|
- Posts:
- 4
- Group:
- Unregist
- Member
- #1,156
- Joined:
- Jan 11, 2012
- Umur
- 17 y.o
- Deskripsi
- stoic | almost emotionless
- Status/orientasi
- unknown
- Bahasa (max.3)
- Russia & English
- Kewarganegaraan
- Russia
- Pekerjaan
- Violist hotel di Solomon Royale Grand Hotel
- Kimu
- 2250
|
CITIZEN
Nama: Kirill Ives Leonel Lutrov Tempat & Tanggal lahir: Sakhalin Oblast Federation (Russia), 1 Februari 1993 Umur: 17 y.o Gender: male Kewarganegaraan: Russia Pekerjaan: Guru les Deskripsi karakter:
- Surai hitam kecokelatan, iris biru langit, kulit putih pucat dengan ciri fisik kaukasia lainnya.
- Memiliki tubuh kurus, yang terbalut apik dengan pakaian berkualitas baik. Memiliki hobi bermain musik (especially biola dan piano), menyukai makanan manis, hampir seluruh pakaiannya berwarna hitam yang akan dipadu dengan warna biru atau putih.
Tinggi/Berat: 179 cm/ 50 kg Sifat:
- Pendiam, terlihat begitu dingin namun cukup menaruh interest kepada sekelilingnya.
- Tertutup kepada orang yang tidak dikenalnya, namun peduli hanya untuk menawarkan sedikit bantuan kecil.
- Tidak menyukai seorang yang ikut campur urusan lain, sesuatu yang tidak logis, atau disudutkan pada suatu keadaan.
- Kelemahan: menaruh segala pengetahuan dapat dicari melalui buku, tidak mengenal banyaknya emosi seperti kebanyakan orang, tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain secara ‘benar’, lebih cenderung hidup di dunia pikirnya sendiri.
- Kelebihan: dapat memainkan alat musik apapun, terlihat tenang nyaris dalam situasi apapun, menguasai bahasa dengan baik.
Status/orientasi: single Visualisasi: Sacha Dumain / Sacha Hilton Latar belakang singkat: Seorang anak sulung dari tiga bersaudara, memiliki darah Russia-Perancis dari pasangan Karoline Delacroix Lutrova dengan Igor Lutrov. Lahir dan dibesarkan di daerah Alexandrovsk-Sakhalinsky, Sakhalin Oblast Federation (Russia) pendidikan informal diberikan dengan memanggil dengan tutor dalam segala bidang (bahasa, tata krama, musik, politik, sejarah, seni bela diri, ekonomi dan bisnis) tanpa melakukan interaksi sosial dengan teman seusianya. Segala yang dilakukan oleh Leonel Lutrov tidak lebih dan tidak kurang untuk memajukan usaha keluarga di bidang pertambangan minyak dan gas bumi di Russia. Namun, keinginannya untuk melanjutkan sekolah di Negeri nun jauh di sana menjadi pilihan hidupnya. Empat tahun, dan harus kembali dengan sebuah gelar bersandang di belakang namanya. Perjanjian tidak tertulis, tetapi tetap menjadi sebuah perjanjian antara gentlemen.
RP Regis:
Januari 2012, dinner time. Alexandrovsk-Sakhalinsky, Sakhalin Oblast Federation, Russia. Lutrov’s Manor, dinning table.
Malam itu terasa sunyi, hanya suara piring dan sendok beradu—bahkan hal ini nyaris terdengar dengan tata krama di atas meja makan yang diajarkan bahkan semenjak dini. Terlalu dini, sebelum mereka—anak-anak mereka mengetahui nama dari benda yang mereka gunakan. Namun tak ada seorang pun di sana berani membantah, atau konsekuensi dapat ditanggung sendiri. Oh, tegas dan disiplin bukan berarti keluarga mereka kekurangan kasih sayang. Tidak sama sekali, mereka memilih untuk menjadi keluarga yang demokratis, dimana ide-ide akan ditampung, disaring kelogisannya, seperti saat ini. Saat makan malam, dimana seluruh keluarga berkumpul membahas suatu keputusan yang penting, setidaknya bagi sang sulung.
“Apakah keputusanmu sudah bulat, Leonel?” suara berat khas milik Igor, sang kepala keluarga memecah keheningan dalam ruangan. Membuat sang pemilik nama refleks menatap biru identik dengannya, “yes, father.”
“Tidakkah Toshi Haku terlalu jauh untuk mendapatkan pendidikan? Di sini, di Russia banyak sekali institusi yang—“
“Karoline, my darling,” potong sang kepala keluarga penuh dengan ketegasan juga kasih sayang, “it’s his decision, not ours. It’s time for him to see the world as he grown up, and soon he’ll be an adult as we are.”
Tidak ada lagi yang bicara, hanya sebuah isak tangis yang tertahan oleh sang adik—Mandy dan Nabel. Masih terlalu kecil untuk memahami keputusan Leon untuk pindah, tidak mampu menatap mata mereka, Leon bergumam sambil mengepalkan telapak tangannya di bawah meja, “thanks for your understanding, Pa. I’ll take the flight the day after tomorrow.”
“Sure. Be proud with who you are, and don’t shame on us.”
|
|
|
Ziven Egan
|
Jan 11 2012, 02:00 PM
Post #2
|