganggap Liu itu lebih dari sekedar kata 'teman?' Untuk menjadikan seseorang 'saingan' di matanya, ia perlu keberanian yang besar menganggap seorang lebih unggul darinya. Lebih bersinar dan lebih kuat darinya. Mengagumi seorang itu dengan terpaan kata kasar karena dia yakin--selalu yakin--bahwa Zhang Liu Fei bisa menerima semangat permusuhan darinya.

    Bisa menerima kepercayaanya.

    Tapi kau membela wanita yang tidak kau kenal itu ya?


    Tell me why, ain't nothin' but a heartache

    “ Aku...menerimanya,”

    Rasanya pahit. Lehernya menegang menelan rasa pahit yang bukan karena dia salah makan. Ia tahu rasa pahit ini karena bukan pertama kalinya dia merasakan kecewa. Hanya saja, ia tidak tahu kalau rasanya akan sekecewa ini.


    Tell me why, I never wanna hear you say

    Isi percapakan berikutnya mengabur bersama arah pandangannya yang menerawang jauh. Satu tangannya kembali terentang ke arah sumber cahaya yang jauh di sana. Matahari itu jauh. Meskipun panas yang menyengatnya terasa begini dekat, tapi nyatanya jauh.

    Seperti kau yang begitu jauh dariku.

    "Aku tidak akan memberitahumu apa-apa lagi." Rex menutup kelopaknya. Merasakan dirinya mulai lelah menatap mentari yang bersinar garang. Mentari tak akan mendekat hanya karena dia lihat tanpa berkedip, begitu juga orang yang diharapkannya menoleh.

    .
    .

    Kapan kau akan melihatku seperti aku melihatmu, Liu?


    Am I your fire?

    ~***~

    Edited by Rexton Igneel, Apr 9 2014, 08:03 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Cho Doo-joon
    Member Avatar

    Title: Don't Care
    Genre: drabble gaje (lagi)
    Warning: Future AU, tidak usah dipercaya, mungkin juga OOC
    Chara: Seseorang dan seseorang (lagi) *yang toh akan (atau sudah) ketahuan juga nanti siapa mereka*

    several years later...


    Lagi-lagi, mereka terjebak pada situasi ini...

    Kumpulan manusia yang bernama wartawan tengah mengepung mereka; dirinya dan Rex. Jangan lupakan juga para makhluk pembawa kamera bernama papparazi yang ikut bahu membahu bersama kumpulan manusia yang disebut pertama tadi. Berbagai tangan tampak menjulur dari segala sisi dengan alat perekam di tangan diiringi latar lampu-lampu blitz yang menyilaukan.

    Ia mempunyai waktu untuk menelaah keadaan sekelilingnya karena (seperti biasanya) Liu selalu berada selangkah di belakang Rex. Membiarkan sosok itu sebagai juru bicara di antara mereka berdua. Bukan kenapa-kenapa sih, tapi kalau dirinya yang berada pada posisi pemuda itu saat ini...mulutnya terlalu ingin lepas menyatakan apa yang seharusnya.

    Jujur, Liu capek menjalani keadaan seperti ini. Bergerak sembunyi-sembunyi dan tidak bebas melakukan hal apa yang wajar. Sejak awal ia memang tidak setuju dengan ide 'jalan di belakang layar'. Tapi alasan demi alasan yang disampaikan Rex selama ini cukup membuatnya menahan diri. Tapi lama kelamaan...ia merasa jengah.

    Sebenarnya apa salah mereka di sini? Terlepas hubungan mereka saat ini yang mungkin bisa terlihat 'salah' di beberapa mata orang, tapi sekali lagi--apa salah mereka? Hanya karena yang satu adalah anggota keluarga terpandang di Inggris sana kah. Atau karena yang lain seorang atlit yang sedang dalam masa puncak karirnya. Atau justru karena kedua hal itu yang membuat media begitu semangat menyodorkan hidung untuk mencium kehidupan pribadi mereka?

    Benar-benar, tidak ada kerjaan lain apa?

    Liu hanya bisa mendengus saat memikirkannya. Matanya kini memandang punggung pacarnya--oh tunggu, khusus saat ini mereka hanyalah teman dekat--yang masih meladeni para wartawan dengan kebohongannya. Jawaban yang selalu sama untuk tiap pertanyaan yang tidak berubah juga. Membuatnya sedikit bertanya apakah semua wartawan di sini dungu. Dungu karena mereka tidak bosan juga mendengar jawaban yang sama berulang-ulang. Harus berapa kali diulang? Apakah harus sampai mulut pacarnya, ah maaf, temannya itu berbusa-busa?

    Mendengar hujaman-hujaman pertanyaan yang tidak berhenti juga, namun dengan nada semakin sengit, Liu merasa ada sesuatu yang putus di dalam otaknya. Hal yang membuat tangannya terulur untuk menggenggam lengan pemuda di hadapannya. Cengkeraman tiba-tibanya membuat yang di sana menoleh ke arahnya. Ekspresi heran lawan bertemu dengan ekspresi geram darinya--geram pada situasi saat ini.

