| Daily News | ||
|---|---|---|
Toshi Haku Opreg 07 April - 14 April |
(c) to the rightful owner
| |
| Toshi Haku Board | ||
|---|---|---|
| Selamat datang di Toshi Haku. Toshi Haku adalah forum roleplay berbasis kehidupan sehari-hari di sebuah negara kota fiksi di kawasan Asia Timur. Buat dan daftarkan karakter kalian di sini dan jadilah bagian dari warga Toshi Haku. Jangan lupa baca peraturan dan cara bermain di sini terlebih dahulu. Salam, Crux corvus |
| Hunter Jefferson | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 12 2011, 05:45 PM (92 Views) | |
| Deleted User | Sep 12 2011, 05:45 PM Post #1 |
|
Deleted User
|
CITIZEN Nama: Hunter Jefferson Tempat & Tanggal lahir: & Australia & 08/05/84 Umur:27 thn Gender:Male Kewarganegaraan:Lokal (Toshi Haku)Pekerjaan:Designer pakaian Deskripsi karakter:rambut semi gondrong berwarna pirang, bermata biru, kulit putih, berbadan tegap, suka berjalan dengan menundukan kepalanya, ia selalu menggunakan topi kupluk kalau sedang berada di luar rumah, ia pun suka menggunakan pakaian yang casual seperti kaos ketat dan celana jeans biasa dan hanya menggunakan stelan khusus saat acara tertentu misalkan dalam acara fashion show yang ia adakah. Hobinya adalah tentu saja menggambar design pakaian, tetapi ia punya satu hobi lagi yaitu bermain gitar dan menyanyi, hanya ia merasa tidak percaya diri dalam kemampuan ia bermusik sudah terlanjur merasa lebih ahli dalam design pakaian. Ia paling tidak suka jika ada orang tahu tentang hobinya bermusik, ia pun tidak suka dengan makanan pedas dan sedang belajar untuk menjadi vegan Tinggi/Berat: 178cm/70 (dalam cm/kg) Sifat:Seorang yang pendiam bagi orang yang belum terlalu ia kenal dan memang ia orang yang termsuk orang yang tidak suka banyak bicara lebih senang menyendiri apalagi dalam pekerjaan.Ia terkadang menjadi tempramen jika ada sesuatu yang mengusiknya, tentu saja ia sering kali kesulitan mengatur emosinya yang labil. Ia juga seorang romantis jika berhadapan dengan seseorang yang ia suka. Ia pandai mendesign baju dan bakat musiknya walau ia tidak menyadarinya dan malah merasa minder dengan bakat yang ia miliki itu. Status/orientasi: complicated/gay Visualisasi: (Darren Hayes) Latar belakang singkat:Hunter seorang anak dari pasangan Lilian dan Octavius Jefferson (alm) tapi kemudian Lilian menikah lagi dengan William Oguri yang merupakan warga asli Toshi Haku, maka setelah Octavius meninggal akibat kecelakaan, sesuai dengan pesan Octavius sebelum meninggal bahwa William akan menjaga Lilian, maka akhirnya William menikah dengan lilian juga dengan maksud agar ada yang menjadi figure ayah bagi Hunter dan akhirnya mereka menetap di Toshi Haku. Hunter memang tidak menyukai William, ia pikir Williamlah yang merebut ibunya dari ayah kandungnya karena mengingat mereka bersahabat dan William diam2 menyukai Lilian. Maka dari itu Hunter memiliki sifat yang seperti itu, ia memendam kekecewaan yang mendalam dalam keluarganya. |
|
|
| Deleted User | Sep 13 2011, 04:28 PM Post #2 |
|
Deleted User
|
RP Regis Hunter dalam perjalanan dari bandara menuju rumahnya, sesungguhnya ia tidak ingin pulang ke rumah. Ia ingin segera kembali ke apartemnya, tapi sudah berjanji dengan ibunya untuk menginap di rumah setelah ia pulang dari Paris. Ia merasa tidak nyaman berada di rumah orang yang ia tidak sukai, ia memang tidak menyukai ayah tirinya itu. Ia merasa bahwa ayah tirinya itu yang membuat ia kehilangan ayahnya, terlebih-lebih ia tahu betul masa lalu hubungan ayah tirinya, ibunya dan tentu ayah kandungnya juga. Maka dari itu Hunter tidak menyukai ayah tirinya. Ibunya berusaha agar mendekatkan ia dengan ayahnya itu dan hal itu yang membuat Hunter semakin tidak nyaman tinggal di rumah itu. Taxi yang ia tumpangi kini sudah dekat dengan rumahnya itu, taxi itu kemudina menepi dekat depan pagar rumah yang cukup mewah. Pagar yang tingginya kira-kira 1 meter, Hunter berjalan menjauh dari taxi membuka pagar tersebut. Dilihatnya dari jauh seorang wanita yang sudah berdiri di muka pintu dan disampingnya berdiri juga seorang pria yang tidak ia sukai. Kenapa pria itu selalu bersikap seolah-olah menyayangi ia dan ibunya, padahal pastinya pria itu tidak menyukai dirinya apalagi menyayangi dirinya. Semua yang dikatak pria itu pasti bualan semata. “Bagaimana kabarmu nak?” sapa ibunya seraya meraih Hunter ke dalam pelukanya. “Seperti yang ibu lihat, ibu sendiri