| Daily News | ||
|---|---|---|
Toshi Haku Opreg 07 April - 14 April |
(c) to the rightful owner
| |
| Toshi Haku Board | ||
|---|---|---|
| Selamat datang di Toshi Haku. Toshi Haku adalah forum roleplay berbasis kehidupan sehari-hari di sebuah negara kota fiksi di kawasan Asia Timur. Buat dan daftarkan karakter kalian di sini dan jadilah bagian dari warga Toshi Haku. Jangan lupa baca peraturan dan cara bermain di sini terlebih dahulu. Salam, Crux corvus |
| Veer Siddharta | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Jul 17 2010, 11:05 PM (135 Views) | |
| Veer Siddharta | Jul 17 2010, 11:05 PM Post #1 |
|
Nama: Veer Siddharta Tanggal lahir: 25 Desember 1982 Umur: 29 tahun Gender: Pria Pekerjaan: Dokter gigi (full time) Deskripsi character: rambut pendek hitam potongan klasik, mata coklat gelap, kulit tan, orang hindi namun ada turunan Inggris dari neneknya. Tinggi/Berat: 185cm/79kg Sifat: tipe pengamat tidak banyak bicara murah senyum suka memendam perasaan dan emosi tidak bisa marah (memilih diam dan pergi dari TKP) gentle, terutama pada wanita soal cinta, dia tipe yang menunggu 'momen yang pas' untuk mengatakan. Kelemahan: cewek yang lagi nangis makanan dari sapi (baginya, sapi adalah dewa) orang-orang bergigi berantakan (bawaannya pengen nyongkel) Kelebihan: kelewatan sabarnya, jadi bisa dijadikan tempat curhat suaranya bagus sayang anak kecil Status: perjaka tua Visualisasi: Jugal Hansraj |
![]() |
|
| Shinichi Oda | Jul 18 2010, 08:18 PM Post #2 |
|
Tolong dijelaskan lagi kelemahan sifatnya bila bertemu perempuan menangis. |
![]() |
|
| Veer Siddharta | Aug 1 2010, 08:24 PM Post #3 |
|
Maksudnya.. Kalau ia bertengkar dengan wanita dan wanita itu menangis, Veer pasti mengalah dan minta maaf. Kalau yang menangis orang tak dikenal, Veer akan tetap disana sampai si wanita berhenti menangis. Tipikal cowok di film India gitu ![]() Btw, ini RP Regist nya. Setting : sekitar 2-3 minggu sebelum Veer pergi ke Toshi Haku Demi Ganesha, Veer bersyukur ia tidak menghidupkan webcam-nya ketika bertukar pesan dengan Angie barusan. Beberapa kali ia menghempaskan kening ke bantalan kursi putarnya. Malu, jelas saja. Walau umur sudah hampir kepala tiga, Veer selalu begini kalau sudah berurusan dengan wanita yang menarik perhatiannya. Salah tingkah. Bicara (atau dalam kasus barusan, mengetik) dahulu baru terpikir betapa gombal kalimat yang diutarakannya. Tidak bisa mengelak kalau sudah 'ditembak' dengan kalimat-kalimat yang lugas. Akibatnya, bisa ditebak. Karena Veer bodoh dalam hal mengalihkan perhatian dan pembicaraan, kecanggungannya pasti bisa terdeteksi oleh sang lawan bicara. Apalagi dalam kasusnya ini, oleh Angelica Jetsingh. Wanita yang satu tahun terakhir menemani hari-harinya di dunia maya karena perkenalan yang bisa dibilang karena permainan takdir. Entah sejak kapan mereka bertukar e-mail dan alamat messanger. Tiba-tiba saja Veer merasa ada yang hilang kalau satu hari saja tidak mengobrol dengan pemilik bola mata indah itu. Oh, apa tadi janjinya pada si cantik Angie? "Hmm, oke. Mari kita minta cuti.." Veer mendesis pada dirinya sendiri. Masih di ruang prakteknya yang penuh sesak dengan kursi periksa gigi, lemari obat dan berbagai tetek bengek lainnya, Veer menyambar gagang telepon dan menghubungi seseorang yang terpisah gedung dengannya. Tentu saja bagian administrasi rumah sakit. Setelah beberapa kali tut-tut-tut, suara seorang wanita menjawab juga, "ah, nyonya Sharma. Ada yang ingin kubicarakan--eh? Sebentar, jangan potong aku--apa? Oh, well, baiklah.. Aku diam.." Veer menghela nafas berat karena suara sopran antusias memenuhi gendang telinganya. Ia bersikeras agar Veer diam dan mendengarkannya, plus ocehan mengenai kenapa sedari tadi dokter gigi muda itu tidak mengangkat telepon darinya. Veer sendiri baru sadar kalau ia menggantung gagang telepon selama mengobrol dengan Angie via messanger. Kembali mendengarkan ocehan si tua Sharma, bola mata Veer sedikit banyak membulat. Kesimpulan dari alasan ketua administrasi itu menelepon adalah : Veer, kau tahu Toshi Haku? Nah, rumah sakit di negara itu sedang butuh tenaga dokter, termasuk dokter gigi. Berminat dimutasi? Dan tentu saja, Veer Siddharta menjawab antusias, "Betulkah? Oh, aku benar-benar menyayangi Anda karena sudah memberitahu aku berita ini, nyonya Sharma. Iya, aku mengerti. Aku akan menghadap dokter kepala supaya surat keputusan bisa turun secepatnya. Apa? Tidak, tentu saja aku tidak keberatan. Ya.. Tentu saja aku ada.." vakum sebentar. Veer tanpa sadar kembali membayangkan Angie. Sambil memainkan pena di tangan kirinya, ia menyambung ucapannya yang terputus, "..teman. Ya, aku ada teman di sana, tak perlu khawatir. Terima kasih, nyonya Sharma." diletakkannya kembali gagang telpon pada tempatnya. Tersenyum, Veer langsung menghidupkan kembali laptopnya, menyambungkannya dengan wi-fi, membuka google chrome, dan segera mengetikkan surat elektronik untuk Angie.
SENT Veer tersenyum lebar. Perpaduan antara perasaan berbuncah karena senang, dan puas karena ia akan berada di tempat lain dalam jangka waktu cukup lama. Sudah saatnya keluar dari Mumbay. Dan mungkin, sudah saatnya memulai sesuatu yang baru di tempat baru.. Bersama seorang teman baru. Edited by Veer Siddharta, Aug 1 2010, 08:39 PM.
|
![]() |
|
| Crux Corvus | Aug 2 2010, 01:47 PM Post #4 |
![]()
Kepala Negara
|
Approved |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Approved registration · Next Topic » |


(c) to the rightful owner





Kabari aku soal jadwal penerbanganmu. Kita bertemu di Toshi Haku.

2:00 AM Jul 12