    Tanpa menunggu lebih lama lagi, Liu melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dahulu.

    Sebuah ciuman. Di bibir. Lama--karena tangan lainnya berada pada belakang leher lawan, menahan agar yang di sana tidak menarik mundur darinya.

    Menurutnya, sebuah ciuman singkat sepertinya kurang sah di sini. Nanti akan ada lagi yang mengada-ngada dengan mengatakan apa yang mereka lakukan (jika memang cuma ciuman singkat) hanya upaya untuk mencari sensasi dari media massa. Tolol, sejak awal siapa yang menyodorkan hidung untuk mencium urusan orang!

    " There," kata pertama ketika ciuman itu berakhir. Nafasnya sedikit tersengal karena...sial, dia tidak menyangka yang satu itu bisa terasa panas. Harus diakuinya, mencium sosok ini secara bebas di muka umum memang menjadi keinginan terbesarnya. Dan Liu memperoleh (atau tepatnya mencuri) kesempatan itu sekarang, pada situasi yang mungkin bisa dikatakan melebihi dari konteks 'di depan muka umum' karena--ada kemungkinan seluruh pasang mata di penjuru dunia akan menonton adegan mereka barusan.

    Oh wow, ...membayangkannya saja lagi ia merasa excited begini?

    Heh. Pasti itu alasan kenapa rasa kesalnya kini berubah, terlukis menjadi satu cengiran lebar ,di wajahnya. Seolah ia sedang mengejek pada orang-orang yang kini terdiam, ntah sejak kapan.

    " Sudah lihat sendiri kan? Kami memang pacaran. Puas?"

    Pernyataannya tidak digubris. Semua tampak masih larut dalam suasana...syok? Lucu, untuk apa mereka syok pada hal yang selama ini mereka mati-matian coba buktikan. Melihat kerumunan yang masih layaknya zombie dungu, Liu menganggap ini kesempatan baginya dan Rex untuk pergi saja. Tangannya kini mendekap ke arah bahu sang pacar--ya, sudah boleh dia sebut pacar kan sekarang?--mencoba membawa sosok itu untuk menyingkir dari sana.

    " Permisi,"

    Sayang, suaranya kali ini menjadi aba-aba bagi kerumunan itu untuk kembali pecah dalam suara riuh rendah. Malahan, yang ini terdengar lebih ribut dari yang pertama tadi.

    Yah, apa boleh buat~

    Dan ngomong-ngomong, pemuda yang berada dalam dekapannya ini terdengar diam saja? Diam, tapi tidak sepenuhnya diam. Karena tangannya tidak luput merasakan tubuh lawan yang bergetar--menahan emosi.

    Oh, dia tahu persis, apa yang akan menunggunya di depan nanti. Bukan kali pertama ia berada pada situasi yang kurang lebih sejenis. Dan yang barusan terjadi pun serta merta tidak membuatnya harus merasa bersalah. Karena, hei, ia punya alasan untuk apa yang dilakukannya tadi. Justru dia yang harusnya bertanya, kenapa yang di sana masih betah bertahan dengan situasi mereka yang memuakkan itu.

    Tinggal menunggu saat mereka lepas dari kerumunan yang menggila bak anjing rabies ini dan menghilang di dalam kendaraan SUV hitam yang sudah menunggu sedari tadi di depan pintu hotel. Yeah, nanti sepertinya akan menjadi salah satu debat kusir spektakuler sepanjang masa mereka. Mungkin. Atau tidak. Ah, tidak mungkin tidak. Heck, buat apa dipikirkannya!

    Toh jawabannya akan ditemukannya sebentar lagi. Dalam hitungan beberapa langkah. Ketika pintu dengan lapis hitam pekat pada jendelanya menutup sempurna. Hening. Damai.

    Kemudian...

    --let all hell break loose.




    ~ F i n ~
    Edited by Cho Doo-joon, Apr 23 2014, 07:07 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Rexton Igneel
    Member Avatar

    Title: Isn't It Our Paradise?
    Genre: Mini Future Drabble - Song
    Song Inspiration: Black Paradise - B2ST
    Chara: Duo (mantan) preman yang tidak kunjung dewasa
    A/N: OOC-ness alert, warn you D<

    .
    .
    .

    Tidakkah kau takut?

    "Selamat." Kata pertama merobek keheningan dibalik kaca film hitam SUV yang melaju di jalanan lurus. "Kau baru saja menghancurkan usahaku menjaga semuanya tetap normal." Rex menutup kelopaknya, mencoba lebih fokus memerintahkan seluruh sel di tubuhnya agar berhenti gemetar. Dirinya yang setiap kali membariskan setiap sel penyusun ekspresi di wajahnya setiap kali berhadapan dengan blitz dan kamera. Dagunya yang selalu terangkat menantang tidak sedikitpun merasa kalau dirinya akan kalah begitu saja.

