| Daily News | ||
|---|---|---|
Toshi Haku Opreg 07 April - 14 April |
(c) to the rightful owner
| |
| Toshi Haku Board | ||
|---|---|---|
| Selamat datang di Toshi Haku. Toshi Haku adalah forum roleplay berbasis kehidupan sehari-hari di sebuah negara kota fiksi di kawasan Asia Timur. Buat dan daftarkan karakter kalian di sini dan jadilah bagian dari warga Toshi Haku. Jangan lupa baca peraturan dan cara bermain di sini terlebih dahulu. Salam, Crux corvus |
| Madoka Vier Parker; Kids, done | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Oct 1 2011, 12:14 AM (145 Views) | |
| Vier A. Crozzeria | Oct 1 2011, 12:14 AM Post #1 |
|
ANAK-ANAK Nama: Madoka Vier Parker Tempat & Tanggal lahir: Toshi Haku, 10 Oktober 2001 Umur: 10 y/o Gender: Female Kewarganegaraan: Toshi Haku Kelas: Tidak sekolah tapi tetap mendapatkan pelajaran sesuai sekolah umum dari Biarawati di gereja Deskripsi karakter:
Tinggi/Berat: 140 cm/ 35 kg Sifat:
Nama wali/orang tua: Kunimitsu Doumeki Visualisasi: Yuri Nakae (Tokyo Girl Style) Latar belakang singkat: Anak yang lahir dari seorang ibu yang lemah dan ayah yang punya kecenderungan sadistic dan abused, pada usianya yang ke 7 Vier dikunci oleh ibunya di dalam lemari gelap dikarenakan sang Ayah yang pulang ke rumah, hendak memukuli mereka lagi, namun pertengkaran itu malah membuat bencana yang mengakibatkan Traumatik baginya. Nama karakter dewasa yang dimiliki PM: Alexie A. Valerie RP Regis: Toshi Haku 2008 Vier merasa sangat hampa dan lembab di dalam kegelapan lemari di kamarnya, ia meringkuk kedinginan. Suara-suara itu membuatnya gila. Teriakan ibunya yang berteriak meminta ayahnya untuk berhenti memukulnya, bau minuman keras yang menyengat bercampur dengan keringat dan darah. Vier tidak bisa berbuat banyak, tubuh kecilnya hanya bisa diam meringkuk seperti patung di tengah taman kota. Ibunya menguncinya di dalam sana, berharap Vier tidak menjadi sasaran amukan seperti dirinya. Ibuku sayang, ibuku tercinta... tuhan tolonglah dia.... Arrghhhhhh---- Teriakan itu menyakiti ulu hati Vier. Dari sela-sela lemari, anak itu menyaksikan bagaimana ibunya dipukuli jauh lebih kejam daripada sebelum-sebelumnya dan teriakan itu jelas hanya memancing ayahnya berbuat lebih kejam lagi. “Mom.” Vier menangis, ia menggedor-gedor pintu lemarinya meminta keluar—ia tidak mau disini, ia ingin bersama ibunya, ia tidak peduli jika iblis itu juga menyakitinya asalkan ia bersama ibunya. “Mommy… Open the door!” —Suara Vier tertelan oleh teriakan histeris ibunya, walau ia berteriak seperti apapun, tidak ada satupun, baik malaikat penjaganya maupun dewa kematiannya yang mendengar bagaimana ia berteriak meminta pintu ini dibukakan—hingga— DOR! —Suara tembakan itu terdengar membahana di dalam ruangan yang hanya beberapa petak ini. Namun ini tetaplah daerah merah, sehingga tidak aneh jika beberapa orang mendengarkan suara tembakan seperti itu. Mata Vier membulat—refleksi itu terekam di benaknya dan mulai kembali diputar secara perlahan—membuat jiwanya mati saat itu juga. Vier berteriak hingga suaranya bagai membelah langit, histeris melihat tubuh ibunya berlumuran darah, tatapan matanya kosong, dan perlahan tubuhnya pun roboh di lantai. Mendengar suara teriakan itu, iblis itu mendekatinya, Vier berteriak terkejut, mencoba menahan pintu itu agar tetap tertutup namun itu mustahil bukan? Anak bertubuh kecil melawan pria bertubuh besar. Sungguh mustahil. Pintu terbuka, Vier reflek berteriak namun moncong pistol itu disodorkan dan dimasukkan ke dalam mulut Vier. “SHUT UP U B*TCH!” dan Vier pun terdiam—airmatanya sontak kering, menyisakan jejak-jejak di pipinya yang merah merona—suaranya menghilang dan ia hanya bisa menatap bola mata hitam itu lekat-lekat. Disana, ada