| < Selamat datang di forum RPG Asgar, dengan tema sedikit fantasi, menceritakan tentang Manusia, Malaikat, dan Iblis yang berbaur menjadi satu dalam suatu komunitas dan memiliki tugas masing-masing. Selanjutnya baca di sini |
Time Line Bulan : Desember Minggu : Minggu ke-III Musim : Musim Dingin (Desember - Februari) Musim dingin adalah salah satu musim yang paling digemari dan disegani dalam waktu bersamaan di kota Cryel. Terkadang salju turun dengan deras, dan terkadang salju turun dengan tenang. Jangan lupa untuk memakai jaket, syal atau mantelmu dengan berlapis dan menyalakan heater ruangan dirumahmu karena suhu bisa mencapai 5°F sewaktu-waktu. |
| AFFILASI : |
| Selamat datang di Asgar RPG Forum. Silahkan lihat2 dulu di forum ini Forum ini adalah forum RPG berbasis teks dan cerita Original, dengan tema hubungan antara Iblis, Malaikatl, dan juga Manusia. Disini menggunakan tema sedikit fantasy. Dengan setting dimana ketiga makhluk Tuhan hidup bersama tanpa mengetahui wujud asli masing-masing, RP akan berjalan dengan teratur dan bebas bagaikan sebuah kota. Silahkan Register jika berminat bergabung dalam forum RPG ini. Register!! Jika kau sudah memiliki akun/ID silahkan Log in dengan akun anda disini : |
| [Private] Hang Over [Rate : 17] | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: May 1 2010, 06:36 PM (597 Views) | |
| Post #1 May 1 2010, 06:36 PM | Edlyn Vladlen |
|
Time line : minggu pertama, hari senin, jam 8.00 Pagi. Awal hari selalu membuatnya meringis. Dia benci pagi. Sangat. Sinar matahari membuat kepalanya berdenyut kesakitan. Terlebih sekarang ketika dia harus kembali ke tempatnya bekerja. Mengurusi banyak hal berkaitan dengan manusia-manusia tolol bidaknya sebagai kamuflase. Dia benci pagi. Dan akan selalu begitu. Gedung tempatnya bekerja selalu membuatnya merasa sebal setengah mati. Terlalu kontras dengan sekelilingnya yang muram dan penuh debu, gedung parlemen tampak menjulang tinggi, kokoh dan kotor. Jika pagi adalah yang dibencinya maka manusia lah yang begitu dikutuknya. Mereka menjijikkan, lemah dan terlalu tolol untuk dipermainkan. Senyum-senyum yang mereka tampilkan palsu. Tentu saja dia tak bisa di bohongi. Pikiran-pikiran mereka sampai dengan tepat di bawah kendali pikiran Edlyn. Lantas apa berharganya mereka bagi Lucifer? Apa sebenarnya rencana ayahnya itu bagi bidak-bidak tak berotak ini? Itu merupakan misteri tersendiri. Edlyn berjalan ke kantornya. Melempar tas tangannya, duduk di kursi dan menelpon sekertarisnya. "Panggil orang baru itu ke sini," katanya sembari mengunyah permen karet. |
Satan
|
|
![]() |
| Post #2 May 1 2010, 06:57 PM | Maxim Revka L. |
|
The mahogany door creaked, opened slightly. There, a brunette young man, looking nervous as hell peeking inside the wide office of his boss. His deep sea eyes wandering here and there before caught a vision of an ivory haired man. He was chewing something inside his mouth. Nervously, Maxim stepped his foot covered sneaker on a granite floor. After he closed the big door, he turn to face his boss with confused eyes. "Pardon for the interruption, Sir. Did you call for me?" he nervously asked. His eyes wandering on the floor, unable to meet his boss' one. He is still raw meat on Parliament Building, so it's normal to him to nervous. |
![]()
Archangel Remiel / Ramiel
|
|
![]() |
| Post #3 May 1 2010, 08:49 PM | Edlyn Vladlen |
|
Berkabut. Tak bisa diraba. Ada apa dengan kepalanya? "Maaf, mengganggu, pak. apakah anda memanggil saya?" Kedatangan si orang baru membuatnya kesal. Ekspresi itu serta gerak tubuh yang sama memuakkannya seperti manusia pada umumnya membuatnya mendecapkan lidah. Dicobanya untuk meraba pikiran satu-satunya makhluk dalam ruangan yang sama sepertinya itu. Tetap berkabut. Tak bisa diraba. Ada apa dengan kepalanya? Lantas rasa penasaran membuatnya menampilkan ekspresi lain di wajah itu. Keras, dingin, kemudian penasaran yang dilambangkan dengan alis bertautan di bawah poni rambutnya yang hitam pekat. Masih mengunyah permen karetnya, dia tersenyum dingin. "Apakah itu salam terbaikmu, Sir Maxim Revka?" tukasnya tajam masih tersenyum. Dilambaikannya tangan itu serta merta di hadapannya. "Duduk," perintahnya. Dinaikkannya sepasang kaki di meja kerja, mendecapkan