    Sebenarnya, apa yang dia perjuangkan selama ini?

    Membuat dirinya terlihat bodoh dengan memutar jawaban sama seperti kaset rusak. Sementara kedua telapak tangan yang berkeringat menyembunyikan diri dengan aman di kedua sakunya. Ia bukan seorang yang tanpa rasa takut, kau tahu.

    Mata dunia itu menakutkan. Pandangan curiga mereka--pernahkah yang dia lindungi di belakang punggungnya tahu--seberapa takutnya dia pada pasang-pasang mata itu?

    "Kau lihat bagaimana mata-mata mereka nyaris keluar dari soketnya? Itu yang kusebut sekumpulan idiot!" hempasan nada puas terdengar mengiritasi telinganya.

    Ah. Tentu saja. Itu bukan nada pengertian yang ingin dia dengar.

    "Bukan mereka. Kurasa otakku yang degradasi karena terlalu sering bicara denganmu." Ia beringsut menggeser posisi duduknya sejauh mungkin. Merasakan posisi sangat tidak nyaman ketika pipinya menempel pada jendela mobil dan meringkuk setelah puas melayangkan tatapan tajam menuduh. "Dan kau baru saja merontokkan beberapa IQ ku lagi dengan pertukaran ludah yang 'sangat mengesankan' tadi."

    Ia tahu suatu saat akan jadi seperti ini. Dengan sifat pa--teman bodohnya ini tentu saja akan jadi begini. Hanya saja, ia tidak merasa yang barusan terjadi itu nyata.

    Haruskah semudah itu pertahanan di garis batal normal yang dia bangun untuk dilihat dunia sepuasnya, diinjak tanpa bentuk tersisa? Rasanya seperti membangun istana pasir seharian berpanas-panas lalu Liu lewat menginjaknya sambil memasang cengiran tanpa dosa.

    Mungkin memang sekarang saatnya.

    ....


    PRANG!

    "Kau. Bilang. Apa?"

    Aneh. Dia mengatakn hal yang sama tiga kali seperti kaset rusak tapi tanggapan yang di sana bisa berbeda-beda. Memandangnya bego untuk yang pertama. Membuatnya memicing pada kilau cengiran bego dan ia harus mundur menyelamatkan tulangnya dari keropos dini saat dua tangan Liu terentang lebar. Yang ketiga sayangnya, bukan ditujukan padanya.

    "Vas itu harganya sama dengan gajimu setengah tahun." Pandangan bergulir jemu pada pecahan keramik berserakan di lantai. Seolah pecahan-pecahan tak beraturan itu memprotesnya melangkah lebih jauh. Tapi dia sudah memutuskan.

    "Kau tidak serius. Maksudku, ayolah. Ini bukan pertama kalinya Rex!"

    Ia bisa merasakan nada kecewa dibalik kemarahan itu.

    "Dan aku sudah lelah. Biar kukatakan sekali lagi." Jeda untuk memberi waktu yang di sana, kalau ingin membanting barang lagi maka silahkan. Dia tidak mau bicaranya disela oleh suara pecahan atau benturan apapun jadi lakukanlah selagi dirinya menghela napas.

    "Kita putus saja. Aku pulang ke London. Selesai perkara." Beri selamat padanya, dia merasa begitu ahli mengulangi kata-kata yang sama sejak insiden para wartawan itu. Selain mengulangi rutinitas sama menyingkirkan semua surat kabar dan mengguyur remote televisi ke kloset. Rutinitas yang sudah nyaris seperti hobi baginya setiap kali mendapati berita yang mencuat.

    Tidak mengertikah?

    Informasi menguasai dunia. Seorang atlit yang tidak memiliki dukungan latar belakang berlabel 'kaya' tidak akan dipandang sebelah mata pun kalau sampai kena skandal berkali-kali. Kehilangan sponsor satu demi satu membuat dirinya merasa sudah mematahkan satu per satu bulu di sayapmu. Yang seharusnya kau bisa bentangkan bebas hanya dengan menjadi dirimu sendiri.

    Ini bukan tentang dirinya yang bisa mendapatkan kembali nama baiknya begitu pindah negara. Dan ada berapa negara di dunia ini, kau pikir? Ini bukan tentang 'kita' yang sembunyi-sembunyi bergandengan tangan di bawah meja restoran. Bukan tentang pertukaran lirik singkat setiap kali berpapasan di tempat ramai dan akan menjadi sesuatu yang tidak singkat di tempat yang lebih pribadi.

    Ini tentang kau!

    Tidakkah kau takut kau tak akan bisa meraih impianmu?

    "Aku tidak tahan denganmu."

    Maaf, tapi dia bukan seorang yang tidak bisa merasakan takut untukmu.