bayangan dirinya, sangat jelas, tengah menjemput kematian. “Apa kau ingin bermain dulu, anakku sayang?” Vier bisa merasakan jarum jam yang bergerak perlahan, juga suara jantungnya beradu di kedua daun telinganya. Iblis itu menarik rambut panjang Vier dengan kasar—sakit, menggeretnya keluar dari persembunyiannya—tapi Vier tidak berteriak—ia lupa caranya berteriak. Tubuhnya basah, oleh apa? Bau apa ini? Lalu cairan itu dialirkan di sepanjang jalur darinya ke tempat sang ibu berbaring dengan mata tetap terbuka dan cairan yang memiliki bau yang khas itu habis di kaki sang ibu. Kress— Vier melihat seringai di wajah iblisnya. “Ini, namanya korek. Kita akan main bakar-bakaran. Aku membakar, dan kau terbakar.” Dan seringaian itu semakin lebar saja. “Go to hell.” Seringaian itu adalah seringaian setan bahkan lebih kejam daripada para setan yang dibacakan dalam buku cerita tentang neraka. Mata Vier membulat, tubuhnya terdiam—terbaring di lantai dengan kepala sedikit terangkat, tegak lurus dengan kepala sang ibu yang tak bernyawa. Melihat Api itu menjalar dan membakar tubuh ibunya perlahan. Inikah akhirnya? Toshi Haku 2011 “Lihat itu Vier…” Ibu biarawati menunjukkan semua keindahan pada Vier sejak gadis itu dibawa ke Dandelion (panti asuhan) untuk dirawat setelah peristiwa tragis itu. Matahari, hujan, bunga, bebatuan, kicauan burung. Segala yang bisa disyukuri pada Tuhan diajarkan pada Vier. Bahwa gelap tidaklah selalu menakutkan karena di saat gelapnya malam, selalu ada bintang dan bulan yang menyinarinya dan pada salah satu bintang di langit, ada satu bintang yang merupakan perwujudan arwah sang ibu yang senantiasa melindunginya— begitu kata ibu biarawati. Vier menarik baju ibu biarawati yang senantiasa bersamanya selama tiga tahun belakang ini, memberinya isyarat bahwa ia ingin bernyanyi. “Kau ingin bernyanyi?” Tanya sang ibu dengan senyuman hangatnya. Sejak ia mengajak Vier rutin setiap minggunya ke aula gereja untuk melihat para anak-anak panti asuhan yang berlatih bernyanyi lagu-lagu pujian, ia mengira awalnya Vier tidak memiliki minat karena anak itu nampak tidak memiliki respon apapun, namun sekitar dua bulan lalu, dengan takjub sang ibu melihat anak itu bernyanyi sendiri di aula dengan nada yang hampir sama persis seperti sang penyanyi utama pada latihan paduan suara itu—bahkan mungkin lebih baik. Ia merasakan itu adalah mukjizat dari Tuhan kepada anak itu setelah kejadian tragis itu membuatnya kehilangan ‘suara’nya. Tapi begitu sang ibu mendekatinya dan mengajaknya bicara, Vier kembali terdiam. Tidak bicara—tidak pula bernyanyi. Dan sekarang, anak itu kembali ingin menyumbangkan suara emasnya di hamparan padang rumput yang indah di dekat gereja. —Amazing Grace—Anugerah yang menakjubkan—sungguh lagu yang sangat pas untuk menggambarkan hari ini. Setelah menyelesaikan satu lagu penuh itu, Vier tersenyum lebar, menarik ujung-ujung gaun roknya dan memberi hormat pada sang ibu yang tengah duduk melihatnya bernyanyi. Sungguh kuasa Tuhan, anak itu telah diberikan anugerah yang sungguh luar biasa. Puji Tuhan! Sambil membentuk tanda salib dan menghapus airmatanya yang tak kuasa jatuh, sang ibu memeluk Vier erat dan memanjatkan do’a dalam hatinya. Semoga kau selalu dibimbing oleh-NYA, dan suatu hari akan datang tiba jiwamu kembali ke dalam ragamu. Berbahagia selalu, malaikat kecil-ku. ooc: maaf RP Regisnya panjang, sekalian ceritain masa lalunya, biar ga usah bikin Fanfic lagi *gubrak* Edited by Vier A. Crozzeria, Oct 9 2011, 08:50 PM.
|
![]() |
|
| Ziven Egan | Oct 2 2011, 10:33 PM Post #2 |
![]()
Wakil Kepala Negara
|
Approved |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Approved registration · Next Topic » |


(c) to the rightful owner






7:51 AM Jul 11