lidah ketika berkas di hadapannya terbuka dan mendapati nama Maxim Revka L beserta pas fotonya terpampang jelas. Mahasiswa. Sembilan belas tahun. Magang. Manusia. Matanya yang hitam menatap jauh ke dalam mata berwarna biru laut milik manusia itu. Lagi, dia coba menembus pikirannya. Rintangan. Tembok menjulang yang tinggi. Sengatan kecil perlawanan. Bukan jenis yang terlalu kuatnya hingga dia harus menggerakkan jemarinya secara intens untuk mendapatkan kekuatan yang lebih tapi jelas, manusia ini berbeda dari kaumnya. "Anggap saja ini wawancara kerjamu, Maxim," ujarnya tanpa menghiraukan tata krama palsu manusia. Dia bangkit berdiri, memandang penuh rasa penasaran pada bidak itu. "Dan kau bisa memberitahukanku siapa kau. Motivasimu, kualifikasimu dan... tentu saja sedikit mengenai latar belakangmu." Senyumnya mengembang tipis. Frustasi yang pertama kali membuatnya bergeming dan aliran perlawanan pikiran bidak itu sepenuhnya Edlyn abaikan. Dia hanya ingin memancing. Mengetahui lebih banyak, memberi ruang baginya untuk berkuasa atas manusia satu ini. Untuk menyibak kabut itu. Untuk meraba. Supaya jelas apa yang ada di dalam pikirannya. |
Satan
|
|
![]() |
| Post #4 May 1 2010, 09:14 PM | Maxim Revka L. |
|
"I'm sorry, sir. I'm still uni student, so it's kind of nervous to be interviewed directly," He smiled a bit, he tried to calm down, struggling his nervous as well. Maxim sighed, he obeyed silently, sitting obediently as his boss' says. His courage has rising again after the nervous station. His shoulder began to slumped a bit, his body became more tensed-less. His blue beads staring blankly on his boss' black one. "Yes sir," he take a long, deep breath before starting his-so-called-interview. "My name is Maxim Revka L, I'm 19 years old. My motivation mostly because I want new and different experiences," breath in, breath out. "I think I have achieved qualifications for an internship here." He narrowed his eyes, starting to get suspicious on every word he tells. "As for my background. I'm from different country, and yet, my parents forced me to have independent living and sent me here to have my own life. My everyday routine usually just studying at campus, and lately, my parents refuse to send me monthly cash, so I decided to internship while I'm studying my degrees," he said perfectly. |
![]()
Archangel Remiel / Ramiel
|
|
![]() |
| Post #5 May 2 2010, 01:30 PM | Edlyn Vladlen |
|
Baiklah. Itu bukan jawaban yang sepenuhnya diinginkan oleh Edlyn. Jawaban yang jujur, yang tidak memiliki sekat dan jurang pemisah bernama dusta. Dia memaksakan senyum itu untuk tampil lebih lama lagi. Berdiri, berjalan, mencoba memikirkan hal apa yang bisa menarik kebenaran yang sebenarnya dari benak terdalam orang baru itu. Katakanlah ini merupakan langkah frustasi demi mengetahui siapa kawan dan lawan. Salahkan ayahnya. Lucifer yang agung, yang membuatnya harus bersusah payah dalam terjebak dalam dimensi ruang dan waktu seperti bidak-bidak brengsek itu. Lalu dia yang tinggal disini harus berhati-hati. Karena jelas surga tidak membiarkan hal ini berjalan semulus yang ayahnya rencanakan. Edlyn memutar jemarinya sembari membayangkan kunci ruangannya berputar. Tatapannya masih pada orang baru itu. Maxim katanya, batin Edlyn. Kedua bola mata itu menatap tajam sepasang mata biru laut yang teduh memuakkan. "Baiklah. Itu jelas bukan yang paling sempurna," desisnya, jemarinya yang jenjang menelusuri lekuk hidung Maxim yang mancung menuju leher lalu berputar-putar di dadanya. Tidak pernah rupanya, batin Edlyn penuh kemenangan. "Lantas keahlian apa yang kau punyai?" |
Satan
|
|
![]() |
| Post #6 May 2 2010, 01:53 PM | Maxim Revka L. |
|
W-what?! Now this man doing something unnecessary for a freaking interview. He traced his pianist finger on Maxim's nose and then his slender neck. The most embarrassing part is his finger circling itself on Maxim's chest. Maxim, being a patient man, tries to hold his shock and urge to push the man away(and surprisingly, urge to moan). He's still on an interview, he can't do something against his boss. He can't lost to this interview either. So he must not lost his cool away. He take deep breath again, "even though I'm a guy, I'm pretty diligent to do something. As for my abilities, I can speak Greek, German, Spanish, Italian and a bit France. And I have good grade at math too." Calm down, Maxim. This gonna end soon. |