    ~***~
    Edited by Rexton Igneel, Apr 23 2014, 10:02 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Cho Doo-joon
    Member Avatar

    Title: Inconvenient Truth
    Genre: drabble gaje (lagi-lagi) yang disulut dan terinspirasi oleh lagu dengan judul yang sama dengan fic ini.
    Warning: Future AU, slight rated for the content, maaf kalau tulisannya overly lebay yang mungkin bisa jadi OOC (tidak terbiasa nulis yang seperti ini orz) oh satu lagi, pengetahuan PM soal kriminal sangat minim, jadi kalau ada yang kurang masuk akal...harap maafkan saya *sungkem*
    Chara: tetap seseorang dengan seseorang yang sama juga.


    Bagaimana mungkin, seseorang bisa membunuh orang yang dicintainya?

    Pertanyaan yang terdengar tidak masuk akal. Karena, jika kau memang sungguh mencintainya...maka hal itu tidak akan pernah terjadi bukan?

    Tapi di sinilah dirinya sekarang. Diantara 2 orang detektif yang tengah menginterogasi dirinya atas kasus pembunuhan—terhadap kekasihnya sendiri.

    “ Aku...tidak bisa mengingatnya,” suaranya terdengar lemah.

    Pria paruh baya di hadapannya kembali menghela nafas mendengar jawaban yang sama untuk kesekian kalinya. Menatap pada rekan sekerjanya, sebelum yang di sana mengeluarkan selembar lain dari folder di tangan dan memberikannya pada pria itu.

    “ Bagaimana dengan ini. Anda ingat?” tanyanya lagi, sembari menyodorkan lembaran tersebut ke arahnya. Lembaran foto lain lagi, terletak diantara lembaran lain yang berserakan di atas permukaan meja.

    ..............Tidak.

    " Tidak," suaranya terdengar semakin lirih.

    Tapi jawaban yang menyedihkan itu tetap tidak menghentikan kedua detektif di hadapannya untuk melakukan pekerjaannya. Lembar demi lembar tetap terpapar di hadapannya. Memajang kilasan tubuh yang tidak ingin dilihatnya.


    Terus.


    Tanpa henti.



    " AKU TIDAK BISA MENGINGATNYA!!"


    Serta merta emosinya memuncak. Tangan mendorong kumpulan foto yang ada, menyerakkannya hingga sebagian besar lembaran itu terjatuh dari atas permukaan meja.

    Tidak dikenalinya lagi. Semua yang terpampang pada lembar itu tidak dikenalnya.

    Bukan seperti itu..., dirinya...



    Bohong.

    Ia bukan tidak bisa mengingatnya. Melainkan--takut. Liu takut mengingat. Tidak ingin. Tidak ingin mengingat apa yang sudah dilakukannya pada sosok itu.

    Alkohol? Heh, dia bisa mendengar pikirannya yang mentertawakan dirinya sendiri. Mengejeknya. Liu tahu, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pada substansi yang mengelabui pikirannya malam itu. Persetan! Bukan alkohol yang telah membuatnya berlaku--

    “ DIAM!”

    Hardikannya tidak mencukupi. Suara memuakkan itu tetap ada.
    Bahkan ketika tangannya memukul wajah itu untuk diam, tetap percuma.

    Kenapa kau bersuara seperti itu?Tidakkah kau menikmatinya?

    Persetan!

    Untuk apa ia merasa peduli. Karena bukankah yang di sana juga
    sudah tidak peduli lagi pada dirinya. Saat ini yang penting adalah dirinya sendiri.

    Cukup ia saja yang merasa puas, bukan?

    Maka biarkan kedua tangannya melakukan pekerjaan yang diketahuinya pasti
    akan membungkam suara itu. Ya, lebih erat. Semakin erat. Hingga suara yang
    memuakkan itu hilang. Menyisakan suara desahnya sendiri, dan juga pada dua kulit
    yang masih saling menampar.



    --M O N S T E R !


    Ntah sejak kapan tatapannya terpaku pada selembar foto yang masih bisa berada di permukaan meja. Terpaku pada lembar yang memotretkan warna biru memar pada leher jenjang yang dikenalnya. Pasti dikenalnya. Karena lekuk itu selalu dimanjakannya dalam kecupan--yang tidak akan bisa kau lakukan lagi, pembunuh!

    “ Anda sudah mengingatnya..., tuan Fei?”


    Hening.


    Bagaimana mungkin, seseorang membunuh orang yang dicintainya?

    Pertanyaan yang terus berulang, di mana Liu masih tidak bisa menjawabnya. Tidak bisa. Kecuali matanya yang terasa panas membakar saat ini--bisakah disebutnya sebagai jawaban?

    Kenapa?

    Pertanyaan lain muncul di kepalanya.


    .

    .

    .



    Emosinya.

    Ya. Emosi yang telah membutakan dirinya. Menutupi rasa cintanya.

    --yang akhirnya menyisakan satu tubuh membujur kaku untuk dipeluknya erat pagi tadi.