bagaimana baik? Wiliam tidak berbuat apa-apa pada ibu kan?” Hunter mengalihkan padangannya kepada Wilian dengan tatap penuh kebencian. “Tidak Sopan Hunter, bagaimana kamu harus menghormati ayah barumu itu. Ayo minta maaf…” Tanpa berkata-kata apa-apa lagi Hunter langsung saja berjalan melewati Wiliam berjalan menuju kamar tidurnya. “Maafkan Hunter Will.” “Tidak apa-apa Lilian, aku bisa mengerti perasaan Hunter.” “Tapi ini kan sudah lama berlalu, kenapa Hunter masih saja bersikeras seperti itu. Tidak mau menerima kau sebagai ayah tirinya.” Dari kamar Hunter mendengar pembicaraan mereka berdua, ia tahu sikap dingin dan kurang ajarnya itu akan menyiksa ibunya. Tapi ia masih tidak mampu menghilangkan rasa kebenciannya pada pria yang telah merebut ibunya dari ayahnya yang sudah meninggal itu. Ia merasa bahwa pria itu telah memaksa ibunya agar mau menerima pria itu sebagai suami barunya. Walau menurut ibunya itu adalah permintaan almarhum ayahnya, ia tetap saja tidak percaya. Rasa lelah sehabis perjalanan dari Paris makin melanda dirinya, mungkin seharusnya ia tidak pulang ke rumah orang yang ia benci. Lebih baik ia kembali ke apartemen miliknya dan melihat bagaimana pekerjaan karyawannya. Maka ia mengangkat koper yang baru saja ia letak di samping ranjang lalu berjalan ke luar kamar dan kembali memasang topi kupluk yang ia lepaskan sesampai di rumah itu. “Kamu mau ke mana Hunter?” tanya Lilian yang mengetahui kebiasaan putranya satu itu. “Aku mau kembali ke apartemenku saja, lagi pula aku masih ada pekerjaan yang mesti aku kerjakan. Ibuku tahu kan kalau aku harus mempersiapkan acara fashion show yang akan di gelar satu hari lagi.” Jawab Hunter. “Tapi kamu sudah berjanji dengan ibu, kalau kamu mau menginap di rumah sepulang kamu dari Paris.” “Maaf bu, aku tidak bisa. Aku pamit…” Hunter berjalan meninggalkan ibunya dan ayah tirinya yang masih saja berdiri menemani ibunya. Hunter langsung memberhentikan taxi yang lewat di depannya, ia ingin segera pergi meninggalkan rumah yang ia benci itu dan kemudian bertemu dengan para rekan kerjanya serta melihat bagaimana perkerjaan mereka jika ia tidak ikut mendampingi mereka untuk mempersiapkan acara yang besar itu. Hunter langsung dengan cepat membayar supir taxi itu lalu dengan cepat memasuki apartemem miliknya yang sekaligus tempat kerjannya juga. Alangkah terkejutnya melihat para rekan kerjanya malah duduk dengan muka muram, Hunter tahu pasti ada seseuatu yang tidak beres jika wajah mereka nampak seperti itu. Mereka yang menyadari kehadiran Hunter ditengah-tengah mereka terkejut melihat kedatangan Hunter yang tiba-tiba. Memang Hunter sudah mengatakan kepada mereka bahwa ia tidak akan pulang ke apartemenya, ia ingin menemani ibunya terlebih dahulu. Lagi-lagi Hunter dihadapkan dengan keadaan yang tidak mengenakan, rekan kerjanya nampaknya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ia berikan kepada mereka, padahal satu hari lagi acara besar ia dan rekan kerjanya akan dilaksanakan. Kali ini Hunter tidak dapat membendung amarahnya lagi, langsung saja ia meneriaki para rekan kerja. Ia sudah merasa begitu lelah selepas kembali dari Paris menyaksikan acara fashion show milik pesaingnya. Selama ia disana pun ia tidak berhenti berkerja, ia selalu mengirimi rancangan baju miliknya melalui email kepada rekan kerjanya. Jadi seharusnya rekan-rekannya yang berada di Toshi Haku bisa mengerjakan perkerjaan itu tanpa ia harus mendampingi mereka. “Maafkan kami Hunt,” ucap salah satu dari mereka yang berambut cepak. “Aku tidak mengerti kenapa kalian selalu saja begini, kalau aku tinggal pergi, jujur aku sudah lelah dengan tingkah laku kalian semua. Kalau kalian masih ingin bekerja denganku jangan seperti ini terus, jujur aku juga lelah jika harus memarahi kalian terus menerus.” Tidak ada satu pun yang berani menjawab perkataan Hunter barusan, mereka tahu bahwa ini murni kesalahan mereka yang terlalu mengandalkan Hunter terus menerus. Mereka harus mampu bisa bekerja tanpa Hunter atau pun dengan Hunter. “Baiklah ayo kita kerjakan bersama-sama, kita masih punya waktu satu hari lagi,” nada bicara Hunter mulai merendah. “Baik,” mereka menjawab dengan kompak. |
|
|
| Ziven Egan | Sep 13 2011, 10:11 PM Post #3 |
![]()
Wakil Kepala Negara
|
Approved |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Approved registration · Next Topic » |


(c) to the rightful owner






2:29 AM Jul 12