![]()
Archangel Remiel / Ramiel
|
|
![]() |
| Post #7 May 2 2010, 04:14 PM | Edlyn Vladlen |
|
Dia tersenyum. Mainannya ini membuat minatnya bangkit seketika. dimainkannya perlahan jemari itu. "Wah, wah, kau tentu berbakat," katanya menyipitkan mata menyisipkan jari-jarinya ke balik kemeja Maxim. "Sangat berbakat." Sementara wajahnya mendekat. Dicobanya lagi menekan Maxim. Kembali menembus kabut yang menyelimuti pikiran itu. Dirabanya perlahan sampai ke penjuru sisi. Tetap tidak ditemukannya apapun. Dia kesal. Sangat. Karena ini kali pertamanya firasat itu salah. Firasat yang mengatakan bahwa Maxim menyembunyikan sesuatu darinya. Juga berita mengenai orang ini yang dilaporkan oleh bawahannya. Mereka harus di beri pelajaran tentu, desis Edlyn membatin. Tapi sebelumnya dia menuntut sesuatu dari anak muda di hadapannya itu. Senyumnya mengembang sementara jemari itu kembali bergerak semakin turun ke bawah menyusuri garis khayal yang membagi tubuh itu simetris. Dada. Perut. Tungkai. Naik lagi ke atas. "Kau bisa mengajariku, kan?" nada suaranya berubah sementara wajah cantiknya mendekati Maxim, mencium pipinya. "Sir Maxim?" |
Satan
|
|
![]() |
| Post #8 May 2 2010, 04:47 PM | Maxim Revka L. |
|
"Wah, wah, kau tentu berbakat," Maxim's thin lips pulled into a small smile, appreciating the praise he got, but of course he didn't appreciating his boss behavior like tracing his finger on his human body. "I thank you, sir," he answered. His boss' fingers 'walking' more seductively, caressing his torso and abdomen. Truth to be told, he was so uncomfortable with this. Are all of employee must do this to pass the interview?! "Kau bisa mengajariku, kan?" nada suaranya berubah sementara wajah cantiknya mendekati Maxim, mencium pipinya. "Sir Maxim?" Shock. That was something plastered on Maxim's face. His damn boss was kissed his cheek. I repeat that KISSED HIS DAMN VIRGIN CHEEK! Maxim's eyes widened(of course), staring at his boss with unbelievable expression. Be cool, you are an angel, you can fight your human urge to push him. Be stoned face, don't show any weird expression, show human expression and behaves. "I-I...I can teach you sir.." he tried his best to sound like human in this situation as well. |
![]()
Archangel Remiel / Ramiel
|
|
![]() |
| Post #9 May 4 2010, 10:51 AM | Edlyn Vladlen |
|
"I-I...I can teach you sir.." Senyum sinis itu muncul di wajahnya. "Bagaimana kau mengeja 'aku menginginkanmu' dalam spanyol?" dia menancapkan kuku-kukunya ketika mencengkram kerah baju Maxim. Rasa frustasinya mendapatkan balasan Ya. Balasan. Di tatapnya dalam-dalam kedua bola mata kebiruan itu, eskpresinya berubah tamak ketika dia tidak menemukan emosi yang membuatnya mencela maxim lebih jauh lagi. Di tekannya atmosfer dalam ruangan, berusaha sekeras mungkin mengurung keberadaan mereka berdua dalam sebuah sangkar tak kasat mata. Barangkali terlalu cepat. Tapi dia tidak peduli. Tangannya kemudian menelusup ke balik kemeja Maxim. Sensasi menggelitik membuatnya terkekeh geli ketika kulitnya menyentuh kulit Maxim. Diciumnya perlahan sudut bibir Maxim, sementara tangannya semakin jauh berkelana di balik bajunya. "Io so che mi vuoi" |
Satan
|
|
![]() |
| Post #10 May 4 2010, 01:41 PM | Maxim Revka L. |
|
Every second, every touch from his to be boss making him feels uneasy. His hand sliding itself inside his button-up shirt while he kissed the corner of Maxim's lips. He must fight back, being a human. But that means no worthy job like secretary for him. "Bagaimana kau mengeja 'aku menginginkanmu' dalam spanyol?" Maxim gasped a bit when he feels the mayor's finger on his torso. Of course there's no one have touch him like that. It's taboo for him. "Io so che mi vuoi" "T-te quiero... Sir" he answered, trying to hold himself on the edge. What's wrong with this interview?! |
![]()
Archangel Remiel / Ramiel
|
|
![]() |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Free RP · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
2:18 AM Jul 12
|
Auspice Zeta created by sakuragi-kun of the ZBTZ








2:18 AM Jul 12