    "Aku tidak tahan denganmu."

    Seseorang bisa membunuh...
    orang yang dicintainya...



    *)Were you always a person who shook me up like this?
    My crooked, crooked, crooked lips call you
    As if I had a strong drink called tears



    ~ F I N ~

    *) Lirik dari lagu "Inconvenient Truth" - Lee Ji Young & HanHae (Phantom)
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Rexton Igneel
    Member Avatar

    Title: I'm Sorry
    Genre: AU seram:3
    Song Inspiration: I'm Sorry - B2ST
    Chara: Duo (mantan) preman yang akhirnya mati satu 8Da
    A/N: OOC, or not~
    Anak saya udah dibunuh, jadi mati juga akhirnya ya ;w;

    .
    .
    .

    "Aku tidak tahan denganmu."

    Is it hurt?

    Ia tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi begitu pengecut. Ia tidak tahu sejak kapan kata 'I love you' terdengar menakutkan di telinganya sendiri daripada kata 'I hate you'. Hei, dia sudah terbiasa menjadi pengecut dengan mengungkapkan apa yang dirasakannya dalam ekspresi sebaliknya. Mungkin, ia terlalu menikmati menjadi seorang yang kerdil hingga ia lupa, kata-katanya bisa menjadi pisau bermata dua.

    Pandangannya mengunci satu titik noda di dinding seolah titik yang entah kotoran cicak atau pecahan vas yang terpelanting melubangi dinding itu hal paling menakjubkan di ruangan.

    Sejujurnya, satu titik itu terlihat lebih ramah daripada tatapan lawan yang menghujamkan rasa nyeri bahkan saat dia tak sanggup menatap langsung sepertii sekarang.

    Am I hurt you?

    Sudah sedikit terlambat untuk menanyakan. Ketika satu sentakan dirasakan tubuh kakunya. Kini ia bertanya, apakah membiarkan tubuhnya terserat kasar ke ruangan yang dulunya adalah kamar mereka berdua, bisa sedikit meringankan rasa sakit di dadanya. Apakah, hempasan pada tubuhnya ataukah rasa sesak tertindih lawan yang membuatnya merasa ia harus mengatakannya sekarang atau tidak akan ada kesempatan lagi?

    "I..."

    Untuk mengucapkan kata 'I love you' yang disimpannya begitu lama hingga kini terasa nyaris melompat dari ujung lidahnya tanpa bisa dia tahan lebih lama?

    "I'm sorry..." Kata-katanya menggantung ragu, ia tidak bisa memanggil kekasihnya begitu saja. Ini masalah lidah dan kepalanya yang tidak pernah akur.

    Honey? Tidak, tidak. Dia bukan lebah. Kenapa harus memanggil kekasihnya dengan itu? Baby? No! Membayangkan bayi sebesar Liu membuatnya bergidik sendiri.

    Hei, harus memanggilmu apa?

    Tatapan akhirnya bergulir mencuri tangkap mata lawan yang akhirnya membuatnya menyadari, tidak ada kata yang bisa diucapkannya lagi.

    Tidak.

    Ia sudah terlambat.

    Kehangatan yang selalu memeluknya dari sepasang mata itu sudah pergi. Berganti tatapan rapuh yang terbalut amarah dan kebingungan.

    So, I've been hurt you this much?

    Detik berikutnya bersamaan dengan kata 'sorry' yang terucap seperti mantera, ia mendapatkan pertanyaannya terjawab. Seberapa perih kata-katanya menggores lawan dirasakannya pada tiap jengkal kulitnya. Seberapa keras dia menghempaskan sosok ini karena diri yang terlalu pengecut, tertoreh dalam gelombang nyeri yang membuatnya merasa tiap detiknya dia nyaris tercabik menjadi dua di bawah sana.

    "...I'm...sorry..."

    Tangannya terulur menggapai wajah yang dulu paling suka dipeluknya dalam tidur menyaingi bantal kesayangan.

    Wajah yang tidak ingin dilihatnya memburam seiring rasa dingin yang mulai menggantikan gelombang sakit menerpa dari ujung jemari kakinya.

    Apakah dia akan mati?

    "...I'm...cold..."

    Tubuhnya mendingin. Seluruh tubuhnya tidak mau menurut, satu demi satu kehilangan tenaga. Rasanya sama sekali tidak sakit. Hanya dingin.

    Jadi, inikah kenapa manusia takut mati?

    Karena ia bahkan tidak bisa memanggil nama kekasihnya lagi.

    Will you at least hear my excuses?
    .
    .
    .
    And will you hold my hand again?


    Tidak bisa lagi.



    ~***~
    Edited by Rexton Igneel, Apr 24 2014, 09:05 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Nicholas Cho
    Member Avatar

    Title: Epilogue: Melted
    Genre: ...Ngh, semoga ini yang terakhir untuk sub AU mereka yang gaje ini
    Warning: -idem- males mendetilkannya, anggap sama dengan yang sebelumnya.
    Chara: Masih mereka juga *senyum miring*
    Song Inspiration: Melted by AKMU. Lagu dan liriknya mungkin ga nyambung ama fic-nya, tapi feel lagunya saya suka untuk mengetik fic ini *shrugs*


    .

    .

    .


    "I'm sorry..."


    "...I'm...sorry..."


    “ DIAM!”


    "I..."


    "...I'm...cold..."



    ....Cold

    .

    .

    .

    Cold



    Matanya terbelalak membuka.

    Meraup nafas sebanyak mungkin seolah beberapa detik barusan ia lupa bagaimana caranya bernafas. Liu merasakan setetes keringat dingin yang menyusur pada sisi wajahnya, sementara bulu kuduknya terasa meremang tidak menyaman.

    ....Apa-apaan itu tadi?!!

    Hanya beberapa detik kemudian ia baru menyadari bahwa ia tengah berada di atas permukaan kasur. Tatapannya saat ini tengah melekat pada jendela yang menyelusupkan sinar matahari pagi dari lapis vitrase. Ia.....sendiri saja? Rasa panik sesaat membuat tubuhnya segera berbalik, menemukan...ia tidak sendiri di sini.

    Rasa paniknya larut dalam ritme nafasnya yang kembali memelan, seirama dengan punggung polos yang tengah ditatapnya saat ini. Tampak bergerak naik turun perlahan, masih damai dalam tidurnya.

    Satu hela nafas panjang lepas dari bibirnya. Kedua tangan menggosok wajahnya sebelum berakhir menyisir kepalanya, mencengkeram helai rambut di antara jemarinya. Berpikir tentang--gila, mimpi macam apa yang barusan hinggap di kepalanya?!!

    "...I'm...cold..."

    Dia, tidak mungkin melakukan itu kan? Karena...bagaimana mungkin, seseorang membunuh orang yang dicintainya?

    "Aku tidak tahan denganmu."

    ...

    Baiklah. Ia akui, kemarin memang salah satu debat kusir, ah tidak, kemarin adalah salah satu pertengkaran heboh spektakuler mereka sepanjang masa. Membuatnya emosi? Tentu. Saling adu urat yang menegang? Seperti biasa. Hingga batas yang merasa membuat mereka berdua akan menghancurkan satu sama lain.

    Tapi tidak. Pertengkaran bukanlah suatu hal yang asing lagi pada mereka. Tahun kebersamaan yang sudah mereka lalui, sudah memberikan mereka kesempatan untuk lebih mengerti satu sama lain. Mungkin akan menjadi pelajaran yang panjang. Tapi, yang namanya hubungan...siapa bilang akan berjalan mulus, bukan?

    Sepahit dan semengerikan apa pun pertengkaran mereka, Liu tahu...mereka pasti bisa melauinya.

    Dan tahu apa yang disukainya dari setiap akhir pertengkaran mereka? Pertarungan yang tidak kalah panasnya untuk merasakan satu sama lain. Heh. Liu merasakan tiap sudut bibirnya tertarik dalam sebuah cengiran. Memikirkan nasib serpih pecahan vas (yang katanya seharga gajinya selama setengah tahun) kemarin tidak akan bisa mengalahkan helai pakaian yang berserakan di lantai kamar mereka saat ini.

    It’s worth it.

    Dan yang paling utama, mereka belajar untuk lebih saling mengerti.

    "...I'm...cold..."

    Senyum cengirnya sempat menghilang sesaat, hanya untuk menghela nafasnya lagi. Mengutuk lagi pikirannya yang bisa-bisanya membuat ia bermimpi mengerikan seperti tadi. Mendenguskan nafasnya, sebelum badannya kembali meringsek ke dalam selimut. Hendak mendekat pada punggung hangat di sampingnya, menutup matanya dengan damai, dan mengijinkan alam mimpi menginvasi kesadarannya.



    “ ........!!!!!”

    “ ....!!!!”

    Atau tidak.


    " ...!!!!!"

    ...

    Brengsek!

    Niatnya untuk kembali tidur nyenyak terganggu oleh suara-suara di luar kamar mereka. Sejak kapan mereka punya tetangga ribut begini?!! Bukankah ini apartemen kelas atas yang harusnya semua berlaku lebih... tenang dan beretika.

    Suara ribut di luar sana mau tidak mau membuatnya semakin kesal. Mungkin dia akan protes juga pada pengelola apartemen ini. Apa waktu pembangunan gedung ini mereka ada mengkorupsi bahan-bahan dindingnya? Karena, hei, suara-suara di luar sana terlalu mudah untuk menembus lapis dinding mereka—hingga ke kamar tidur?!!

    " ...!!!!!"

    Cukup.

    Dia akan bangun sekarang. Menghardik para orang-orang berisik di luar sana. Seenaknya saja mengganggu ketenangan orang tidur. Tangan sudah memegang erat ujung selimut, hendak menyentaknya terbuka ketika—GREP!—sepasang tangan melingkar pada pinggangnya.

    Liu tidak sadar, bahwa punggung di sampingnya telah berbalik. Menampakkan wajah pemiliknya yang masih enggan membuka kelopak matanya tapi ia tahu--

    “ Sudah, hiraukan saja mereka,”

    --uh oh, dia sudah membuatnya terbangun

    “.... Sori, aku tidak bermaksud... ,” Liu merasa tubuhnya hendak bangun tadi kembali merileks di atas empuknya kasur. Melupakan niatan awalnya untuk bangun dan menendang satu persatu orang di luar sana, “ Mereka berisik sekali, aku--,” kalimatnya terpotong ketika tubuh lawan lebih merapat ke arah dirinya. Tangan itu kini menarik paksa kepalanya untuk beristirahat pada lekuk leher Rex—bagian yang selalu disukainya.

    “ Sudah, biarkan saja,” suaranya yang terdengar serak tetap tidak bisa menutup nada iritasi di sana, "... kau kembali tidur saja, bodoh...,”

    Dan Liu hanya tersenyum kecil mendengarnya.

    Yang di luar sana, patut berterima kasih pada pemuda ini. Karena berkat pacarnya ini ia tidak harus keluar dan menyampaikan salam 'cinta'nya pada mereka.

    Satu kecup pada lekuk leher itu, sebelum ia membenamkan penciumannya di sana. Meraup sebanyak mungkin aroma yang tidak pernah gagal untuk membuatnya tenang. Dan, ajaibnya, suara-suara yang mengganggu itu pun perlahan semakin jauh dari pendengarannya. Menjauh, bersama dengan kesadarannya yang semakin melayang.


    Seperti katamu, —memang cukup dia hiraukan saja ya...




    .




    .




    .




    .




    .





    Breaking News
     
    Athlete Olympic Found Dead in His Cell

    Yesterday (25/6) Zhang Liu Fei (2X), an athlete olympic who
    is being accused in murdering his partner, had commit
    a suicide in his cell. One of the prison guard find him
    dying in his cell, but unfortunately they didn't have time
    to save him in time. Liu had commit suicide by...





    ***
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Higuma Masashi
    Member Avatar
    A Kuma
    Title: Epilog ver cerah: A.N.S.W.E.R.
    Genre: katanya sih AU di dalam AU~
    Song Inspiration: In Hell - Choking Victim
    Chara: Duo (mantan) preman nan manis
    A/N: Ini persepsi saya, gajeness dan OOCness dimaafkan lah ya *tebar senyum gigi rata*

    .
    .
    .

    You may find
    My appearance and demeanor foolish


    "Selamat." "Kau baru saja menghancurkan usahaku menjaga semuanya tetap normal."

    Ah, normal. Apa itu normal?

    Lihatlah bola matanya berputar mengejek menanggapi nada yang terlalu datar. Dikiranya bakal sedikit lebih berwarna, pertengkaran yang dia nantikan ini. Ah tidak, tunggu. Bukan berarti dia menyukai pertengkaran hanya saja, ia tidak pernah dibuat terpukau dengan bahasa Rex dalam mengungkapkan kekesalan padanya. Apa susahnya bilang 'kau brengsek' dengan singkat. Dia bakal lebih mengerti yang begitu daripada mencomot kata-kata sindiran yang berbeda setiap kali.


    "Kau lihat bagaimana mata-mata mereka nyaris keluar dari soketnya? Itu yang kusebut sekumpulan idiot!"

    Nah, seperti yang baru saja dia katakan. Lihat tidak efek memaki langsung orang-orang yang membuatnya kesal dengan sebutan 'idiot'? Ia merasa puas sekali sampai senyumnya membelah lebar, nyaris bisa dibilang dari telinga sampai ke telinga lebarnya.

    "Bukan mereka. Kurasa otakku yang degradasi karena terlalu sering bicara denganmu." "Dan kau baru saja merontokkan beberapa IQ ku lagi dengan pertukaran ludah yang 'sangat mengesankan' tadi."

    "Soal itu, bagaimana kalau kita lanjutkan di rumah?" Cengirannya melebar seinchi lagi rasanya. Anehkah kalau dia senang setiap kali Rex memberinya tatapan menuduh? Ia merasa jadi ingin sedikit menggoda. Setiap serangan dengan kata unik yang mungkin hanya ada di kamus ejaan borjuis, bukannya tidak membuatnya merasa diserang. Justru cengiran ini adalah pertahanan paling efektifnya sebagai gerakan 'parry-riposte'--bertahan lalu serang.

    Atau..dalam kasusnya selalu menjadi bertahan sekalian serang. Ia yang paling tahu Rex bukannya tidak bisa makin marah kalau dia menunjukkan cengiran damai bersahabat. Rex itu, hanya kelewat sabar apa ya?

    But it is you who plays the fool

    Atau kelewat bodoh.

    Bisa-bisanya menahan makian di depan orang-orang tadi. Kalau terus diserang, wajar saja kita bakal bertahan. Mencuri poin balik kalau perlu. Instingnya sudah selalu memegang prinsip itu jadi katakanlah, dia puas sekali bisa mengabadikan wajah-wajah syok nan bego ala para wartawan nyinyir selama 3 detik tadi.

    ...

    "Kita putus saja."

    "Hah?" Sepertinya ada yang salah makan di sini. Tapi dia belum makan apa-apa, jadi--

    Rex, kau salah makan?

    --menatap muka masam yang masih nampak normal-normal saja di sana dengan tatapan heran.

    "Kita putus saja. Aku pulang ke London."

    Kalau bukan salah makan, katakan itu hanya bercanda dan kemarilah. Datang ke tangan yang damai terentang ini. Pelukan yang bakal menghangatkan kesuraman wajah yang di sana, juga mendinginkan panas di dadanya. Karena kata 'putus' adalah kata yang lebih membuatnya marah daripada kata 'kalah' dalam pertandingan.

    Mari berdamai, oke?

    "Kita putus saja. Aku pulang ke London. Selesai perkara."

    PRANG!

    Oh tangannya terpeleset ya. Baguslah, di sini ada banyak barang-barang yang akan menerima tanpa protes tangannya yang terpeleset. "Aku akan menggantinya. Kemarilah."

    Tangan kembali terentang terbuka. Untuk seorang--

    "Aku tidak tahan denganmu."

    --yang memilih tidak datang padanya.

    GREP.

    Maka tentu saja dirinya yang akan datang kepadamu. Menggenggam erat lengan kurus yang seolah akan pergi kalau tidak dia tahan detik ini juga.

    "Kau akan pergi begitu saja?" Rasa panas ini buruk. Karena dia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana napasnya bisa sedekat ini dengan pacarnya. Yang dia tahu, sosok ini tidak boleh pergi dan tembok di ruangan cukup rata untuk mendesak lawan. Posisi yang memberinya keuntungan agar lawan tidak bisa kemana-mana, saat ini.

    "Setidaknya selesaikan masalah di sini," membawa pergelangan dalam cengkeramannya ke dada kiri.

    Bisa kau dengar?

    Detak yang memprotes kata putus sialanmu itu!


    Hell is life

    "Dan di sini." Membawa sang tangan menysur ke bawah. Bertemu dengan denyutan lain yang sejak tadi coba diabaikannya. Rasa ekstasi yang tidak bisa dia mengerti selain kebanggaan bahwa ia bisa mencium pacarnya di depan semua mata. Menyatakan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa-apa maka tidak perlu bersembunyi.

    "Kau boleh pergi," nafasnya menyusur jejak penuh pengenalan pada garis rahang yang begitu dikenal. Menyusur hingga satu gigit pada leher putih yang dia puja. Oh dia menyukai sensasi meremang setiap inchi kulit itu hanya karena sentuhan napasnya.

    "Kau boleh pergi setelah menyelesaikan semua urusan. Bukankah kau yang terhormat dan aku yang brengsek?"

    Benar. Dia-lah yang brengsek. Dia-lah yang memesan langganan koran tapi tak pernah minat membaca satu pun karena dia tahu kemana nasib si para koran itu. Dia juga tidak pernah berkabung untuk remote tivi yang digantikan oleh jempol kakinya memencet tombol tivinya langsung jika ingin menonton ulang pertandingan yang dia sukai. Dia-lah, yang akan 'mencintaimu' hingga hanya namanya yang akan tertinggal di pikiran dan lidahmu hingga pagi.

    Ada berapa vas di rumah ini? Biar dia pecahkan semua. Lalu akan dia buat perjanjian untuk mengganti semuanya sampai lunas. Kalau itu yang diperlukan untuk membuat Rex tinggal.

    Kau tahu?
    Dia suka menjadi seorang yang brengsek jika sudah menyangkut dirimu.


    In hell we learn but soon forget



    ~FIN~
    Edited by Higuma Masashi, Apr 25 2014, 10:33 PM.
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Zhang Liu Fei
    Member Avatar
    Wild & Sexy
    In Memoriam
    ***
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    Cho Yoon Kwang
    Member Avatar

    Bantjih~~~~<3 *meskipun yg ini ga keliatan karena pake imgur, sih*
    Jadiin wally ah, lucu sih bikin deja vu ama hime *hihihih*
    Offline Profile Quote Post Goto Top
     
    1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
    ZetaBoards - Free Forum Hosting
    Free Forums with no limits on posts or members.
    Learn More · Sign-up for Free
    Go to Next Page
    « Previous Topic · Fanfic & ori fic · Next Topic »
    Add Reply

    Der kleine Prinze designed and coded by Crux Corvus
    for Toshi Haku, 2010 - Present.